Selasa, 22 September 2015

Langkah indahnya merambat ke tengah sungai itu
Begitu jernih, jeritnya
Kaki itu mulai menyentuh air
Merendam hingga kakinya tak lagi terlihat indah
Sudah buruk rupa, seperti orang yang disuapi garam terus-terusan
Begitu membosankan, rutuknya
Lalu ia membawa kaki itu pergi sejauh-jauh mungkin dari sungai polos itu
Peduli setan, lagian, sungai mana yang bisa sadar bahwa ia sedang dimanfaatkan oleh otak-otak kotor itu?

Senin, 14 September 2015

Berbicaralah...
Kata-kata yang melimpah dari mulutmu,
Ialah butiran emas yang meluncur dari surga pikiramu.
Katakanlah..
Mereka menanti suaramu yang akan meliuk-liukan nada-nada indah diiringi dengan kalimat-kalimat yang akan menenangkan jiwa mereka.
Ribuan jiwa..
Bicaralah..
Karena aku telah mati
Dan aku, butuh bangun dari kematian mencekam itu dengan kalimatmu.

Sabtu, 05 September 2015

Fools Gold - One Direction

I'm like a crow on a wire
You're the shining distraction that makes me fly, oh
I'm like a boat on the water
You're the rays on the waves that calm my mind
Oh, every time
But I know in my heart
You're not a constant star
And, yeah, I let you use me from the day that we first met
But I'm not done yet
Falling for your fool's gold
And I knew that you turned it on for everyone you met
But I don't regret
Falling for your fool's gold
I'm the first to admit that I'm reckless
I get lost in your beauty and I can't see
Two feet in front of me
And I know in my heart
You're just a moving part
And, yeah, I let you use me from the day that we first met
But I'm not done yet
Falling for your fool's gold
And I knew that you turned it on for everyone you met
But I don't regret
Falling for your fool's gold
Yeah, I know your love's not real
That's not the way it feels
That's not the way you feel
And, yes, I let you use me from the day that we first met
But I'm not done yet
Falling for your fool's gold
And I knew that you turned it on for everyone you met
But I don't regret
Falling for your fool's gold
--
Is2g this is the best poetic-song of 1D ever for god saaakeeeeee!!!!

Kamis, 27 Agustus 2015

Itukah matahari?

Pagi itu, matahari berjalan didepanku.
Ia mengeluarkan seluruh energinya,
Hangat,
Panas,
Tenang.
Baik sekali ia mengerahkan tenaganya untuk menarik perhatianku.
Tapi hangat itu malah semakin menegangkanku, jadi aku hanya terbungkam
Panas juga membenciku, jadi aku menunduk menyembunyikan wajahku
Dan tenang... Sial, energinya tidak berfungsi padaku.
Mengacaukanku.
Berdebar dan nafas terengah. Apa yang dilakukannya?!
Jadi aku hanya diam,
Memasang wajah muram dan murka
Tidak akan aku ucapkan terimakasih
Kepada dia yang memutar balikkan kehidupan damaiku.
Hah
--
27/08/15

Senin, 24 Agustus 2015

Senin, 10 Agustus 2015

They..

He want to fly..
When she was choose to fall
He want the wings
While she want the blink
He got the edge of his desire
And she was in the middle of fire
He lost in his madness
But she want those madness
She got the cage
While he want to caged
She was the magic
But he love reality
And somehow, they lost in their direction
Is this the perfect time,
To make them collide?
--
idgaf for grammar seriously

Minggu, 09 Agustus 2015

Like a Fool


 -------


“and you have cursed me when there no one left to blame
And I haved love you anyway”


Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah duduk didepan bar dan menutup telinga karena suara-suara disini tak kalah seperti suara-suara dineraka.
Sudahkah aku kenereka?
Tentu saja, belum.
“1 2 3, 123 drinkkkk! Owwwww!”
Tapi jika kau bertanya sudahkah aku melihat manusia nereka, jawabannya, yah. Manusia setengah setan didepanku ini.
“not anymore, boobear, you’ll never get this” aku mendesis tajam seraya menahan tangannya yang akan mengantarkan botol cairan alkohol itu pada mulutnya. Kau tahu, botol sialan yang bertengger ditangannya itu merupakan botol yang ke-enam. Sudah kukatakan, dia manusia neraka.
Melihat aku yang mengeluarkan seluruh tenagaku untuk menahan tangan besarnya itu, ia menaikkan sebelah alisnya, menurunkan botol itu ke meja “ayolahhh!”
“tidak, please Lou, bisakah sekali ini kau menurutiku saja? Besok hari senin, dan aku tidak mau terlambat karena ulah gilamu ini”
Tanpa kuduga, ia melemparkan botol bir itu ke lantai membuat semua orang menjerit seperti baru saja dipukul dengan tongkat api neraka. Nah, berarti Louis sudah menjadi setan sepenuhnya
“aku selalu menurutimu! Dan kau bilang sekali ini? dengar, aku benar-benar muak melihatmu yang selalu mengaturku seperti ini, aku bukan anak kecil dan lagi, kau bukan ibuku!”
“ibumu sudah meninggalkanmu dan aku dengan pesan—“ aku tak berani melanjutkan perkataanku, Louis benar- benar sudah berubah menjadi setan. Baiklah, aku menyesal mengatakan ini karena aku tahu dia tidak mau mengungkit masa lalunya, tapi, sumpah demi apapun yang menguasai bumi, aku hanya ingin menjauhkannya dari neraka disini.
Seperti yang aku duga, bisa kulihat sorotan tajam dimatanya yang siap mengunciku hingga nantinya ia akan melepaskan amarahnya; “Fine, damned Knightley”
Oh, hanya itu saja?
watch your tongue Louis!”
Ia terkekeh “what, Keira? I can say or do whatever I want. I can even raped you right here”
“son of shit”
Sial. Dia selalu menang dengan perkataan-perkataan gilanya itu. terang saja, aku tidak pernah memenangkan perdebatannya dengannya karena mulutnya yang tak ubah seperti cewek remaja itu. aku memilih untuk pulang dan membiarkan dia meliar di tempat terkutuk itu.
Terserah.
Untuk pertama kalinya, terserah.
Aku tidak bisa menajaga pesan ibunya.
Masa bodoh. Sudah dua tahun aku berusaha untuk melindunginya dari neraka itu dan kau lihat bagaimana hasilnya? Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya hingga aku selalu berakhir dengan bertengkar dengannya persis seperti saat ini.
Bedanya, dulu aku akan tetap menahan keegoisanku untuk menunggu dan menjaganya dari sana walupun, yah, tidak berhasil. Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, ingat?
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak akan memperdulikannya lagi, selamanya.
Sebut saja aku anak bodoh yang terjebak dalam perjanjian antara ibu kekasihku sedangkan anak dari ibu itu sendiri tidak memperdulikan kematian ibunya ataupun aku sendiri.
Ketika ibunya pergi, aku mulai membentuk sebuah perjanjian dimana ia tidak akan pergi ke tempat neraka itu. dan kau tahu apa? Ia menyetujuinya.
Oh kau tahu satulagi apa?
Ia melanggarnya.
Setiap perjanjian yang telah kami sepakatinya, ia selalu melanggar.
Dan aku tetap menempel ditubuhnya tak peduli bagaimana susahnya perjuangan agar ia bisa menururti permintaanku.
Tak jarang ia mengutukku ketika aku bersikeras untuk membawanya menjauh dari tempat mabuk-mabukkan itu. bersyukurlah umpatan dan kutukan yang kutelan bulat-bulat selama dua tahun terakhir ini tidak dapat membuat mentalku melemah. Ajaibnya, aku begitu kebal dengan apapun macam kata-kata kasar yang dilontarkannya.
Karena jujur saja, ia selalu mabuk ketika melakukannya.
Dan segala kata kasar itu, aku anggap sebuah tanda pedulinya kepadaku.
Dan aku selalu mencintainya seperti orang bodoh.
Bisa kulihat ia mengejarku dengan langkah terseok-seoknya persis seperti zombie ditambah dengan matanya yang memerah dan mulutnya yang membuka-menutup tak jelas.
Aku sudah berada sepuluh langkah jauh didepannya. Dan jika dalam keadaan ini, tentu saja satu langkah bagiku merupakan tiga langkah baginya. Bagus sekali, karena aku bisa kabur dan menghilang dari dirinya.
Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Pegang janjiku. Karena jika aku masih bertemu dengannya, aku bersumpah akan mati ditabrak mobil-gila.
Serius, aku lebih memilih mati saja mengikuti ibunya daripada harus menghadapinya lebih lama lagi. Aku sudah muak dengan hal bodoh untuk melayaninya ini selama dua tahun yang berakhir pada aku yang menangis.
“Ke.. i.. raaa!!”
Aku melebarkan langkahku. Sialan, aku menoleh kebelakang dan dapat melihat ia berada tak jauh dibelakangku, tinggal dua langkah kaki orang normal saja ia sudah bisa mencengkram badanku dan membiarkan dia menang.
Kali ini tidak. Tidak akan.
Aku harus menang darinya. Aku bukan lagi anak bodoh yang mencintainya seperti beberapa menit yang lalu ini. bukan lagi. Pegang kata-kataku.
“Keira please! A.. aku moo..hoon!”
Siapa peduli?
“serius.. Keira.. aku.. tidak mabuk.. hentikan.. jalanmu..”
Bodoh. Siapapun tahu kau sedang mabuk. Aku semakin melebarkan langkah kakiku menjauhinya
“sialan.. serius! Keira! Beerheentii!!”
“KEIRA SIALAN!”
Oh baiklah, aku tidak akan menelan kata-kata kasarnya bulat-bulat lagi. Maka aku berhenti dan berbalik berjalan menuju kearahnya yang tampak tertatih itu. dengan senyum miring aku mendekatinya dan meletakkan kedua tanganku dikedua sisi wajahnya.
Jika saja ia masih Louis Tomlinson si bocah tengik dari Doncaster. Aku pasti akan merasa beruntung memilikinya. Bukan Louis Tomlinson si anak setan di New York ini. dunia memang memutar balikkan kepribadiannya.
Setan.
“ada apa, hm?” Tanyaku dengan nada sehalus dan sekasihan mungkin mengingat wajahnya yang tampak jauh mengerikan daripada zombie jika dilihat sedekat ini. mungkin ini rupa wajah setan yang sebenarnya.
“ayo.. kiita pulangg” apakah seperti ini cara setan berbicara?
“pulang, hm? pulang kemana Louie? Bukankah rumahmu ditempat sialan itu?” aku mengarahkan tatapanku kebelakang wajahnya dimana tempat neraka itu tanpa berkerlap-kerlip dan bising.
“jangan menghidupkan api lagi, Keira, akuu.. telah beerbaik hatii untuk membawa kita pulang”
Aku tersenyum lebar dan melepaskan kedua tanganku dari wajahnya. Menyimpannya sebentar di kedua saku celanaku dan sedetik selanjutnya aku mengangkat sebelah tanganku dan menampar wajah setan itu. Oh, mengejutkan sekali wajahnya dingin bukannya panas seperti bagaimana setan biasanya.
Aku tidak mengerti apakah setan telah berpindah kepadaku atau apa, tapi yang kulihat setelah kejadian itu adalah pipinya mengeluarkan darah. Apakah benar-benar aku yang menampar wajah mengerikan itu?
“tak masalah, Kei. Kau bunuh aku sekalipun aku tak masalah”
“kau bisa membunuh dirimu sendiri”
Ia terkekeh lagi. Dan dengan tanpa otaknya, ia berjalan mendekat dan mengambil tanganku. Maafkan aku Tuhan karena telah melanggar janjiku beberapa menit yang lalu..
“kau tahu kenapa aku memilih tetap tenggelam di alkohol ini tak peduli seberapa berat kau melarangku?”
“tidak. Pergilah”
“—aku tetap ingin tenggelam dihalusinasi ini. aku ingin tetap kau berada disampingku, menatapku dengan khawatir. Kau selalu menampilkan sifat itu hanya ketika aku mabuk. Dan kerena itu, aku memilih untuk tetap mabuk. Aku ingin tetap kau disini, sosok pintar dan memesona yang selalu menatapku dengan khawatir—aku menyebutnya tatapan sayang— seperti wanita bodoh. Aku ingin tetap seperti ini. aku ingin memilikimu. Jika saja bisa aku akan memilih untuk meminum alkohol sialan itu hingga kau akan terus berada disekelilingku selamanya. Aku ingin ini semua tidak berakhir. Aku ingin kau tetap menjagaku, mencintai seonggok bajingan seperti aku ini. bertahanlah..“
Omong kosong.
“sayang sekali, uh Louis, kau telah menghabiskan satu penuh kantong kesempatan dan kau juga membuang waktuku saat ini. aku harus pulang karena aku tidak ingin terlambat besok. Dan oh, asal kau tahu kau bisa menikmati apartemenmu sendirian sekarang. Karena kesempatanmu bersamaku telah habis jadi aku akan meninggalkanmu so, bye”
Dengan tekad kuat aku meninggalkannya. Menjauhinya
Entah setan dari tubuh Louis telah berpindah kepadaku atau apa, tapi aku benar-benar tidak merasakan apapun saat ini.
Tidak meskipun ketika aku mendengar Louis yang berteriak menjerit dan suara hantaman seperti sebuah mobil balap gila telah menabraknya.
Aku tetap berjalan. Setidaknya aku benar-benar bisa hidup tanpa menjadi wanita bodoh 
Tanpanya.
---

9/8/15
08.12 pm
Lmao im so productive  in this weekend heh

Sabtu, 08 Agustus 2015

Chance (5)




Dokter Soode yang bertugas sebagai psikiater laki-laki ini seharusnya bisa saja menendangnya dengan membunuh atau memberi racun atau apa selain pil pereda kejiwaannya itu.
Tapi kondisi lelaki ini benar-benar menyedihkan.
Schizophrenia.
Remaja schizophrenic itu hanya menganggukkan kepalanya setelah apapun yang dikatakan ataupun diperintahkan oleh dr. Soode. Ia benar-benar lelah untuk mengkikuti omong kosong besar ini.
Awalnya ia datang dengan terseok ketempat ini dan dr. Soode menerimanya dengan tangan dan senyum yang lebar. Ia mulai menceritakan segala gangguan yang ada pada jiwanya. Ia menggesekkan kedua jarinya, semuanya telah diungkap oleh dr. Soode.
Keanehan pada jiwanya diungkapkan oleh dr. Soode bahwa ia mengidap Schizophrenia dengan simtom negatif yakni; Avoilotion, Alogia, Anhedonia, Afek datar dan Asosialitas. simtom cakupan dari negative ini melekat pada dirinya bersamaan. Semuanya. Cukup jarang dr. Soode menerima seorang schizophrenic dengan cakupan simtom yang begitu banyak hingga ini tak jarang dijadika alasan dr. Soode untuk mempertahankan pasiennya satu ini. ia tidak bisa membiarkan laki-laki ini menyerah akan gangguang jiwanya ini.
Penjelasan akan simtom negative yang menghinggap pada dirinya ini membuat kepalanya pening dan tak terasa ia menggigit keras lip ring hingga bibirnya berdarah
are you fine?”
Ia melepaskan gigitan sekitaran bibirnya itu dan menghela nafas
i am”
“don’t forget to take the pill, can you?”
“okay”
Sebersit senyum melintasi wajah riang dr. Soode. Tentu saja, ia tidak pernah merasakan penyakit mental dan ilusi gila ini seperti dirinya dan ia yakin dr. soode tidak memiliki apapun yang perlu difikirkan selain kemeranaan pasiennya.
Awal ia menyetujui konsultasi dengan psikiater ini, ia berharap gangguan ini akan menghilang meninggalkan dirinya. Tapi ilusinya melarang. Ia tidak pernah melakukan apapun yang dilontarkan dr. Soode. Tak juga ia pernah memakan pills itu kecuali jika wanita yang hanya bernyawa difikirannya itu membuatnya melakukannya.
Walaupun pada dasarnya, ia yang melakukan itu.

Avoilition merupakan salah satu dari simtom negative  dimana kondisi pasien yang tampak kurang energi dan kehilangan minat bahakan ketidakmampuan untuk tekun melakukan aktivitas rutin. Kekasihnya merupakan sosok pembenci belajar apalagi matematika dengan wajah yang suram dan mata yang selalu memandang kosong kedepan.
Didalam fikirannya ia memiliki kekasih seperti itu. tapi tidak.
Itu adalah dirinya sendiri.
Ia membenci belajar dan membenci segala aktivitas yang biasanya merupakan kerutinannya. Dan ia membuat kekasih difikirannya memiliki sifat seperti itu
Walaupun ia tetap pergi konsultasi psikiater. Tak ada satupun niatnya untuk menghilangkan gangguang jiwa itu. ia mencintai fantasi yang berkeliaran difikirannya ini. karena dengan begitu ia bisa memiliki kehidupan dimana hanya dirinya yang bisa menciptakan dan juga hanya dia yang bisa mengontrol apa yang terjadi pada kehidupan difikirannya. Ia bisa hidup seperti yang ia inginkan.
Hanya difikirannya.
Laki-laki itu selalu berfikir ketika kau dicap dengan gangguan jiwa, maka kau berbeda dari yang lain. Perbedaan yang buruk.
Asosialitas adalah ketidakmampuan parah dalam hubungan sosial. Mereka hanya memiliki sangat sedikit teman. Tidak senang berkumpul bersama orang lain. Dalam kasus dirinya, ia hanya memiliki satu teman yakni wanita itu sendiri. Hanya dirinya.
Maka ia selalu mendedikasikan hidupnya pada wanita itu, memperlakukannya seperti ratu, melebarkan senyum tak peduli wanita itu sedang marah atau apapun. Karena hanya wanita itu teman seumur hidupnya.
Teman seumur hidup dalam imajinasinya.
Ia berfikir jika menciptakan karakter wanita itu di imajinasinya, ia bisa sedikit lega karena ia bisa memiliki teman hidup dengan kondisi yang sama dengan dirinya sendiri. Hingga ia tidak ingin melepaskan karakter wanita itu di imajinasinya dan membiarkan dirinya hanyut bersama dengan imajinasinya yang melayang kesana kemari.
Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kesenangan karena ayahnya mati tak jelas dan ibunya melayang seperti lampu gantung meninggalkannya sejak kecil. Hingga ia dibesarkan oleh tetangga sekitarnya dan setelah merasa bisa hidup sendiri, ia pergi dari area perkomplekkan yang penuh dengan orang-orang bermuka dua itu dan memilih untuk tinggal di bawah pohon yang berada dikawasan sungai. Ia benci ketinggian dan juga air yang dingin. Tapi ia ingin melawan kebenciannya karena tak masalah jika ia mati tidak akan ada yang memperdulikannya.
Kesenanganya telah menjauhinya sejak ia kecil hingga sampai sekarang Ia juga membalas dendam pada kesenangan dengan membenci hal itu. sinkron sekali dengan rona wajahnya yang datar dengan tatapan kosong dan suara datar tanpa nada. Menurut dr. Soode, kebenciannya akan kesenangaan dan wajahnya yang datar merupakan simtom yang termasuk Anhedonia dan Afek datar.
Segala simtom-simtom schizophrenia yang mengidapnya ini ia tuangkan pada kekasihnya itu. ia menciptakan kekasih dengan wajah datar tanpa emosi, tidak memiliki teman kecuali dirinya sendiri, dan membenci semua orang, didalam fikirannya.
Ia menikmati imajinasi ini karena wanita itu membuatnya bisa melihat refleksi dirinya sendiri. Difikirannya.
Ia juga menciptakan karakter dirinya sendiri didalam imajinasinya, sebagai kekasih yang terbaik untuk wanita itu.
Sebelumnya ia begitu kacau hingga ia tidak pernah bergerak sedikitpun dari duduknya dipohon, tapi wanita itu menyemangatinya, meskipun tidak pernah wanita itu tampilkan tapi ia tahu wanita itu mencintainya.
Ia tersenyum lebar. Apakah akan terkutuk jika aku mengatakan bahwa ia merupakan refleksi Tuhan yang buruk dengan menciptakan karakter yang mencintainya? Yah buruk sekali karena itu hanya di imajinasinya.
Ia membenci belajar, kekasihnya juga begitu
Ia membenci teman-teman sekolahnya, wanita itu juga
Ia selalu menguapkan emosinya pada benda mati, wanita itu melakukannya
Ia membenci air dingin yang membuatnya ingin mati. Wanita itu menuruti imajinasinya dan pergi meninggalkan jasad itu.
Yang semuanya hanya terjadi difikiran laki-laki itu.
Segala yang ada difikirannya memang sangat jauh berbeda dari realitasnya, ia tidak memiliki wanita seperti itu karena hanya ada di imajinasinya.
Ia membenci memakan pil dari dr. Soode itu. ia sangat benci demi apapun yang mengutuknya dengan penyakit jiwa ini.
Tapi untuk kali ini, Ia penasaran
Dengan wajah kosong ia mengambil pil itu dan memakannya, tiba-tiba sosok wanita itu menghilang.. menghilang menjauhinya. Difikirannya, wanita itu mati ketika tertidur disofa saat ia bermain dengannya dirumah wanita itu. tapi itu adalah reaksi dari pil yang tampaknya berusaha keras untuk melakukan apapun demi menjauhkan ia dengan wanita imajinasinya itu.
Ia berjanji tidak akan pernah memakan pil itu lagi dan tetap duduk diam dibawah pohon itu dengan fikirannya yang berkelabut menampilkan dirinya dimana ia tampak ingin meninggalkan wanita itu dimalam hari ketika wanita itu sedang tertidur. Tapi tidak.. itu masih bagian dari reaksi pilnya.
Ia tidak akan mau meninggalkan wanita itu karena ia berjanji pada dirinya akan setia kepada wanita itu. difikirannya.
Dengan begitu sang pil yang telah merasuki tubuhnya benar-benar menguasai dirinya sepenuhnya. Untuk beberapa saat, laki-laki itu merasa bahwa ia normal tanpa ada schizophrenia yang menghinggap dijiwanya. Pil itu terus bekerja, mengelilingi darah ditubuhnya dan memengaruhi dirinya untuk melepaskan  imajinasi itu.
Ia gagal bertahan.
Tiba-tiba saja fikirannya telah normal dan menyadarkan dirinya, bahwa wanita itu hanyalah kilasan dari imajinasinya. Tak lebih.
Bodoh, dia sudah sadar sedari dulu, bodoh.
Tapi untuk saat ini ia benar-benar normal. Ia menyadari ketidakmasukakalan dalam imajinasinya dengan keadaan normal seperti ini. wanita itu tidak benar-benar ada.
Wanita yang dicintainya itu.
Ia benar-benar merasa kekacauan tubuhnya menghilang seiring dengan wanita itu yang pergi meninggalkan jasadnya digenangan air shower itu. sebagaimana imajinasinya ikut menghilang menjauhi dirinya.
Baiklah, ia benar-benar akan hidup sebatang kara.
Tanpa wanita itu. tanpa imajinasinya.
Ia telah menggunakan kesempatannya untuk menciptakan karakter itu difikirannya. Dan sekarang saatnya ia harus melepaskannya.
Ia benar-benar sendiri.
Dan normal.

---


9/8/15 
10.12 am
its ending biacthhhzzzzzzzz

Uhuk
Hayo bingung ya pasti
Aku yang berbulan kemudian baca tulisan ini jadi bingung hahah
Mau cerita ahh
Jadi sebenernya gaada rencana bikin schizo2 ginian wkwkkwkw 
Maunya ya aku emg bikin cerita ini ngalir aja gitu, gimana cewek yang punya yah semacam emotionally problem berusaha buat berubah demi pacarnya. Halah. Ya pokoknya gamau ada plot twist2 gitu cuma mau nulis saja, ngalir udah.
Tapi ketika gabut melanda (WKWKWKWK) jadi aku iseng2 googling tentang schizophernia gitu dan aku baca2 draft cerita ini dan langsung saja ku mendapat ilham untuk membuat plot twist yang amburadul ini so yeah

Chance (4)



“these four walls and, me”

Nafsunya untuk menyiksa barang telah kembali. Ia membanting pintunya keras hingga terdengar suara getaran di sisi lain dinding tak lupa dengan baju-bajunya yang menggantung dipintu pun semuanya terjatuh. Dengan alis terangkat sebelah, ia menendang baju itu yang membentuk tumpukan hingga baju itu terbang dan menutupi meja belajarnya. Tak masalah, ia tidak akan belajar apapun selamanya.
Suara Amy Lee masih memekakkan telinganya dengan lagu My Immortal yang suram itu. dengan kasar ia membuka earphone yang ada dikedua telinganya, mencabut kabel itu dan mencari kabel usb untuk ia sambungkan kepada speaker. Ia akan memekakkan semua telinga orang disekitar rumahnya.
Jika ia sangat kacau sekarang, maka semua orang juga harus merasa kacau mengingat Tuhan selalu bersabda akan keadilannya.
“I try so hard to tell my self that youre gone.. but your though—“
“DIA BENAR-BENAR PERGI SIALAN! DIAM KAU!”
PRANG
Jika kau masih saja bertanya apa yang dilakukannya. Kau benar-benar manusia penuh logika.
Sudah kukatakan ia manusia gila jadi kau harus ikutan berfikir gila. Baiklah, apa yang dilakukannya hanyalah membantah lantunan Amy Lee karena pada kenyataannya si sialan itu benar-benar pergi dan ia tidak perlu Amy Lee mengatakan untuk menyuruhnya berfikir bahwa laki-laki itu tidak pergi karena pada kenyataanya ia benar benar telah pergi.
Dan dengan begitu ia menampar speaker yang tadinya berada disebelahnya sekarang telah tergeletak naas dengan badan yang berkeping-keping dan tak lupa dengan Ipodnya yang telah remuk karena dihimpit oleh speaker. Dengan mata memanas ia berdiri dan memungut bagian-bagian badan speaker itu dan Ipodnya, membuka jendela kamar dan melempar speaker itu keluar dengan lemparan layaknya kau sedang bertarung dalam permainan bola voli dan kau harus menservis bola itu di barisan pojok kanan.
Persis seperti itu.
Tangannya berdarah? Pasti. Segila-gilanya dia tetap saja manusia kurus terbalut tulang yang tenaganya hanya keluar jika emosinya sedang bangkit seperti saat ini.
Ia berteriak sekencangnya berusaha untuk mengalahkan suara speaker yang melantunkan suara Amy Lee tadi. Matanya memanas. Ia tidak bisa lagi. Tidak.
--
Semuanya sudah pergi. Suara Amy Lee telah menghilang. Laki-laki itu menghilang. Ibunya telah berabad lalu meninggalkannya.
Hening. Sepi. Sunyi. Ini semua adalah teman rumahnya.
Tapi sekarang hal-hal itupun tidak mau berteman dengannya
Matanya semakin memanas. Apalagi?! Apa yang harus ia lakukan –untuk pertama kalinya— Tuhan?
Kantung penanggung jawab kesedihannya telah penuh. Ia tidak bisa menelan kesialan ini bulat-bulat lagi.
Apakah aku baru saja  mengubah kesedihan menjadi kesialan?

In this time, Ive lost my sense of pride
Ive called a hundred time
If I hear your voice ill be fine

Untuk berkali-kalinya aku menuliskan; matanya memanas. Dan kali ini akan kutambah bahwa matanya tak hanya memanas tapi mengeluarkan buliran-buliran itu. sudah kukatakan dia gila, ia hanya berani menangis dibawah pancaran air dari shower dikamarnya karena dengan begitu ia merasa bahwa ia tidak benar-benar menangis. Air yang berjatuhan dimatanya ialah air dari pancaran shower itu. ia tidak menagis. Ia sedang tidak menangis.
Dengan begitu ia merelakan hati untuk mengambil alihkan dirinya kali ini. membiarkan hatinya memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Dan semuanya dimulai.
Ia tahu harusnya ia bisa bercerita pada laki-laki itu. akan kelabilan emosinya hingga ia terlihat tak ada bedanya dengan orang gila. Oh aku dengan baik hati akan memberikan bahasa halusnya padamu; seperti orang yang memiliki alter ego.
Ia tidak tahu apakah penyakit kejiwaan itu memang benar-benar ada kaerna yang selama ini yang ia tahu bahwa gila adalah satu-satunya penyakit yang menyangkut akan kejiwaan.
Harusnya ia membiarkan dirinya diketahui sepenuhnya kepada laki-laki itu hingga ia tidak perlu merasakan sakit seperti saat ini.
Ia sakit. Hatinya.
Ia tidak bisa lagi
Bagaimana caranya tuhan?
Masa bodoh. Dengan harga dirinya yang hilang begitu saja, ia benar-benar membiarkan hati menguasainya. Ia merelakan tangisnya diruangan sepi ini.
Dan sekarang airnya mulai mendingin.
Ia benci dingin. Ia benci keadaannya.
Apakah ia akan kehilangan harga diri selamanya jika ia katakan bahwa ia memerlukan sosok itu dan juga suaranya untuk menenangkannya?
Ia tidak bisa seperti ini selalu
Airnya semakin mendingin.
Ia tidak kuat.
Kekuatannya telah dilahap oleh otaknya yang memerintahkannya untuk mengeluarkan emosinya dengan menyiksa barang-barang tadi.
Tuhan..
Ia tidak bisa bangkit, ia tidak bisa menghidupkan jiwanya.
Semuanya tenggelam sejalan dengan tetesan air yang semakin mendingin hebat.
            Ia menginginkan laki-laki itu kembali..
Bodohnya, ia masih belum membaca surat yang disebutkan laki-laki itu tempo hari. Dan sekarang ia terjebak diantara genangan air yang mengalahkan dinginnya salju tanpa bisa bangkit lagi. Ia ingin membiarkan dirinya disini, diam.. hanyut.. tenggelam tepat disini. Ia tidak lagi menginginkan satupun.
Biarkan saja ia terlelap sendiri ditemani empat dinding dan dirinya sendiri ini.


.


Tidak. Ia tidak hanya  benar-benar menginginkan itu demi Tuhan.. ia menginginkan satu hal lagi.. satu malam terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal untuk laki-laki itu.. dengan begitu ia akan membalas pelukan kuatnya dan jika bisa ia tidak akan membiarkan laki-laki itu pergi.. ia akan ikut kemana saja laki-laki itu pergi..
Berikan aku kesempatan itu tuhan.. aku yakin akan mengubah diriku..
Aku akan..
Aku akan..
Aku akan..
..
Banyak sekali yang akan aku lakukan jika aku bertemu dengannya kembali. Sangat banyak.
Ia tidak merasakan dinginnya air lagi.
ia tersenyum lebar sebelum membuka kedua matanya. Tidak bisa dipercaya! Ia yakin Tuhan baru saja mendengar keinginannya hingga ia tidak merasakan dinginnya air jadi ia bisa bangkit dan membersihkan dirinya dan membuka pintu rumahnya yang ia yakin pasti laki-laki itu sudah lama menunggunya untuk membuka pintu itu
Ini hari yang indah!
Ia membuka matanya lebar tanpa merubah senyumnya. Tanpa disadarinya ia tidak membuka pintu kamar mandi melainkan menembusnya begitu saja. Tapi ia tidak peduli! Harapan ini membuatnya bahagia!
Ia bahagia sekali hingga lupa melihat kebelakang sebelumnya dimana tergeletak sosoknya dengan genangan air shower dan wajah yang memucat tak bernyawa.
---

8/8/15. 10.07 pm

Ngawur y bodo’
Satu chapter lagi ending ha