Minggu, 02 Agustus 2015

Tattoo



“ive told you!” geramnya kesal. Yah sekesal-kesalnya dia tetap saja ia memegang tanganku yang tertutup perban ini erat seakan suatu saat tanganku bisa saja jatuh bebas tiba-tiba karena tak ada penghambat.
“apa sih?” kali ini aku membalas ucapannya mengingat betapa banyak kosakata yang ia lontarkan padaku begitu keluar dari tempat tato ini yang bodohnya ia hanya mengatakan hal yang sama berulang-ulang
            “sudah kukatakan”
            “tato itu sakit tahu”
            “kau tidak pantas, kulitmu tipis pembalut tulang”
“kau tidak perlu mentato namaku seperti itu, seperti anak ingusan yang baru pacaran saja”
Dan masih banyak lagi kosakata yang sangat sia-sia mengingat aku tidak akan mendengarkannya dan lagi, semuanya sudah terjadi ha.
Aku memberhentikan langkahku, menghentak tanganku dari genggaman sakitnya itu dan menyorotkan pandanganku pada lengan kirinya yang tak lagi ada celah untuk melihat warna kulitnya karena sudah penuh dengan kumpulan tinta-tinta yang membentuk gambar abstrak yang didesainnya sendiri. Semua tato dilengannya itu hanya dipenuhi dengan gambar-gambar tidak jelas. Sama seperti sang penggambarnya.
Dan kau tahu apa yang membuatku kesal? Disegala tato sialannya itu tidak ada satupun tato yang berkaitan denganku, apalagi namaku.
Sebenarnya pacarnya itu aku atau gambar-gambar tidak jelasnya itu, hah?!
Aku menarik nafas dan menghentaknya “hampir seluruh tubuhmu ditutupi beragam gambar dan warna tidak jelas yang sialnya kau gambar sendiri, tanpa ada satupun yang berhubungan denganku, aku tidak masalah. Dan sekarang aku hanya ingin membuat tato dengan namamu yang hanya menutupi tiga senti kulitku dan sekarang kau malah mengoceh seperti ibu-ibu berumur setengah abad yang baru saja melihat anaknya koma karena terpeleset kulit pisang. Sudahlah, lama-lama aku semakin berminat membuat tato lebih banyak lagi dan kau tahu apa? Aku tidak akan membiarkanmu melarangku”
Aku bisa melihatnya menahan tawa, mungkin kagum akan betapa suksesnya aku membuatnya terdiam dengan sekali tarikan nafas. Tidak sepertinya yang lama-lama seperti mom. Apakah jiwa keibuannya begitu kuat?
“dengar, Ally, kau itu perempuan—“
“lalu kenapa? aku tidak boleh mentato tubuhku karena aku perempuan? Lalu kau anggap Christina Perri itu apa? Bukan perempuan?” aku melipat kedua tanganku ke dada “eat that, Malik aku bahkan berencana mengikuti jejakmu dan tentu saja gambar-gambar ditatoku nantinya akan lebih logis dan jelas lagi masuk akal tidak sepertimu yang tidak jelas itu dan bahkan tidak ada namaku disana” dengan begitu aku melanjutkan jalanku menuju mobilnya. Untung saja aku yang memegang kuncinya jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan jika ia marah dan meninggalkanku dijalanan karena hanya aku yang bisa melakukannya. Kunci mobilnya ditanganku, kan?
Ketika beridiri dipintu aku bisa melihat dia yang berjalan mengejarku jadi aku memutuskan untuk duduk dikursi penumpang. Meletakkan kuncinya didashboard aku duduk bersila dan menyilangkan kedua tanganku kebelakang kepala. Aku memejamkan mata sebentar. Hah, kenapa jalannya lama sekali?!
Beberapa saat sesudahnya aku mendengar suara pintu mobil yang terbuka dan menutup. Aku tetap memejamkan mataku dan bersenandung kecil dan dia mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Aku baru saja akan mengubah posisi kakiku ketika mataku dikejutkan dengan wajahnya yang tiba-tiba berada didepanku. Sialan, apa yang dilakukannya? Tubuhku menegang seiring nafasnya yang menguar didepan wajahku. Sialan.
Sial. Anak setan.
Aku berusaha mengalihkan perhatianku kearah lain tapi rasanya begitu susah mengingat seluruh wajahnya benar-benar berada tepat didepanku. Hentikan ini, satan.
Ia tertawa kecil dan memindahkan arah pandangannya ke sisi kananku dan terimakasih, Tuhan, ia telah menjauhkan wajahnya dariku
“pakai sabuk pengamanmu, anak kecil.” ujarnya ditelinga kananku
you scared me, satan.”
Dan lagi, ia tertawa kecil, baiklah, dia menang “kenapa, huh? Aku hanya berniat membuatmu aman disaat aku akan menghukummu dengan mengendarai mobil ini sekencangnya lebih dari yang kau pikir”
Aku menurunkan kedua tanganku dan menatapnya dengan padangan horror.  don’t you dare. Don’t, you damned Zayn Malik”
“ah, ya Alyssa, im so freaking damned” ia memamerkan senyum setannya. Tuhan, dia benar-benar keturunan dari jenis yang kau benci.
“serius, Zayn. Jangan pernah. Aku. Serius” seharusnya ia takluk dengan nada tajam dan tatapan hororku ini. apakah setan benar-benar merasuki tubuhnya hingga ia tidak terpengaruh sama sekali dan tetap bertahan didepan wajahku dengan senyum mengerikan itu?
Tiba tiba, dengan posisi yang masih bertahan ia merenggut tanganku yang diperban dengan kasar dan sedetik kemudian ia menggerakkan jarinya dikulit tanganku dengan halus.
“kau tahu?” ia menjeda ucapannya dan menarik nafasnya pelan
“tidak.” Percayalah, aku masih berada dalam kondisi tubuh yang menegang dan jantung yang berdegup karena wajahnya yang kembali berada didepanku.
Ia memutar bola matanya “aku belum selesai berbicara”
“tapi kau berhenti berbicara”
“terserah, hah” “kau tahu, aku melarangmu agar tidak membuat tato dengan namaku—“
“kukira kita sudah selesai dengan permasalahan tato ini, sudahlah malik. Kau memiliki pacar bukan memiliki anak bayi. Dan kau bukan ibuku”
“—karena aku tahu itu tidak perlu. Kau  tahu kenapa aku tidak pernah menggambarkan sesuatu tentangmu dikulitku? Karena itu tidak perlu. Aku sudah lama menggambar namamu dihatiku,“ aku menaikkan sebelah alisku, sementara ia kembali menarik nafas dan menghembusnya pelan
“aku bisa saja menggambar dirimu diseluruh kulitku, tapi aku tahu itu tidak perlu karena hei, kau pasti akan merasa percaya diri” aku memutar kedua bola mataku “tidak.. tidak.. tapi serius, aku tidak mau kau memenuhi kulitmu dengan tato sepertiku karena aku tahu itu sakit. Aku sudah merasakannya dan aku tahu kau begitu lemah dengan hal semacam itu, kau hanya mencoba memberontak karena aku bersikeras melarangmu jauh sebelum kau menginginkan tato.”
“kau tahu apa, Z? this is aint make sense to me”
“—dan aku telah memenuhi seluruh ruang dihatiku dengan nama dan segala kenangan tentangmu. Tidak terasa sakit saat mentato itu dihati. Tapi aku tahu, ketika menghapus tato tentangmu dihati itu jauh lebih sakit dari apapun yang bisa membunuh tubuhku.
Apapun yang mencoba untuk membunuhku, aku akan kuat, karena kau, karena kau telah menguatkanku dari dalam. Selama kau tidak meninggalkanku dan memaksaku untuk melepas tato di hati ini, karena melepasnya sama saja dengan melepas roh didalam tubuhku”
Ah, ada apa dengannya. serius, dia benar-benar tidak jelas
are you tried to bragging, Zayn? Baiklah, bisakah kita pergi sekarang? Apa kau tidak lelah duduk dengan posisi yang tidak jelas seperti ini?” kau tahu, aku merasa kasihan terhadap pingganya yang aku yakin pegal sekali mengingat posisinya yang aneh dengan bagian pinggang kebawah berada dijok pengemudi dan badan hingga kepalanya di jok penumpang, tepatnya, didepanku.
“baiklah, dan jangan lupakan bahwa aku akan melaksanakan hukumanku”
“DON’T!”

--

Segalanya seperti angin bagiku, tidak ada yang bisa kusentuh.
Aku tak bisa.
Aku berusaha untuk memeluknya yang sedang duduk didepan batu nisanku itu, menguatkannya.
Ia harus hidup. Ia tidak bisa melepas tatoku dihatinya karena aku ingin dia hidup.
Aku ingin memeluknya tapi disaat yang sama aku juga ingin menendangnya, sial sekali baik dari kedua pilihan itu tidak ada yang bisa kuwujudkan.
Aku ingin menendangnya akan kebodohannya yang tidak berfikir ulang akan keputusannya untuk menghukumku dengan mengendarai mobil gila-gilaan yang membuat kisahku berakhir disini.
“apa aku harus mempertahankan tato ini, Ally?” aku bisa mendengar suara lirihnya yang seakan bicara pada  batu nisanku.
Dan aku ingin memeluknya karena ini, aku ingin ia hidup. Bertahan.
Aku benci situasi seperti ini dimana aku tidak bisa melakukan apapun untuk meweujudkan keinginanku.
Dengan usaha yang kembali memuncak walaupun akan sia-sia, aku mendekatinya, ikut duduk didepannya dan mengarahkan tanganku pada wajahnya. Yah, aku tidak merasakan apa kecuali guncangan dihatiku.
Mataku membuka besar, aku tidak ingin menangis, Tuhan..
Aku tahu ini sia-sia tapi aku bersikeras untuk berbisik ditelinganya. “tetaplah bersamaku, bertahanlah, biarkan aku melekat dihatimu”

--



Tidak ada komentar:

Posting Komentar