“these four walls and,
me”
Nafsunya untuk menyiksa barang telah
kembali. Ia membanting pintunya keras hingga terdengar suara getaran di sisi
lain dinding tak lupa dengan baju-bajunya yang menggantung dipintu pun semuanya
terjatuh. Dengan alis terangkat sebelah, ia menendang baju itu yang membentuk
tumpukan hingga baju itu terbang dan menutupi meja belajarnya. Tak masalah, ia
tidak akan belajar apapun selamanya.
Suara Amy Lee masih memekakkan
telinganya dengan lagu My Immortal yang suram itu. dengan kasar ia membuka earphone yang ada dikedua telinganya,
mencabut kabel itu dan mencari kabel usb
untuk ia sambungkan kepada speaker.
Ia akan memekakkan semua telinga orang disekitar rumahnya.
Jika ia sangat kacau sekarang, maka
semua orang juga harus merasa kacau mengingat Tuhan selalu bersabda akan
keadilannya.
“I
try so hard to tell my self that youre gone.. but your though—“
“DIA BENAR-BENAR PERGI SIALAN! DIAM
KAU!”
PRANG
Jika kau masih saja bertanya apa yang
dilakukannya. Kau benar-benar manusia penuh logika.
Sudah kukatakan ia manusia gila jadi kau
harus ikutan berfikir gila. Baiklah, apa yang dilakukannya hanyalah membantah
lantunan Amy Lee karena pada kenyataannya si sialan itu benar-benar pergi dan
ia tidak perlu Amy Lee mengatakan untuk menyuruhnya berfikir bahwa laki-laki
itu tidak pergi karena pada kenyataanya ia benar benar telah pergi.
Dan dengan begitu ia menampar speaker
yang tadinya berada disebelahnya sekarang telah tergeletak naas dengan badan
yang berkeping-keping dan tak lupa dengan Ipodnya yang telah remuk karena
dihimpit oleh speaker. Dengan mata memanas ia berdiri dan memungut
bagian-bagian badan speaker itu dan Ipodnya, membuka jendela kamar dan melempar
speaker itu keluar dengan lemparan layaknya kau sedang bertarung dalam permainan
bola voli dan kau harus menservis bola itu di barisan pojok kanan.
Persis seperti itu.
Tangannya berdarah? Pasti. Segila-gilanya dia tetap saja manusia kurus terbalut tulang yang tenaganya hanya keluar jika emosinya sedang bangkit seperti saat ini.
Ia berteriak sekencangnya berusaha untuk
mengalahkan suara speaker yang melantunkan suara Amy Lee tadi. Matanya memanas.
Ia tidak bisa lagi. Tidak.
--
Semuanya sudah pergi. Suara Amy Lee
telah menghilang. Laki-laki itu menghilang. Ibunya telah berabad lalu
meninggalkannya.
Hening. Sepi. Sunyi. Ini semua adalah
teman rumahnya.
Tapi sekarang hal-hal itupun tidak mau
berteman dengannya
Matanya semakin memanas. Apalagi?! Apa
yang harus ia lakukan –untuk pertama kalinya— Tuhan?
Kantung penanggung jawab kesedihannya
telah penuh. Ia tidak bisa menelan kesialan
ini bulat-bulat lagi.
Apakah aku baru saja mengubah kesedihan menjadi kesialan?
In
this time, Ive lost my sense of pride
Ive
called a hundred time
If
I hear your voice ill be fine
Untuk berkali-kalinya aku menuliskan;
matanya memanas. Dan kali ini akan kutambah bahwa matanya tak hanya memanas
tapi mengeluarkan buliran-buliran itu. sudah kukatakan dia gila, ia hanya
berani menangis dibawah pancaran air dari shower
dikamarnya karena dengan begitu ia merasa bahwa ia tidak benar-benar menangis.
Air yang berjatuhan dimatanya ialah air dari pancaran shower itu. ia tidak menagis.
Ia sedang tidak menangis.
Dengan begitu ia merelakan hati untuk
mengambil alihkan dirinya kali ini. membiarkan hatinya memiliki kesempatan
untuk memperbaiki dirinya.
Dan semuanya dimulai.
Ia tahu harusnya ia bisa bercerita pada
laki-laki itu. akan kelabilan emosinya hingga ia terlihat tak ada bedanya
dengan orang gila. Oh aku dengan baik hati akan memberikan bahasa halusnya
padamu; seperti orang yang memiliki alter ego.
Ia tidak tahu apakah penyakit kejiwaan
itu memang benar-benar ada kaerna yang selama ini yang ia tahu bahwa gila
adalah satu-satunya penyakit yang menyangkut akan kejiwaan.
Harusnya ia membiarkan dirinya diketahui
sepenuhnya kepada laki-laki itu hingga ia tidak perlu merasakan sakit seperti
saat ini.
Ia sakit. Hatinya.
Ia tidak bisa lagi
Bagaimana caranya tuhan?
Masa bodoh. Dengan harga dirinya yang
hilang begitu saja, ia benar-benar membiarkan hati menguasainya. Ia merelakan
tangisnya diruangan sepi ini.
Dan sekarang airnya mulai mendingin.
Ia benci dingin. Ia benci keadaannya.
Apakah ia akan kehilangan harga diri
selamanya jika ia katakan bahwa ia memerlukan sosok itu dan juga suaranya untuk
menenangkannya?
Ia tidak bisa seperti ini selalu
Airnya semakin mendingin.
Ia tidak kuat.
Kekuatannya telah dilahap oleh otaknya
yang memerintahkannya untuk mengeluarkan emosinya dengan menyiksa barang-barang
tadi.
Tuhan..
Ia tidak bisa bangkit, ia tidak bisa
menghidupkan jiwanya.
Semuanya tenggelam sejalan dengan
tetesan air yang semakin mendingin hebat.
Ia menginginkan laki-laki itu
kembali..
Bodohnya, ia masih belum membaca surat
yang disebutkan laki-laki itu tempo hari. Dan sekarang ia terjebak diantara
genangan air yang mengalahkan dinginnya salju tanpa bisa bangkit lagi. Ia ingin
membiarkan dirinya disini, diam.. hanyut.. tenggelam tepat disini. Ia tidak
lagi menginginkan satupun.
Biarkan saja ia terlelap sendiri
ditemani empat dinding dan dirinya sendiri ini.
.
Tidak. Ia tidak hanya benar-benar menginginkan itu demi Tuhan.. ia
menginginkan satu hal lagi.. satu malam terakhir untuk mengucapkan selamat
tinggal untuk laki-laki itu.. dengan begitu ia akan membalas pelukan kuatnya
dan jika bisa ia tidak akan membiarkan laki-laki itu pergi.. ia akan ikut
kemana saja laki-laki itu pergi..
Berikan
aku kesempatan itu tuhan.. aku yakin akan mengubah diriku..
Aku
akan..
Aku
akan..
Aku
akan..
..
Banyak
sekali yang akan aku lakukan jika aku bertemu dengannya kembali. Sangat banyak.
Ia tidak merasakan dinginnya air lagi.
ia
tersenyum lebar sebelum membuka kedua matanya. Tidak bisa dipercaya! Ia yakin
Tuhan baru saja mendengar keinginannya hingga ia tidak merasakan dinginnya air
jadi ia bisa bangkit dan membersihkan dirinya dan membuka pintu rumahnya yang ia
yakin pasti laki-laki itu sudah lama menunggunya untuk membuka pintu itu
Ini hari yang indah!
Ia membuka matanya lebar tanpa merubah
senyumnya. Tanpa disadarinya ia tidak membuka pintu kamar mandi melainkan
menembusnya begitu saja. Tapi ia tidak peduli! Harapan ini membuatnya bahagia!
Ia bahagia sekali hingga lupa melihat
kebelakang sebelumnya dimana tergeletak sosoknya
dengan genangan air shower dan wajah
yang memucat tak bernyawa.
---
8/8/15. 10.07 pm
Ngawur y bodo’
Satu chapter lagi ending ha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar