Senin, 16 Februari 2015

Those Three Words



Hari yang terlalu indah untuk harus mendengarkan ocehan orang-orang yang sama sekali tak berguna. Berjalan menghindari keramaian. Dari kejauhan, menonton segala tindak macam laku makhluk Tuhan tanpa membiarkan sepasang earphone terlepas dari telinganya—sekedar mengantisipasi jika seseorang berjalan di jarak yang dekat agar tidak mendengarkan ocehan murahan mereka.
Ify, salah satu dari miliaran ciptaan Tuhan berusaha menjauh dari kerumunan yang diciptakan oleh makhluk ciptaan Tuhannya. Ia hanya tidak ingin membiarkan dirinya terhanyut dalam percakapan aneh nan tak masuk akal lagi mengundang dosa dari makhluk-makhluk sekitarnya.
Apa yang ada dalam fikiran Ify hanyalah sosok ciptaan Tuhan yang berhasil menjadi sinar kehidupannya. Meskipun Ify tahu ia hanyalah sepercik dari berton-ton makhluk yang kecipratan sinar yang dihasilkan pemuda itu. Ah, sudahlah. Ini hari yang cerah oleh matahari.
Lagi, berbicara tentang hari cerah, membuatnya hanya kembali berfikir pada Sinarnya itu.. Ah, Ify lebih senang menyebutnya matahari. Hari indah yang begitu cerah, membuat semangatnya semakin bergelora untuk sekedar mendapatkan cipratan matahari-nya. Tak sabar lagi ia akan bertemu dengan matahari itu. Menebarkan cahaya yang khusus pada Ify. Hanya kepada Ify. Ify tahu benar itu setelah terlontarnya tiga kata yang mendebarkan dari mataharinya. Kini ia tahu ia tidak lagi memerlukan penerangan lagi karena matahari selalu ada padanya. Selalu. Kau tidak bisa berkata tidak karena Ify tidak akan menerima itu.
Meskipun sedikit tersinggah oleh hati Ify akan hari yang kelewat indah nan cerah ini. akankah ada awan yang tidak tahu diri menghalangi pancaran sinar matahari yang akan terciprat khusus untuknya saat ini? Tidak, tidak hanya saat ini, esok dan juga untuk selamanya.
Semoga awan masih memiliki sopan santun untuk tidak menghalangi Ify dengan matahari.
Jika dihitung jauh sebelum kisah ini dimulai, Ify telah begitu lama duduk menjauhi kerumunan untuk bertemu mataharinya yang tampaknya sedang sibuk. Kembali Ify menghembuskan nafas berat dan bersandar pada kursi taman yang sama sekali tidak nyaman ini. Lagu yang terputar di earphone Ify pun sudah berdemonstrasi agar diberi waktu istirahat. Ratusan lagu yang berada dalam Zune Ify telah ia putar berulang-ulang sejak ia duduk disini. Tidak cukup dikatakan lama bukan atas penantian Ify? Sangat terlalu lama.
Matahari. Salah satu ciptaan Tuhan yang maha sakti hingga manusia zaman dahulu pun sempat berfikir bahwa matahari adalah tuhannya saking begitu saktinya matahari terlihat. Bagaimana tidak? Bahkan ketika matahari baru saja bangkit, manusia sontak bangun dari peristirahatannya dan kembali melaksanakan kegiatan rutinnya, seolah matahari mengingatkan seluruh manusia akan kewajiban yang harus dilakukan manusia ketika matahari telah bangkit. Dan itu dilakukan matahari sendiri. Bayangkan betapa hebatnya matahari membuat perubahan terhadap miliaran manusia? Nah, itu baru satu dari beribu-ribu hal sakti yang dilakukan oleh matahrari.
Ify kembali mendesah dan mengangkat kepalanya yang telah lama menunduk membaca kisah roman dari penulis roman terindah baginya; Jane Austen. Rasanya ify menyesal telah mengangkat kepalanya. Ify juga menyesal memiliki mata yang langsung memusatkan penglihatannya pada matahari yang ditunggunya. membuat matanya sakit akan silauan dahsyat yang diberikan oleh matahrinya. Sakit di matanya langsung menjalar mendarah daging pada hatinya, jantungnya. Ah, harusnya Ify sadar. Matahari memang akan menyinarkan cahaya khusus padanya yang tentu saja akan membuat matanya sakit karena hanya ia yang akan menerima sinar itu. Duh.
Dan kau tahu apa yang lebih menyakitkan yang membuat sakit di mata yang telah menjalar keseluruh tubuhnya hingga darahnya pun ikut mendidih? Matahari itu datang bersama awan kelabu, tembus pandang namun tidak berlaku pada Ify karena ia tahu bahwa mataharinya tidak bersungguh-sungguh akan tiga kata yang dilontarkannya waktu itu
Tiga kata yang dulu membuat Ify terlontar jauh menemui langit ketujuh. Tiga kata yang membuatnya melupakan bulan, bintang dan segalanya karena sinar matahari yang menghipnotisnya hingga ia tak tahu lagi akan dunia disekitarnya. Tiga kata yang menawan.
Tiga kata yang tidak akan bisa membuat keadaan membaik saat ini.
Suatu hari Ify yakin, matahari akan menyesal menjadi dirinya saat ini. Karena matahari tidak pernah ditemani oleh bintang yang begitu setia menemani bulan. Tidak, matahari tidak akan mendapatkan sesuatu seperti yang didapatkan bulan.
Matahari berhak atas awan. Akan kelihaiannya bersembunyi dan berjumpa. Akan keahliannya mempesonakan matahari namun dibeberapa saat akan meninggalkann matahari karena angin yang mendesaknya untuk mencari yang lain. Matahari mungkin akan mendapat awan lain, Ify tahu itu. Tapi tetap saja beberapa saat yang datang angin akan menendang awan menjauhi matahari. Terus begitu di akhir hayat.
Percayalah, menjadi matahari tidaklah menyenangkan.
---
habis denger lagu Those Three Words-nya Lucy Hale, jadi kepikiran bikin ini hehe:3 
dan yapppp, Ify yang ada dibenak saya dalam nulis cerita ini itu Ify Alyssa aka Alyssa Saufika Umari aka Ify Blink wqeheheheh I adore this girl soooooooooooooooooooooooooooooooo muchh

Forgiveness



Alyssa menyandarkan bahunya pada sandaran sofa di café ini, tanpa menghilangkan raut wajahnya yang berkerut serta mata yang seolah lelah melihat keramaian yang ditemuinya pada pusat kehidupan manusia modern, Mall.
Berusaha dengan cermat mengamati manusia-manusia modern yang menghabiskan waktu dan tenaganya di tempat ini padahal mereka tidaklah mendapat apapun kecuali sia-sia. Oke, satu fakta tentang kehidupan di Mall didapatkan. Alyssa kembali menegakkan bahunya dan berkutik dengan laptopnya tanpa peduli dengan tatapan pelayan yang memandangnya seolah ingin menendang Alyssa saat ini juga. Bagaimana tidak? Alyssa sudah nangkring di café ini selama empat jam dan dia tidak memesan apapun kecuali mocha floatnya yang sudah kosong. Bagaimana pelayan-pelayan itu tidak marah, ia membuat kesempatan orang lain untuk bertandang di cafenya hilang karena dirinya yang menghabiskan tempat berjam-jam dan hanya memesan minuman, yang benar saja.
Ha, fakta kedua tentang kehidupan Mall terkhusus café. Risih akan tatapan pelayan itu Alyssa memilih untuk mengambil secarik kertas yang telah dihias semenarik mungkin berisi segala macam makanan dan minuman yang disediakan café itu. Ia memanggil pelayan yang menghampirinya dengan wajah seperti mendapatkan emas yang seumur hidup ditunggu-tunggu. Senyum merekah yang bagi Alyssa mudah saja menebak bahwa itu senyum palsu. Tipikal manusia abad sekarang.
“duluan saja, Ibu  masih banyak urusan”
Ia kembali menyandarkan bahunya pada sofa yang begitu empuk ini.  Apakah ia tidak berhak menghabiskan waktu dengan ibunya, bahkan di saat ia di tuntut oleh bos-nya untuk membuat artikel pengamatan ini? Alyssa tahu sekali ibunya lah yang paling bisa menulis artikel semacam ini, ibunyalah yang membawanya dalam dunia menulis seperti ini. Ia tidak akan ikut campur terlalu dalam jika ibunya tidak memaksa.
Sayang sekali menurutnya Alyssa pada paksaan ibunya tidak lagi menjadi hal yang menakjubkan, mereka sudah terpisah oleh tembok tak kasat mata yang membuat mereka tidak mengenal satu sama lain. Walaupun ibunya yang selalu seperti itu.
Alyssa mengalihkan pandangannya. Pohon cemara terpampang besar di pusat Mall itu, dengan hiasan lampu warna-warni juga bintang di puncaknya. Juga, pohon itu di kelilingi oleh kereta yang ditunggamgi sosok gemuk berbaju merah dengan janggut putih panjang yang disebut mereka sebagai Santa, Tengah berkeliling menghinggapi anak-anak di sekitarnya dan memberi mereka kotak yang dihias dengan campuran warna merah dan hijau. Tak lupa dengan suara beratnya nan riang mengucapkan “ho.. ho.. ho.. selamat natal..”
Tak sadar segaris senyum terukir dibibirnya. Begitu banyak bayangan terputar dikepalanya setelah melihat momen ini.

“HAPPY BIRTHDAYYYYYY MISS CHASEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE.” Alyssa terlonjak ketika mebuka kotak kado natal yang diberi santa itu yang malah berisi kue, dibarengi dengan santa yang tiba-tiba berubah menjadi Ayahnya mengambil alih kue itu dan menempelkan kue yang dibuat dengan sempurna itu ke wajah Alyssa. Bagus sekali, dengusnya. Kue seindah itu lebih baik di cerna dalam perutnya daripada membuat wajahnya tercemar seperti ini.
“Ayahhh!” dengus Alyssa seraya menghentak-hentakkan kakinya, sebagaimanapun pertunjukan kesal Alyssa yang akan ditampilkannya kepada sosok Ayahnya, tentu saja tidak akan merubah senyum lebar Ayahnya. Ini adalah hari yang penuh suka cita, akhirnya anaknya telah menginjak usia dua puluh tahun, bagaimana bisa ia berhenti tersenyum?
“selamat ulang tahun, dear. Aku tidak percaya kau sudah dua puluh tahun, rasanya baru saja kemarin aku menggendongmu dan memperlihatkan pada dunia aku berhasil memiliki anak! Dan sekarang kau telah dewasa.. menginjak usia kuliah atau bahkan jika kau mau akan bertunangan dengan siapapun laki-laki yang beruntung mendapatkanmu.. menikah.. mempunyai anak dan aku memiliki cucu! Aku tidak sabar dengan itu!” Ayahnya begitu menggelebu dalam mengucapkan kata-katanya, tak lupa dengan mata yang berbinar. Ini hari bahagia anaknya! Tak mungkin ia tidak akan tersenyum akan hari ini.. anaknya, wanita yang selamanya akan ia cintai beserta istrinya.
Tak sadar mereka berdua meneteskan air mata. Tanpa berfikir lagi Alyssa memeluk ayahnya, ia tidak ingin kehilangan ayahnya, begitu juga ibunya. Alyssa tidak ingin kehilangan apa yang telah dimilikinya selama ini. Sungguh.
“terimakasih, Ayah, dan hei! Aku tidak akan menikah diumur seperti ini.” Alyssa melepaskan pelukannya mengingat salah satu ucapan ayahnya tadi. Tentu saja ia tidak ingin menikah. Tidak di tahun ini, bahkan juga tahun depan. Tidak. Itu bukan hal yang penting untuk direncanakan dini menurutnya.
