Alyssa menyandarkan
bahunya pada sandaran sofa di café ini, tanpa menghilangkan raut wajahnya yang
berkerut serta mata yang seolah lelah melihat keramaian yang ditemuinya pada
pusat kehidupan manusia modern, Mall.
Berusaha dengan cermat
mengamati manusia-manusia modern yang menghabiskan waktu dan tenaganya di
tempat ini padahal mereka tidaklah mendapat apapun kecuali sia-sia. Oke, satu
fakta tentang kehidupan di Mall didapatkan. Alyssa kembali menegakkan bahunya
dan berkutik dengan laptopnya tanpa peduli dengan tatapan pelayan yang
memandangnya seolah ingin menendang Alyssa saat ini juga. Bagaimana tidak?
Alyssa sudah nangkring di café ini
selama empat jam dan dia tidak memesan apapun kecuali mocha floatnya yang sudah kosong. Bagaimana pelayan-pelayan itu
tidak marah, ia membuat kesempatan orang lain untuk bertandang di cafenya
hilang karena dirinya yang menghabiskan tempat berjam-jam dan hanya memesan
minuman, yang benar saja.
Ha, fakta kedua tentang
kehidupan Mall terkhusus café. Risih akan tatapan pelayan itu Alyssa memilih
untuk mengambil secarik kertas yang telah dihias semenarik mungkin berisi
segala macam makanan dan minuman yang disediakan café itu. Ia memanggil pelayan
yang menghampirinya dengan wajah seperti mendapatkan emas yang seumur hidup
ditunggu-tunggu. Senyum merekah yang bagi Alyssa mudah saja menebak bahwa itu
senyum palsu. Tipikal manusia abad sekarang.
“duluan
saja, Ibu masih banyak urusan”
Ia kembali menyandarkan
bahunya pada sofa yang begitu empuk ini.
Apakah ia tidak berhak menghabiskan waktu dengan ibunya, bahkan di saat
ia di tuntut oleh bos-nya untuk membuat artikel pengamatan ini? Alyssa tahu
sekali ibunya lah yang paling bisa menulis artikel semacam ini, ibunyalah yang
membawanya dalam dunia menulis seperti ini. Ia tidak akan ikut campur terlalu dalam
jika ibunya tidak memaksa.
Sayang sekali
menurutnya Alyssa pada paksaan ibunya tidak lagi menjadi hal yang menakjubkan,
mereka sudah terpisah oleh tembok tak kasat mata yang membuat mereka tidak
mengenal satu sama lain. Walaupun ibunya yang selalu seperti itu.
Alyssa mengalihkan
pandangannya. Pohon cemara terpampang besar di pusat Mall itu, dengan hiasan
lampu warna-warni juga bintang di puncaknya. Juga, pohon itu di kelilingi oleh
kereta yang ditunggamgi sosok gemuk berbaju merah dengan janggut putih panjang
yang disebut mereka sebagai Santa, Tengah berkeliling menghinggapi anak-anak di
sekitarnya dan memberi mereka kotak yang dihias dengan campuran warna merah dan
hijau. Tak lupa dengan suara beratnya nan riang mengucapkan “ho.. ho.. ho.. selamat natal..”
Tak sadar segaris
senyum terukir dibibirnya. Begitu banyak bayangan terputar dikepalanya setelah
melihat momen ini.
“HAPPY BIRTHDAYYYYYY MISS
CHASEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE.” Alyssa terlonjak ketika mebuka
kotak kado natal yang diberi santa itu yang malah berisi kue, dibarengi dengan
santa yang tiba-tiba berubah menjadi Ayahnya mengambil alih kue itu dan
menempelkan kue yang dibuat dengan sempurna itu ke wajah Alyssa. Bagus sekali,
dengusnya. Kue seindah itu lebih baik di cerna dalam perutnya daripada membuat
wajahnya tercemar seperti ini.
“Ayahhh!” dengus Alyssa
seraya menghentak-hentakkan kakinya, sebagaimanapun pertunjukan kesal Alyssa
yang akan ditampilkannya kepada sosok Ayahnya, tentu saja tidak akan merubah senyum
lebar Ayahnya. Ini adalah hari yang penuh suka cita, akhirnya anaknya telah
menginjak usia dua puluh tahun, bagaimana bisa ia berhenti tersenyum?
“selamat ulang tahun, dear. Aku tidak percaya kau sudah dua
puluh tahun, rasanya baru saja kemarin aku menggendongmu dan memperlihatkan
pada dunia aku berhasil memiliki anak! Dan sekarang kau telah dewasa..
menginjak usia kuliah atau bahkan jika kau mau akan bertunangan dengan siapapun
laki-laki yang beruntung mendapatkanmu.. menikah.. mempunyai anak dan aku
memiliki cucu! Aku tidak sabar dengan itu!” Ayahnya begitu menggelebu dalam
mengucapkan kata-katanya, tak lupa dengan mata yang berbinar. Ini hari bahagia
anaknya! Tak mungkin ia tidak akan tersenyum akan hari ini.. anaknya, wanita
yang selamanya akan ia cintai beserta istrinya.
Tak sadar mereka berdua
meneteskan air mata. Tanpa berfikir lagi Alyssa memeluk ayahnya, ia tidak ingin
kehilangan ayahnya, begitu juga ibunya. Alyssa tidak ingin kehilangan apa yang
telah dimilikinya selama ini. Sungguh.
“terimakasih, Ayah, dan
hei! Aku tidak akan menikah diumur seperti ini.” Alyssa melepaskan pelukannya
mengingat salah satu ucapan ayahnya tadi. Tentu saja ia tidak ingin menikah.
Tidak di tahun ini, bahkan juga tahun depan. Tidak. Itu bukan hal yang penting
untuk direncanakan dini menurutnya.
“cepat atau lambat kau
pasti akan menikah, nak. Aku bertanya-bertanya siapakah laki-laki beruntung
yang memiliki kesempatan hidup bersamamu itu…” ayahnya menaik turunkan alisnya.
Hah, Alyssa mendengus
“ aku tidak memiliki
laki-laki manapun selain Ayah, hih.”
“semoga laki-laki itu
akan menemuimu dalam waktu dekat ini.” ayahnya menyeringai, menampilkan wajah
yang sedang merancang rencana. “yah.. baiklah.. kau harus melihat kejutan lain
di dalam rumah, silahkan masuk, Miss. Chase.”
Alyssa memutar bola
matanya dan mengikuti langkah ayahnya. Matanya membulat melihat apa yang ada
dihadapannya saat ini. Disana ibunya berdiri dengan senyum merekah, sepertinya
ibunya memiliki andil besar atas tata ruang saat ini yang di penuhi dengan warna
biru dengan gambar Stich mengelilingi, tidak lupa balon yang didominasi dengan
warna biru dan merah jambu serta tulisan “HAPYY 20TH PRINCESS CHASE!” oh, jangan lupakan dengan kue
lainnya yang penuh dengan hiasan Stich, salah satu kartun yang sangat digilai
Alyssan memenuhi penglihatannya saat ini. Ia merasa tidak lagi menjadi gadis
yang baru saja menginjak umur dua puluh tahun sekarang. Ia merasa menjadi bocah
yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-lima. Hiasan di rumah ini…
mengingatkannya dengan masa-masa kecil dulu.
Tanpa diberi aba-aba,
Ibunya berlari dan memeluk Alyssa erat. Mereka berputar-putar dalam pelukan
hangat itu seolah dunia untuk detik ini adalah milik mereka. Betapa bangga
Ibunya dengan sukses memelihara anak satu-satunya ini menjadi gadis nan menawan
hingga diumurnya yang memasuki kepala dua ini. Ia tidak bisa memperlakukan
Alyssa seperti anak-anak lagi. Buah hatinya sudah dewasa dan memiliki jalannya
sendiri sekarang. Alyssa berhenti berputar-putar karena pusing semakin melandanya
dan beralih mencium pipi Ibunya.
“Thanks, Ibu!!”
“Thank
me later, dear.” Alyssa menaikkan sebelah alis matanya.
Dia mencium sesuatu tidak beres saat ini melihat perubahan ekspresi ayah dan
ibunya saat ini. Apalagi yang dilakukan oleh mereka?
“berhenti basa-basi. Jadiiiiiiiii
kau terlalu polos jika berfikir hanya ini yang kami berikan untukmu di usia
kepala dua ini. Ayah dan Ibumu tidak sekuno itu.” betul juga, hampir saja
Alyssa berfikir seperti itu karena ia merasa kejutan ini sudah lebih dari
cukup.
“nah, coba tebak siapa
yang saat ini berbasa-basi, Ayah?”
Ayahnya hanya
melebarkan senyum memperlihatkan giginya yang mulai menghitam karena
kecintaannya pada rokok dan kopi itu.
Alyssa melengos “jadi,
ide apa yang terlintas dikepala kedua oranngtuaku ini, Hm?”
Alyssa menuruti ayahnya
ketika ia memberi isyarat untuk mengikutinya yang ternyata menuju kamar Alyssa
“here we
goooo.”
Mata Alyssa nyaris
ingin keluar. Kamarnya saat ini berubah seratus derajat dari kamarnya ketika ia
pergi tadi pagi. Ini sungguh segala hal yang diinginkan terjadi pada kamar
Alyssa menjadi kenyataan. Ia meneliti seluruh sudut ruangan, hampir saja ia
menabrak sesuatu yang tegak menjulang di depannya. Miniature menara Eiffel yang
tingginya mengalahkan Alyssa sendiri. Nyaris mencapai langit-langit kamarnya.
Seluruh dinding yang sebelumnya berwarna putih kusam, telah dicat menjadi ungu
terang dengan berbagai karikatur Eiffel. Bisa dibilang Alyssa adalah pecandu
menara tinggi dengan berbagai kisah indah dibalik menara Eiffel itu. Alyssa begitu
mencintai apapun yang berbau dengan Eiffel dan segala macam yang berada dalam
kota keindahan itu, Paris.
Seolah pemandangan akan
Eiffel masih belum cukup, kepala Alyssa nyaris menabrak sesuatu yang berdiri
menjulang dengan kedua tangannya yang membuka seolah menerima pelukan. Boneka
Stich. Tingginya juga nyaris menyamai tinggi miniature Eiffel tadi. Sekarang
Alyssa merasa menjadi makhluk terpendek dari semua yang ada di rumahnya.
Sungguh begitu
banyaknya perubahan dikamar Alyssa hingga Alyssa nyaris lupa bagaimana bentuk
kamar sebelumnya. Kamarnya sekarang seolah menjadi kota Paris-nya. Bagaimana ia
bisa berhenti mencintai kedua orang tuanya ini? Mereka tahu sekali bagaimana
membuat Alyssa menjdai lebih berarti.
“tenang, Nak. Aku tidak
hanya membuang keringat untuk merubah kamarmu menjadi kota Paris-mu ini…” ujar
Ayah Alyssa sambil mencari-cari sesuatu, Alyssa masih belum mengerti apa yang di ucapkannya “— nah, ini dia.”
Pandangan Alyssa dipenuhi oleh koper besar dengan hiasan bendera Negara
Perancis disana, matanya beralih pada kertas yang dikibar-kibarkan oleh
Ayahnya. Alyssa kemabli terperangah
“satu kursi pesawat
jurusan Australia-Perancis, atas nama
Alyssa Alexandria Chase untuk tanggal dua puluh januari hingga dua puluh
februari tahun dua ribu lima belas. Siap menanti.”
Tak ada yang terlontar
dari mulut Alyssa. Ayahnya begitu tahu apa yang dia inginkan sewaktu kecil.
“ Ayah… sungguh, ini
berlebihan..”
“ aku tahu itu tidak.
Aku tahu kau menginginkan ini sejak kau belum bisa membaca. Dan aku tahu inilah
kesempatan terbaik untuk memberi segalanya. Karena Princess pantas untuk mendapatkan segalanya yang ia inginkan. Dan
kau sekarang adalah Princess kami.
Aku, juga ibumu tentu akan melayanimu dengan sempurna.”
“Ayahmu benar, Tuan
Puteri.” Ibunya berdiri di pintu kamar Alyssa, melanjutkan langkahnya memasuki
kamar Alyssa dan merangkul bahu Ayah Alyssa.
Alyssa benar-benar
berada dalam dunia mimpi sekarang ini. betapa baiknya Tuhan yang memberikan
segalanya pada Alyssa satu hari penuh di saat usianya yang bertambah satu
tahun. Bagaimana ia tidak bisa mencintai hidupnya?
“tik, tok. Berhenti
melamun, kau belum melihat apa kejutanku untukmu” Ibunya menjentikkan jarinya
dan berdiri menghadap pintu kamar Alyssa yang terbuka, sedetik sesudah itu
tampaklah orang yang lima tahun ini sangat dirinduinya. Austin. Saudara
kembarnya yang melanjutkan kuliah di Harvard. Alyssa tidak pernah bertemu dengannya
selama lima tahun yang rasanya seperti seumur hidup. Dan sekarang Saudara
tersayangnya berdiri dihadapannya. Dengan senyum merekah dan wajah yang lebih
menawan
“ Selamat ulang tahun
untuk kita, Chase. “ ujarnya dengan senyum yang tak mau hilang dari wajahnya.
Tanpa berfikir lagi Alyssa langsung berlari dan menabrakkan tubuhnya pada orang
kesayangannya ini.
“Aku merindukanmuuuuuuuu.“
nyaris Alyssa ingin mengeluarkan suaranya denga volume tinggi namun ia
urungkan. Alyssa memeluk Austin erat dan berputar-putar bersamanya seolah
mereka hidup di umur sepuluh tahun.
“kau kira aku tidak?”
“ayoo kita pergi
jalan-jalan! Aku merindukan saat seperti ini dimana kita bisa berpergian
bersama-sama. secara lengkap, utuh!”
Alyssa tersentak dan
menghapus air matanya.
Kata lengkap dan utuh
seolah tidak ingin bersama dengan Alyssa. Musnah. Tak ada lagi kata lengkap di
kehidupannya. Hari bahagia itu direnggut Tuhan dalam hitungan beberapa detik
dengan kecelakaan yang membuatnya kehilangan Ayah dan Austin.
Juga kehilangan Ibunya.
Seolah dialah penyebab
mereka berdua meninggal, Ibunya menjauhi Alyssa. Tak ada niatnya satupun untuk
berbicara padanya, menyapapun tidak. Alyssa tidak marah jika Ibunya beranggapan
begitu karena memang benar; dialah penyebab segalanya hancur seperti ini. Dia
yang membuat Ayah dan Austin meninggalkan mereka. Alyssa tahu itu hingga ia
tidak berani untuk berbicara pada Ibunya.
Kamarnya seolah menjadi
rumah baginya. Alyssa tidak pernah keluar kamar hanya untuk menonton televisi di
ruang keluarga. Segala hal ia lakukan di dalam kamarnya. Begitu juga dengan
Ibunya. Alyssa hidup sendiri.
Alyssa menghapus air
matanya cepat dan kembali memperhatikan Santa yang tak lelahnya tertawa dan
menghibur anak-anak disekitarnya. Selama ini Alyssa selalu beranggapan yang
berada dibalik pakaian Santa itu adalah laki-laki. Ayah dari seseorang. Sosok
yang tidak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya pada buah hati sendiri. Sosok
yang selalu memberi kebahagiaan kepadan anak-anak. Seperti apa yang dilakukan
Santa saat ini. Sosok laki-laki, ialah mereka yang berguna untuk menyempurnakan
hidupmu. Dan ketika mereka hilang, kau juga akan kehilangan separuh jiwamu.
Seperti yang dirasakan Alyssa saat ini.
Alyssa kembali berkutik
pada layar laptopnnya mengingat hari yang semakin larut dan tidak akan ada
kejadian dimana Ibunya bersedia datang kesini untuk membantunya. Kembali
mengerjakan hal yang dulu selalu dikerjakannya bersama dengan Ayah dan Ibunya.
Sekarang tidak ada lagi harapan untuk tidak mengerjakan hal ini sendiri.
Alyssa menuliskan apa
yang terlintas di otaknya. Terserah saja jika kepala editor menganggap tulisan
Alyssa ngawur dan tidak jelas.
Setidaknya ia sudah melaksanakan tugasnya.
“Ibu,
Ayah dan semua keluargamu. Percayalah, mereka adalah yang terlahir dengan
sempurna untukmu” Alyssa menuliskan kata terakhir untuk
artikelnya sebagai penutup. Menyimpan dokumen itu dan beralih pada tugas
artikel lainnya. Entah kenapa kepala editornya hobi sekali melimpahkan tugas
pada Alyssa.
Alyssa merasakan seseorang
memperhatikannya sejak tadi, tapi dia tidak peduli dan beralih mengacak isi
tasnya untuk mengeluarkan charger
laptop mengingat baterai laptopnya yang semakin habis.
Sialnya, ia tidak
membawa charger. Alyssa merutuk
kesal. Bagaimana caranya menyelesaikan tugas-tugas yang akan dikumpulakn besok
ini? Bisa-bisa ia ditendang dengan semena-mena dari kantor oleh atasannya
karena hal ini.
Alyssa merasakan
seseorang berdiri didepan mejanya saat ini. ia mendongak dan mendapati sosok
berbaju merah dengan janggut putih panjang palsu berdiri dihadapannya, Santa.
Santa versi kurus, tepatnya— Alyssa baru menyadarinya. Ia berdiri dengan senyum
yang mengingatkan Alyssa pada sesorang, menjulurkan tangannya yang nampak kurus
dengan kotak yang dihiasi pita merah dan hijau di tangannya.
“ selamat natal dan
tahun baru.. semoga hidupmu terberkati” ujarnya dengan suara berat yang tampak
dipaksa. Alyssa tersenyum dan membuka kotak kado itu. Betapa terkejutnya ketika
ia mendapatkan seonggok charger laptopnya.
Matanya berbinar dan memeluk Santa yang kurus itu dengan erat.
“terimakasih! Aku tidak
akan melupakan hal ini” Alyssa bisa merasakan Santa itu sedikit risih atas
pelukannya hingga melepas pelukan itu dan pergi berjalan menjauhi Alyssa.
Betapa baiknya Tuhan yang selalu mendatangkan keagungannya di saat Alyssa
membutuhkan. Alyssa kembali berkutik pada laptopnya.
“pertolongan
selalu datang kepadamu, bagaimanapun bentuknya”
Alyssa akhirnya
beranjak dari café yang berjam-jam menjadi tumpangannya untuk menyelesaikan
tugas-tugasnya itu. Membuka kotak yang diberikan Santa tadi untuk meletakkan chargernya, Alyssa menemukan secari
kertas dengan gaya tulisan yang tidak asing lagi baginya; Hari baru dengan semangat baru. Yang kau cintai telah memaafkanmu. Selamat
natal dan tahun baru!. Alyssa mengangkat sebelah alisnya tidak menegerti
apa yang dimaksud tulisan ini. Entahlah, mungkin itu hanya secarik kertas yang
bukan untuknya, mungkin kotak ini merupakan kotak yang diberikan Santa pada
orang lain namun ia terjadi kekelruan atau bedebahlah. Alyssa tidak akan
mengambil pusing akan tulisan itu.
Alyssa menutup kotak
itu dan meletakkannya dalam tas lalu beranjak meninggalkan café ini. Sekilas
tampak oleh Alyssa wajah lega pelayan seperti bahagia akan kepergian Alyssa.
Alyssa membuka pintu
rumahnya dengan perasaan sungkan. Perasaan itu selalu datang tiap hari setiap
ia keluar dari kamar dan memasuki rumah. Sungkan, canggung, takut jika bertemu
dengan ibunya. Alyssa takut apa yang terjadi jika ia bertemu dengan Ibunya saat
ini. ia berjalan memasuki kamar tanpa membunyikan suara, berharap Ibunya tidak
ada dirumah atau sedang berada di kamar.
Entah sampai kapan ia
harus begini.
Ekor matanya menangkap
sebuah kain bewarna merah teronggok di sofa. Mirip pakaian yang dipakai para
Santa. Ah, sudahlah. Mungkin tetangganya atau siapapun salah melemparkan kain
itu dirumah ini. yang pasti ini tidak mungkin milik ibunya, kan?
Alyssa terlalu penat
untuk harus menambahkan perihal kain itu sebagai objek yang harus dipikirkan.
Ia terlalu penat. Bosan dengan segala yang terjadi pada dunia ini.
Walaupun jika dipikir
ulang, Alyssa pasti akan terbang melayang saking bahagianya jika menyadari siapa
pemilik kain tergeletak itu.
--
#Cliffhanger #hehehe #capekngelanjutin
#solanya #ngerasa #ceritaini #bertele #tele #hehe
Ohya, kalau mau tahu portray saya buat Alyssa itu… yap! Alyssa
Saufika Umari aka Ify Alyssa aka wanita cantikku<3
p.s: cerita ini terinspirasi dari Tenggat Waktu karya Djenar Maesa Ayu
tolong bedakan mana terinspirasi dengan copy-paste, ya. heheh