Sabtu, 08 Agustus 2015

Chance (4)



“these four walls and, me”

Nafsunya untuk menyiksa barang telah kembali. Ia membanting pintunya keras hingga terdengar suara getaran di sisi lain dinding tak lupa dengan baju-bajunya yang menggantung dipintu pun semuanya terjatuh. Dengan alis terangkat sebelah, ia menendang baju itu yang membentuk tumpukan hingga baju itu terbang dan menutupi meja belajarnya. Tak masalah, ia tidak akan belajar apapun selamanya.
Suara Amy Lee masih memekakkan telinganya dengan lagu My Immortal yang suram itu. dengan kasar ia membuka earphone yang ada dikedua telinganya, mencabut kabel itu dan mencari kabel usb untuk ia sambungkan kepada speaker. Ia akan memekakkan semua telinga orang disekitar rumahnya.
Jika ia sangat kacau sekarang, maka semua orang juga harus merasa kacau mengingat Tuhan selalu bersabda akan keadilannya.
“I try so hard to tell my self that youre gone.. but your though—“
“DIA BENAR-BENAR PERGI SIALAN! DIAM KAU!”
PRANG
Jika kau masih saja bertanya apa yang dilakukannya. Kau benar-benar manusia penuh logika.
Sudah kukatakan ia manusia gila jadi kau harus ikutan berfikir gila. Baiklah, apa yang dilakukannya hanyalah membantah lantunan Amy Lee karena pada kenyataannya si sialan itu benar-benar pergi dan ia tidak perlu Amy Lee mengatakan untuk menyuruhnya berfikir bahwa laki-laki itu tidak pergi karena pada kenyataanya ia benar benar telah pergi.
Dan dengan begitu ia menampar speaker yang tadinya berada disebelahnya sekarang telah tergeletak naas dengan badan yang berkeping-keping dan tak lupa dengan Ipodnya yang telah remuk karena dihimpit oleh speaker. Dengan mata memanas ia berdiri dan memungut bagian-bagian badan speaker itu dan Ipodnya, membuka jendela kamar dan melempar speaker itu keluar dengan lemparan layaknya kau sedang bertarung dalam permainan bola voli dan kau harus menservis bola itu di barisan pojok kanan.
Persis seperti itu.
Tangannya berdarah? Pasti. Segila-gilanya dia tetap saja manusia kurus terbalut tulang yang tenaganya hanya keluar jika emosinya sedang bangkit seperti saat ini.
Ia berteriak sekencangnya berusaha untuk mengalahkan suara speaker yang melantunkan suara Amy Lee tadi. Matanya memanas. Ia tidak bisa lagi. Tidak.
--
Semuanya sudah pergi. Suara Amy Lee telah menghilang. Laki-laki itu menghilang. Ibunya telah berabad lalu meninggalkannya.
Hening. Sepi. Sunyi. Ini semua adalah teman rumahnya.
Tapi sekarang hal-hal itupun tidak mau berteman dengannya
Matanya semakin memanas. Apalagi?! Apa yang harus ia lakukan –untuk pertama kalinya— Tuhan?
Kantung penanggung jawab kesedihannya telah penuh. Ia tidak bisa menelan kesialan ini bulat-bulat lagi.
Apakah aku baru saja  mengubah kesedihan menjadi kesialan?

In this time, Ive lost my sense of pride
Ive called a hundred time
If I hear your voice ill be fine

Untuk berkali-kalinya aku menuliskan; matanya memanas. Dan kali ini akan kutambah bahwa matanya tak hanya memanas tapi mengeluarkan buliran-buliran itu. sudah kukatakan dia gila, ia hanya berani menangis dibawah pancaran air dari shower dikamarnya karena dengan begitu ia merasa bahwa ia tidak benar-benar menangis. Air yang berjatuhan dimatanya ialah air dari pancaran shower itu. ia tidak menagis. Ia sedang tidak menangis.
Dengan begitu ia merelakan hati untuk mengambil alihkan dirinya kali ini. membiarkan hatinya memiliki kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Dan semuanya dimulai.
Ia tahu harusnya ia bisa bercerita pada laki-laki itu. akan kelabilan emosinya hingga ia terlihat tak ada bedanya dengan orang gila. Oh aku dengan baik hati akan memberikan bahasa halusnya padamu; seperti orang yang memiliki alter ego.
Ia tidak tahu apakah penyakit kejiwaan itu memang benar-benar ada kaerna yang selama ini yang ia tahu bahwa gila adalah satu-satunya penyakit yang menyangkut akan kejiwaan.
Harusnya ia membiarkan dirinya diketahui sepenuhnya kepada laki-laki itu hingga ia tidak perlu merasakan sakit seperti saat ini.
Ia sakit. Hatinya.
Ia tidak bisa lagi
Bagaimana caranya tuhan?
Masa bodoh. Dengan harga dirinya yang hilang begitu saja, ia benar-benar membiarkan hati menguasainya. Ia merelakan tangisnya diruangan sepi ini.
Dan sekarang airnya mulai mendingin.
Ia benci dingin. Ia benci keadaannya.
Apakah ia akan kehilangan harga diri selamanya jika ia katakan bahwa ia memerlukan sosok itu dan juga suaranya untuk menenangkannya?
Ia tidak bisa seperti ini selalu
Airnya semakin mendingin.
Ia tidak kuat.
Kekuatannya telah dilahap oleh otaknya yang memerintahkannya untuk mengeluarkan emosinya dengan menyiksa barang-barang tadi.
Tuhan..
Ia tidak bisa bangkit, ia tidak bisa menghidupkan jiwanya.
Semuanya tenggelam sejalan dengan tetesan air yang semakin mendingin hebat.
            Ia menginginkan laki-laki itu kembali..
Bodohnya, ia masih belum membaca surat yang disebutkan laki-laki itu tempo hari. Dan sekarang ia terjebak diantara genangan air yang mengalahkan dinginnya salju tanpa bisa bangkit lagi. Ia ingin membiarkan dirinya disini, diam.. hanyut.. tenggelam tepat disini. Ia tidak lagi menginginkan satupun.
Biarkan saja ia terlelap sendiri ditemani empat dinding dan dirinya sendiri ini.


.


Tidak. Ia tidak hanya  benar-benar menginginkan itu demi Tuhan.. ia menginginkan satu hal lagi.. satu malam terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal untuk laki-laki itu.. dengan begitu ia akan membalas pelukan kuatnya dan jika bisa ia tidak akan membiarkan laki-laki itu pergi.. ia akan ikut kemana saja laki-laki itu pergi..
Berikan aku kesempatan itu tuhan.. aku yakin akan mengubah diriku..
Aku akan..
Aku akan..
Aku akan..
..
Banyak sekali yang akan aku lakukan jika aku bertemu dengannya kembali. Sangat banyak.
Ia tidak merasakan dinginnya air lagi.
ia tersenyum lebar sebelum membuka kedua matanya. Tidak bisa dipercaya! Ia yakin Tuhan baru saja mendengar keinginannya hingga ia tidak merasakan dinginnya air jadi ia bisa bangkit dan membersihkan dirinya dan membuka pintu rumahnya yang ia yakin pasti laki-laki itu sudah lama menunggunya untuk membuka pintu itu
Ini hari yang indah!
Ia membuka matanya lebar tanpa merubah senyumnya. Tanpa disadarinya ia tidak membuka pintu kamar mandi melainkan menembusnya begitu saja. Tapi ia tidak peduli! Harapan ini membuatnya bahagia!
Ia bahagia sekali hingga lupa melihat kebelakang sebelumnya dimana tergeletak sosoknya dengan genangan air shower dan wajah yang memucat tak bernyawa.
---

8/8/15. 10.07 pm

Ngawur y bodo’
Satu chapter lagi ending ha

           

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar