“ive told you!” geramnya kesal. Yah sekesal-kesalnya dia tetap saja ia memegang tanganku yang tertutup perban ini erat seakan suatu saat tanganku bisa saja jatuh bebas tiba-tiba karena tak ada penghambat.
“apa sih?”
kali ini aku membalas ucapannya mengingat betapa banyak kosakata yang ia
lontarkan padaku begitu keluar dari tempat tato ini yang bodohnya ia hanya
mengatakan hal yang sama berulang-ulang
“sudah kukatakan”
“tato itu sakit tahu”
“kau tidak pantas, kulitmu tipis
pembalut tulang”
“kau tidak perlu mentato namaku seperti
itu, seperti anak ingusan yang baru pacaran saja”
Dan masih banyak lagi kosakata yang
sangat sia-sia mengingat aku tidak akan mendengarkannya dan lagi, semuanya
sudah terjadi ha.
Aku memberhentikan langkahku, menghentak
tanganku dari genggaman sakitnya itu
dan menyorotkan pandanganku pada lengan kirinya yang tak lagi ada celah untuk
melihat warna kulitnya karena sudah penuh dengan kumpulan tinta-tinta yang
membentuk gambar abstrak yang didesainnya sendiri. Semua tato dilengannya itu hanya
dipenuhi dengan gambar-gambar tidak jelas. Sama seperti sang penggambarnya.
Dan kau tahu apa yang membuatku kesal?
Disegala tato sialannya itu tidak ada satupun tato yang berkaitan denganku,
apalagi namaku.
Sebenarnya pacarnya itu aku atau
gambar-gambar tidak jelasnya itu, hah?!
Aku menarik nafas dan menghentaknya
“hampir seluruh tubuhmu ditutupi beragam gambar dan warna tidak jelas yang
sialnya kau gambar sendiri, tanpa ada satupun yang berhubungan denganku, aku
tidak masalah. Dan sekarang aku hanya ingin membuat tato dengan namamu yang
hanya menutupi tiga senti kulitku dan sekarang kau malah mengoceh seperti
ibu-ibu berumur setengah abad yang baru saja melihat anaknya koma karena
terpeleset kulit pisang. Sudahlah, lama-lama aku semakin berminat membuat tato
lebih banyak lagi dan kau tahu apa? Aku tidak akan membiarkanmu melarangku”
Aku bisa melihatnya menahan tawa,
mungkin kagum akan betapa suksesnya aku membuatnya terdiam dengan sekali
tarikan nafas. Tidak sepertinya yang lama-lama seperti mom. Apakah jiwa
keibuannya begitu kuat?
“dengar, Ally, kau itu perempuan—“
“lalu kenapa? aku tidak boleh mentato
tubuhku karena aku perempuan? Lalu kau anggap Christina Perri itu apa? Bukan
perempuan?” aku melipat kedua tanganku ke dada “eat that, Malik aku bahkan berencana mengikuti jejakmu dan tentu
saja gambar-gambar ditatoku nantinya akan lebih logis dan jelas lagi masuk akal
tidak sepertimu yang tidak jelas itu dan bahkan tidak ada namaku disana” dengan
begitu aku melanjutkan jalanku menuju mobilnya. Untung saja aku yang memegang
kuncinya jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan jika ia marah dan meninggalkanku
dijalanan karena hanya aku yang bisa melakukannya. Kunci mobilnya ditanganku,
kan?
Ketika beridiri dipintu aku bisa melihat
dia yang berjalan mengejarku jadi aku memutuskan untuk duduk dikursi penumpang.
Meletakkan kuncinya didashboard aku
duduk bersila dan menyilangkan kedua tanganku kebelakang kepala. Aku memejamkan
mata sebentar. Hah, kenapa jalannya lama sekali?!
Beberapa saat sesudahnya aku mendengar
suara pintu mobil yang terbuka dan menutup. Aku tetap memejamkan mataku dan
bersenandung kecil dan dia mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Aku baru saja akan mengubah posisi
kakiku ketika mataku dikejutkan dengan wajahnya yang tiba-tiba berada
didepanku. Sialan, apa yang dilakukannya? Tubuhku menegang seiring nafasnya
yang menguar didepan wajahku. Sialan.
Sial. Anak setan.
Aku berusaha mengalihkan perhatianku
kearah lain tapi rasanya begitu susah mengingat seluruh wajahnya benar-benar
berada tepat didepanku. Hentikan ini, satan.
Ia tertawa kecil dan memindahkan arah
pandangannya ke sisi kananku dan terimakasih, Tuhan, ia telah menjauhkan
wajahnya dariku
“pakai sabuk pengamanmu, anak kecil.”
ujarnya ditelinga kananku
“you
scared me, satan.”
Dan lagi, ia tertawa kecil, baiklah, dia
menang “kenapa, huh? Aku hanya berniat membuatmu aman disaat aku akan
menghukummu dengan mengendarai mobil ini sekencangnya lebih dari yang kau
pikir”
Aku menurunkan kedua tanganku dan
menatapnya dengan padangan horror. “don’t you dare. Don’t, you damned Zayn Malik”
“ah,
ya Alyssa, im so freaking damned” ia memamerkan senyum
setannya. Tuhan, dia benar-benar keturunan dari jenis yang kau benci.
“serius, Zayn. Jangan pernah. Aku. Serius”
seharusnya ia takluk dengan nada tajam dan tatapan hororku ini. apakah setan
benar-benar merasuki tubuhnya hingga ia tidak terpengaruh sama sekali dan tetap
bertahan didepan wajahku dengan senyum mengerikan itu?
Tiba tiba, dengan posisi yang masih
bertahan ia merenggut tanganku yang diperban dengan kasar dan sedetik kemudian
ia menggerakkan jarinya dikulit tanganku dengan halus.
“kau tahu?” ia menjeda ucapannya dan
menarik nafasnya pelan
“tidak.” Percayalah, aku masih berada
dalam kondisi tubuh yang menegang dan jantung yang berdegup karena wajahnya
yang kembali berada didepanku.
Ia memutar bola matanya “aku belum
selesai berbicara”
“tapi kau berhenti berbicara”
“terserah, hah” “kau tahu, aku
melarangmu agar tidak membuat tato dengan namaku—“
“kukira kita sudah selesai dengan
permasalahan tato ini, sudahlah malik. Kau memiliki pacar bukan memiliki anak
bayi. Dan kau bukan ibuku”
“—karena aku tahu itu tidak perlu. Kau tahu kenapa aku tidak pernah menggambarkan sesuatu
tentangmu dikulitku? Karena itu tidak perlu. Aku sudah lama menggambar namamu
dihatiku,“ aku menaikkan sebelah alisku, sementara ia kembali menarik nafas dan
menghembusnya pelan
“aku bisa saja menggambar dirimu
diseluruh kulitku, tapi aku tahu itu tidak perlu karena hei, kau pasti akan
merasa percaya diri” aku memutar kedua bola mataku “tidak.. tidak.. tapi
serius, aku tidak mau kau memenuhi kulitmu dengan tato sepertiku karena aku
tahu itu sakit. Aku sudah merasakannya dan aku tahu kau begitu lemah dengan hal
semacam itu, kau hanya mencoba memberontak karena aku bersikeras melarangmu
jauh sebelum kau menginginkan tato.”
“kau tahu apa, Z? this is aint make sense to me”
“—dan aku telah memenuhi seluruh ruang
dihatiku dengan nama dan segala kenangan tentangmu. Tidak terasa sakit saat
mentato itu dihati. Tapi aku tahu, ketika menghapus tato tentangmu dihati itu
jauh lebih sakit dari apapun yang bisa membunuh tubuhku.
Apapun yang mencoba untuk membunuhku,
aku akan kuat, karena kau, karena kau telah menguatkanku dari dalam. Selama kau
tidak meninggalkanku dan memaksaku untuk melepas tato di hati ini, karena
melepasnya sama saja dengan melepas roh didalam tubuhku”
Ah, ada apa dengannya. serius, dia
benar-benar tidak jelas
“are
you tried to bragging, Zayn? Baiklah, bisakah kita pergi sekarang? Apa kau
tidak lelah duduk dengan posisi yang tidak jelas seperti ini?” kau tahu, aku
merasa kasihan terhadap pingganya yang aku yakin pegal sekali mengingat
posisinya yang aneh dengan bagian pinggang kebawah berada dijok pengemudi dan badan hingga kepalanya di jok penumpang,
tepatnya, didepanku.
“baiklah, dan jangan lupakan bahwa aku
akan melaksanakan hukumanku”
“DON’T!”
--
Segalanya seperti angin bagiku, tidak
ada yang bisa kusentuh.
Aku tak bisa.
Aku berusaha untuk memeluknya yang
sedang duduk didepan batu nisanku itu, menguatkannya.
Ia harus hidup. Ia tidak bisa melepas
tatoku dihatinya karena aku ingin dia hidup.
Aku ingin memeluknya tapi disaat yang
sama aku juga ingin menendangnya, sial sekali baik dari kedua pilihan itu tidak
ada yang bisa kuwujudkan.
Aku ingin menendangnya akan kebodohannya
yang tidak berfikir ulang akan keputusannya untuk menghukumku dengan
mengendarai mobil gila-gilaan yang membuat kisahku berakhir disini.
“apa aku harus mempertahankan tato ini,
Ally?” aku bisa mendengar suara lirihnya yang seakan bicara pada batu nisanku.
Dan aku ingin memeluknya karena ini, aku
ingin ia hidup. Bertahan.
Aku benci situasi seperti ini dimana aku
tidak bisa melakukan apapun untuk meweujudkan keinginanku.
Dengan usaha yang kembali memuncak
walaupun akan sia-sia, aku mendekatinya, ikut duduk didepannya dan mengarahkan
tanganku pada wajahnya. Yah, aku tidak merasakan apa kecuali guncangan
dihatiku.
Mataku membuka besar, aku tidak ingin
menangis, Tuhan..
Aku tahu ini sia-sia tapi aku bersikeras
untuk berbisik ditelinganya. “tetaplah bersamaku, bertahanlah, biarkan aku melekat
dihatimu”
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar