-------
“and
you have cursed me when there no one left to blame
And
I haved love you anyway”
Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah
duduk didepan bar dan menutup telinga karena suara-suara disini tak kalah
seperti suara-suara dineraka.
Sudahkah aku kenereka?
Tentu saja, belum.
“1
2 3, 123 drinkkkk! Owwwww!”
Tapi jika kau bertanya sudahkah aku melihat
manusia nereka, jawabannya, yah. Manusia setengah setan didepanku ini.
“not
anymore, boobear, you’ll never get this” aku mendesis
tajam seraya menahan tangannya yang akan mengantarkan botol cairan alkohol itu
pada mulutnya. Kau tahu, botol sialan yang bertengger ditangannya itu merupakan
botol yang ke-enam. Sudah kukatakan, dia manusia neraka.
Melihat aku yang mengeluarkan seluruh
tenagaku untuk menahan tangan besarnya itu, ia menaikkan sebelah alisnya, menurunkan
botol itu ke meja “ayolahhh!”
“tidak, please Lou, bisakah sekali ini kau menurutiku saja? Besok hari
senin, dan aku tidak mau terlambat karena ulah gilamu ini”
Tanpa kuduga, ia melemparkan botol bir
itu ke lantai membuat semua orang menjerit seperti baru saja dipukul dengan
tongkat api neraka. Nah, berarti Louis sudah menjadi setan sepenuhnya
“aku selalu menurutimu! Dan kau bilang
sekali ini? dengar, aku benar-benar muak melihatmu yang selalu mengaturku
seperti ini, aku bukan anak kecil dan lagi, kau bukan ibuku!”
“ibumu sudah meninggalkanmu dan aku dengan
pesan—“ aku tak berani melanjutkan perkataanku, Louis benar- benar sudah
berubah menjadi setan. Baiklah, aku menyesal mengatakan ini karena aku tahu dia
tidak mau mengungkit masa lalunya, tapi, sumpah demi apapun yang menguasai
bumi, aku hanya ingin menjauhkannya dari neraka
disini.
Seperti yang aku duga, bisa kulihat
sorotan tajam dimatanya yang siap mengunciku hingga nantinya ia akan melepaskan
amarahnya; “Fine, damned Knightley”
Oh, hanya itu saja?
“watch
your tongue Louis!”
Ia terkekeh “what, Keira? I can say or do whatever I want. I can even raped you
right here”
“son
of shit”
Sial. Dia selalu menang dengan
perkataan-perkataan gilanya itu. terang saja, aku tidak pernah memenangkan
perdebatannya dengannya karena mulutnya yang tak ubah seperti cewek remaja itu.
aku memilih untuk pulang dan membiarkan dia meliar di tempat terkutuk itu.
Terserah.
Untuk pertama kalinya, terserah.
Aku tidak bisa menajaga pesan ibunya.
Masa bodoh. Sudah dua tahun aku berusaha
untuk melindunginya dari neraka itu dan kau lihat bagaimana hasilnya? Ia selalu
mendapatkan apa yang diinginkannya hingga aku selalu berakhir dengan bertengkar
dengannya persis seperti saat ini.
Bedanya, dulu aku akan tetap menahan
keegoisanku untuk menunggu dan menjaganya dari sana walupun, yah, tidak
berhasil. Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, ingat?
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar
tidak akan memperdulikannya lagi, selamanya.
Sebut saja aku anak bodoh yang terjebak
dalam perjanjian antara ibu kekasihku sedangkan anak dari ibu itu sendiri tidak
memperdulikan kematian ibunya ataupun aku sendiri.
Ketika ibunya pergi, aku mulai membentuk
sebuah perjanjian dimana ia tidak akan pergi ke tempat neraka itu. dan kau tahu
apa? Ia menyetujuinya.
Oh kau tahu satulagi apa?
Ia melanggarnya.
Setiap perjanjian yang telah kami
sepakatinya, ia selalu melanggar.
Dan aku tetap menempel ditubuhnya tak
peduli bagaimana susahnya perjuangan agar ia bisa menururti permintaanku.
Tak jarang ia mengutukku ketika aku
bersikeras untuk membawanya menjauh dari tempat mabuk-mabukkan itu. bersyukurlah
umpatan dan kutukan yang kutelan bulat-bulat selama dua tahun terakhir ini
tidak dapat membuat mentalku melemah. Ajaibnya, aku begitu kebal dengan apapun
macam kata-kata kasar yang dilontarkannya.
Karena jujur saja, ia selalu mabuk
ketika melakukannya.
Dan segala kata kasar itu, aku anggap
sebuah tanda pedulinya kepadaku.
Dan aku selalu mencintainya seperti
orang bodoh.
Bisa kulihat ia mengejarku dengan
langkah terseok-seoknya persis seperti zombie ditambah dengan matanya yang
memerah dan mulutnya yang membuka-menutup tak jelas.
Aku sudah berada sepuluh langkah jauh
didepannya. Dan jika dalam keadaan ini, tentu saja satu langkah bagiku
merupakan tiga langkah baginya. Bagus sekali, karena aku bisa kabur dan
menghilang dari dirinya.
Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Pegang janjiku. Karena jika aku masih
bertemu dengannya, aku bersumpah akan mati ditabrak mobil-gila.
Serius, aku lebih memilih mati saja
mengikuti ibunya daripada harus menghadapinya lebih lama lagi. Aku sudah muak
dengan hal bodoh untuk melayaninya ini selama dua tahun yang berakhir pada aku
yang menangis.
“Ke.. i.. raaa!!”
Aku melebarkan langkahku. Sialan, aku
menoleh kebelakang dan dapat melihat ia berada tak jauh dibelakangku, tinggal
dua langkah kaki orang normal saja ia sudah bisa mencengkram badanku dan
membiarkan dia menang.
Kali ini tidak. Tidak akan.
Aku harus menang darinya. Aku bukan lagi
anak bodoh yang mencintainya seperti beberapa menit yang lalu ini. bukan lagi. Pegang
kata-kataku.
“Keira please! A.. aku moo..hoon!”
Siapa peduli?
“serius.. Keira.. aku.. tidak mabuk..
hentikan.. jalanmu..”
Bodoh. Siapapun tahu kau sedang mabuk. Aku
semakin melebarkan langkah kakiku menjauhinya
“sialan.. serius! Keira! Beerheentii!!”
“KEIRA SIALAN!”
Oh baiklah, aku tidak akan menelan
kata-kata kasarnya bulat-bulat lagi. Maka aku berhenti dan berbalik berjalan
menuju kearahnya yang tampak tertatih itu. dengan senyum miring aku
mendekatinya dan meletakkan kedua tanganku dikedua sisi wajahnya.
Jika saja ia masih Louis Tomlinson si
bocah tengik dari Doncaster. Aku pasti akan merasa beruntung memilikinya. Bukan
Louis Tomlinson si anak setan di New York ini. dunia memang memutar balikkan
kepribadiannya.
Setan.
“ada apa, hm?” Tanyaku dengan nada
sehalus dan sekasihan mungkin mengingat wajahnya yang tampak jauh mengerikan
daripada zombie jika dilihat sedekat ini. mungkin ini rupa wajah setan yang
sebenarnya.
“ayo.. kiita pulangg” apakah seperti ini
cara setan berbicara?
“pulang, hm? pulang kemana Louie? Bukankah
rumahmu ditempat sialan itu?” aku mengarahkan tatapanku kebelakang wajahnya
dimana tempat neraka itu tanpa berkerlap-kerlip dan bising.
“jangan menghidupkan api lagi, Keira,
akuu.. telah beerbaik hatii untuk membawa kita pulang”
Aku tersenyum lebar dan melepaskan kedua
tanganku dari wajahnya. Menyimpannya sebentar di kedua saku celanaku dan
sedetik selanjutnya aku mengangkat sebelah tanganku dan menampar wajah setan
itu. Oh, mengejutkan sekali wajahnya dingin bukannya panas seperti bagaimana
setan biasanya.
Aku tidak mengerti apakah setan telah
berpindah kepadaku atau apa, tapi yang kulihat setelah kejadian itu adalah
pipinya mengeluarkan darah. Apakah benar-benar aku yang menampar wajah mengerikan
itu?
“tak masalah, Kei. Kau bunuh aku
sekalipun aku tak masalah”
“kau bisa membunuh dirimu sendiri”
Ia terkekeh lagi. Dan dengan tanpa
otaknya, ia berjalan mendekat dan mengambil tanganku. Maafkan aku Tuhan karena
telah melanggar janjiku beberapa menit yang lalu..
“kau tahu kenapa aku memilih tetap
tenggelam di alkohol ini tak peduli seberapa berat kau melarangku?”
“tidak. Pergilah”
“—aku tetap ingin tenggelam dihalusinasi
ini. aku ingin tetap kau berada disampingku, menatapku dengan khawatir. Kau selalu
menampilkan sifat itu hanya ketika aku mabuk. Dan kerena itu, aku memilih untuk
tetap mabuk. Aku ingin tetap kau disini, sosok pintar dan memesona yang selalu
menatapku dengan khawatir—aku menyebutnya tatapan sayang— seperti wanita bodoh.
Aku ingin tetap seperti ini. aku ingin memilikimu. Jika saja bisa aku akan
memilih untuk meminum alkohol sialan itu hingga kau akan terus berada
disekelilingku selamanya. Aku ingin ini semua tidak berakhir. Aku ingin kau
tetap menjagaku, mencintai seonggok bajingan seperti aku ini. bertahanlah..“
Omong kosong.
“sayang sekali, uh Louis, kau telah
menghabiskan satu penuh kantong kesempatan dan kau juga membuang waktuku saat
ini. aku harus pulang karena aku tidak ingin terlambat besok. Dan oh, asal kau
tahu kau bisa menikmati apartemenmu sendirian sekarang. Karena kesempatanmu
bersamaku telah habis jadi aku akan meninggalkanmu so, bye”
Dengan tekad kuat aku meninggalkannya. Menjauhinya
Entah setan dari tubuh Louis telah
berpindah kepadaku atau apa, tapi aku benar-benar tidak merasakan apapun saat
ini.
Tidak meskipun ketika aku mendengar
Louis yang berteriak menjerit dan suara hantaman seperti sebuah mobil balap
gila telah menabraknya.
Aku tetap berjalan. Setidaknya aku benar-benar
bisa hidup tanpa menjadi wanita bodoh
Tanpanya.
---
9/8/15
08.12 pm
Lmao im so productive in this weekend heh