Minggu, 09 Agustus 2015

Like a Fool


 -------


“and you have cursed me when there no one left to blame
And I haved love you anyway”


Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah duduk didepan bar dan menutup telinga karena suara-suara disini tak kalah seperti suara-suara dineraka.
Sudahkah aku kenereka?
Tentu saja, belum.
“1 2 3, 123 drinkkkk! Owwwww!”
Tapi jika kau bertanya sudahkah aku melihat manusia nereka, jawabannya, yah. Manusia setengah setan didepanku ini.
“not anymore, boobear, you’ll never get this” aku mendesis tajam seraya menahan tangannya yang akan mengantarkan botol cairan alkohol itu pada mulutnya. Kau tahu, botol sialan yang bertengger ditangannya itu merupakan botol yang ke-enam. Sudah kukatakan, dia manusia neraka.
Melihat aku yang mengeluarkan seluruh tenagaku untuk menahan tangan besarnya itu, ia menaikkan sebelah alisnya, menurunkan botol itu ke meja “ayolahhh!”
“tidak, please Lou, bisakah sekali ini kau menurutiku saja? Besok hari senin, dan aku tidak mau terlambat karena ulah gilamu ini”
Tanpa kuduga, ia melemparkan botol bir itu ke lantai membuat semua orang menjerit seperti baru saja dipukul dengan tongkat api neraka. Nah, berarti Louis sudah menjadi setan sepenuhnya
“aku selalu menurutimu! Dan kau bilang sekali ini? dengar, aku benar-benar muak melihatmu yang selalu mengaturku seperti ini, aku bukan anak kecil dan lagi, kau bukan ibuku!”
“ibumu sudah meninggalkanmu dan aku dengan pesan—“ aku tak berani melanjutkan perkataanku, Louis benar- benar sudah berubah menjadi setan. Baiklah, aku menyesal mengatakan ini karena aku tahu dia tidak mau mengungkit masa lalunya, tapi, sumpah demi apapun yang menguasai bumi, aku hanya ingin menjauhkannya dari neraka disini.
Seperti yang aku duga, bisa kulihat sorotan tajam dimatanya yang siap mengunciku hingga nantinya ia akan melepaskan amarahnya; “Fine, damned Knightley”
Oh, hanya itu saja?
watch your tongue Louis!”
Ia terkekeh “what, Keira? I can say or do whatever I want. I can even raped you right here”
“son of shit”
Sial. Dia selalu menang dengan perkataan-perkataan gilanya itu. terang saja, aku tidak pernah memenangkan perdebatannya dengannya karena mulutnya yang tak ubah seperti cewek remaja itu. aku memilih untuk pulang dan membiarkan dia meliar di tempat terkutuk itu.
Terserah.
Untuk pertama kalinya, terserah.
Aku tidak bisa menajaga pesan ibunya.
Masa bodoh. Sudah dua tahun aku berusaha untuk melindunginya dari neraka itu dan kau lihat bagaimana hasilnya? Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya hingga aku selalu berakhir dengan bertengkar dengannya persis seperti saat ini.
Bedanya, dulu aku akan tetap menahan keegoisanku untuk menunggu dan menjaganya dari sana walupun, yah, tidak berhasil. Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, ingat?
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak akan memperdulikannya lagi, selamanya.
Sebut saja aku anak bodoh yang terjebak dalam perjanjian antara ibu kekasihku sedangkan anak dari ibu itu sendiri tidak memperdulikan kematian ibunya ataupun aku sendiri.
Ketika ibunya pergi, aku mulai membentuk sebuah perjanjian dimana ia tidak akan pergi ke tempat neraka itu. dan kau tahu apa? Ia menyetujuinya.
Oh kau tahu satulagi apa?
Ia melanggarnya.
Setiap perjanjian yang telah kami sepakatinya, ia selalu melanggar.
Dan aku tetap menempel ditubuhnya tak peduli bagaimana susahnya perjuangan agar ia bisa menururti permintaanku.
Tak jarang ia mengutukku ketika aku bersikeras untuk membawanya menjauh dari tempat mabuk-mabukkan itu. bersyukurlah umpatan dan kutukan yang kutelan bulat-bulat selama dua tahun terakhir ini tidak dapat membuat mentalku melemah. Ajaibnya, aku begitu kebal dengan apapun macam kata-kata kasar yang dilontarkannya.
Karena jujur saja, ia selalu mabuk ketika melakukannya.
Dan segala kata kasar itu, aku anggap sebuah tanda pedulinya kepadaku.
Dan aku selalu mencintainya seperti orang bodoh.
Bisa kulihat ia mengejarku dengan langkah terseok-seoknya persis seperti zombie ditambah dengan matanya yang memerah dan mulutnya yang membuka-menutup tak jelas.
Aku sudah berada sepuluh langkah jauh didepannya. Dan jika dalam keadaan ini, tentu saja satu langkah bagiku merupakan tiga langkah baginya. Bagus sekali, karena aku bisa kabur dan menghilang dari dirinya.
Aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Pegang janjiku. Karena jika aku masih bertemu dengannya, aku bersumpah akan mati ditabrak mobil-gila.
Serius, aku lebih memilih mati saja mengikuti ibunya daripada harus menghadapinya lebih lama lagi. Aku sudah muak dengan hal bodoh untuk melayaninya ini selama dua tahun yang berakhir pada aku yang menangis.
“Ke.. i.. raaa!!”
Aku melebarkan langkahku. Sialan, aku menoleh kebelakang dan dapat melihat ia berada tak jauh dibelakangku, tinggal dua langkah kaki orang normal saja ia sudah bisa mencengkram badanku dan membiarkan dia menang.
Kali ini tidak. Tidak akan.
Aku harus menang darinya. Aku bukan lagi anak bodoh yang mencintainya seperti beberapa menit yang lalu ini. bukan lagi. Pegang kata-kataku.
“Keira please! A.. aku moo..hoon!”
Siapa peduli?
“serius.. Keira.. aku.. tidak mabuk.. hentikan.. jalanmu..”
Bodoh. Siapapun tahu kau sedang mabuk. Aku semakin melebarkan langkah kakiku menjauhinya
“sialan.. serius! Keira! Beerheentii!!”
“KEIRA SIALAN!”
Oh baiklah, aku tidak akan menelan kata-kata kasarnya bulat-bulat lagi. Maka aku berhenti dan berbalik berjalan menuju kearahnya yang tampak tertatih itu. dengan senyum miring aku mendekatinya dan meletakkan kedua tanganku dikedua sisi wajahnya.
Jika saja ia masih Louis Tomlinson si bocah tengik dari Doncaster. Aku pasti akan merasa beruntung memilikinya. Bukan Louis Tomlinson si anak setan di New York ini. dunia memang memutar balikkan kepribadiannya.
Setan.
“ada apa, hm?” Tanyaku dengan nada sehalus dan sekasihan mungkin mengingat wajahnya yang tampak jauh mengerikan daripada zombie jika dilihat sedekat ini. mungkin ini rupa wajah setan yang sebenarnya.
“ayo.. kiita pulangg” apakah seperti ini cara setan berbicara?
“pulang, hm? pulang kemana Louie? Bukankah rumahmu ditempat sialan itu?” aku mengarahkan tatapanku kebelakang wajahnya dimana tempat neraka itu tanpa berkerlap-kerlip dan bising.
“jangan menghidupkan api lagi, Keira, akuu.. telah beerbaik hatii untuk membawa kita pulang”
Aku tersenyum lebar dan melepaskan kedua tanganku dari wajahnya. Menyimpannya sebentar di kedua saku celanaku dan sedetik selanjutnya aku mengangkat sebelah tanganku dan menampar wajah setan itu. Oh, mengejutkan sekali wajahnya dingin bukannya panas seperti bagaimana setan biasanya.
Aku tidak mengerti apakah setan telah berpindah kepadaku atau apa, tapi yang kulihat setelah kejadian itu adalah pipinya mengeluarkan darah. Apakah benar-benar aku yang menampar wajah mengerikan itu?
“tak masalah, Kei. Kau bunuh aku sekalipun aku tak masalah”
“kau bisa membunuh dirimu sendiri”
Ia terkekeh lagi. Dan dengan tanpa otaknya, ia berjalan mendekat dan mengambil tanganku. Maafkan aku Tuhan karena telah melanggar janjiku beberapa menit yang lalu..
“kau tahu kenapa aku memilih tetap tenggelam di alkohol ini tak peduli seberapa berat kau melarangku?”
“tidak. Pergilah”
“—aku tetap ingin tenggelam dihalusinasi ini. aku ingin tetap kau berada disampingku, menatapku dengan khawatir. Kau selalu menampilkan sifat itu hanya ketika aku mabuk. Dan kerena itu, aku memilih untuk tetap mabuk. Aku ingin tetap kau disini, sosok pintar dan memesona yang selalu menatapku dengan khawatir—aku menyebutnya tatapan sayang— seperti wanita bodoh. Aku ingin tetap seperti ini. aku ingin memilikimu. Jika saja bisa aku akan memilih untuk meminum alkohol sialan itu hingga kau akan terus berada disekelilingku selamanya. Aku ingin ini semua tidak berakhir. Aku ingin kau tetap menjagaku, mencintai seonggok bajingan seperti aku ini. bertahanlah..“
Omong kosong.
“sayang sekali, uh Louis, kau telah menghabiskan satu penuh kantong kesempatan dan kau juga membuang waktuku saat ini. aku harus pulang karena aku tidak ingin terlambat besok. Dan oh, asal kau tahu kau bisa menikmati apartemenmu sendirian sekarang. Karena kesempatanmu bersamaku telah habis jadi aku akan meninggalkanmu so, bye”
Dengan tekad kuat aku meninggalkannya. Menjauhinya
Entah setan dari tubuh Louis telah berpindah kepadaku atau apa, tapi aku benar-benar tidak merasakan apapun saat ini.
Tidak meskipun ketika aku mendengar Louis yang berteriak menjerit dan suara hantaman seperti sebuah mobil balap gila telah menabraknya.
Aku tetap berjalan. Setidaknya aku benar-benar bisa hidup tanpa menjadi wanita bodoh 
Tanpanya.
---

9/8/15
08.12 pm
Lmao im so productive  in this weekend heh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar