Aku
Selalu menjadi
Sebuah tanggul
Di mata dia
Yang bagiku
Harusnya menjadi
Tangguh
Aku
Selalu menjadi
Sebuah tanggul
Di mata dia
Yang bagiku
Harusnya menjadi
Tangguh
Tapi aku telah berjanji
Tidak akan melepaskan
Jika belum menatap
Merengkuh
Mengumpat
Mematikan,
perasaann.
Aku perlu merendahkan gengsiku
Agar bisa kulimpahkan rindu ini pada sajakku
Untuk mengawetkan kenangan denganmu
Tapi otakku terlalu kaku
Memilih menyimpan rupamu
Dalam bisuku
Ingin sekali membuat sajak tentangmu
Lalu ku pamerkan, dan berkata "hei, inilah bukti rinduku"
Rindu yang selalu datang mengganggu
Jadi aku ingin sekali menuliskan kamu
Karena rindu ini seperti setan.
Membelenggu otakku
Membakukan hatikku
Yang selalu akan berpulang padamu.
Yah, pada akhirnya;
" hei, ini sajakku. Bukti rinduku padamu, Sialan "
seperti merindukan masa-masa sunyi itu;
dimana kagum tak tersampai
memuja tiada tersadar
impian tak tergapai
rasa yang tiada kadar
cinta tak terurai
dimana lebih memilih diam
sementara manusia itu berputar mengendarai arusnya
tak bergerak, hanya mengamatinya
lalu terbawa arusnya dengan bungkam
namun masa itu telah berlalu
aku telah memiliki inginku
tapi, harus kuapakan inginku nan sendu ini?
dan semuanya menghadang, tidak. dia tidak benar. Tidak, dia tidak pantas.
Wahai otak-otak dikepala kamu-kamu yang masih berkerja, kalian kira aku tidak pernah berfikir seperti itu?
Tapi otakku telah berkeja lebih keras daripada kamu kamu yang hanya menjadi penonton.
Aku, mungkin, tahu apa yang benar dan pantas untuk keberlangsungan ceritaku.