“cepat atau lambat kau pasti akan menikah, nak. Aku bertanya-bertanya siapakah laki-laki beruntung yang memiliki kesempatan hidup bersamamu itu…” ayahnya menaik turunkan alisnya. Hah, Alyssa mendengus
“ aku tidak memiliki laki-laki manapun selain Ayah, hih.”
“semoga laki-laki itu akan menemuimu dalam waktu dekat ini.” ayahnya menyeringai, menampilkan wajah yang sedang merancang rencana. “yah.. baiklah.. kau harus melihat kejutan lain di dalam rumah, silahkan masuk, Miss. Chase.”
Alyssa memutar bola matanya dan mengikuti langkah ayahnya. Matanya membulat melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. Disana ibunya berdiri dengan senyum merekah, sepertinya ibunya memiliki andil besar atas tata ruang saat ini yang di penuhi dengan warna biru dengan gambar Stich mengelilingi, tidak lupa balon yang didominasi dengan warna biru dan merah jambu serta tulisan “HAPYY 20TH  PRINCESS CHASE!” oh, jangan lupakan dengan kue lainnya yang penuh dengan hiasan Stich, salah satu kartun yang sangat digilai Alyssan memenuhi penglihatannya saat ini. Ia merasa tidak lagi menjadi gadis yang baru saja menginjak umur dua puluh tahun sekarang. Ia merasa menjadi bocah yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-lima. Hiasan di rumah ini… mengingatkannya dengan masa-masa kecil dulu.
Tanpa diberi aba-aba, Ibunya berlari dan memeluk Alyssa erat. Mereka berputar-putar dalam pelukan hangat itu seolah dunia untuk detik ini adalah milik mereka. Betapa bangga Ibunya dengan sukses memelihara anak satu-satunya ini menjadi gadis nan menawan hingga diumurnya yang memasuki kepala dua ini. Ia tidak bisa memperlakukan Alyssa seperti anak-anak lagi. Buah hatinya sudah dewasa dan memiliki jalannya sendiri sekarang. Alyssa berhenti berputar-putar karena pusing semakin melandanya dan beralih mencium pipi Ibunya.
Thanks, Ibu!!”
“Thank me later, dear.” Alyssa menaikkan sebelah alis matanya. Dia mencium sesuatu tidak beres saat ini melihat perubahan ekspresi ayah dan ibunya saat ini. Apalagi yang dilakukan oleh mereka?
“berhenti basa-basi. Jadiiiiiiiii kau terlalu polos jika berfikir hanya ini yang kami berikan untukmu di usia kepala dua ini. Ayah dan Ibumu tidak sekuno itu.” betul juga, hampir saja Alyssa berfikir seperti itu karena ia merasa kejutan ini sudah lebih dari cukup.
“nah, coba tebak siapa yang saat ini berbasa-basi, Ayah?”
Ayahnya hanya melebarkan senyum memperlihatkan giginya yang mulai menghitam karena kecintaannya pada rokok dan kopi itu.
Alyssa melengos “jadi, ide apa yang terlintas dikepala kedua oranngtuaku ini, Hm?”
Alyssa menuruti ayahnya ketika ia memberi isyarat untuk mengikutinya yang ternyata menuju kamar Alyssa
 here we goooo.”
Mata Alyssa nyaris ingin keluar. Kamarnya saat ini berubah seratus derajat dari kamarnya ketika ia pergi tadi pagi. Ini sungguh segala hal yang diinginkan terjadi pada kamar Alyssa menjadi kenyataan. Ia meneliti seluruh sudut ruangan, hampir saja ia menabrak sesuatu yang tegak menjulang di depannya. Miniature menara Eiffel yang tingginya mengalahkan Alyssa sendiri. Nyaris mencapai langit-langit kamarnya. Seluruh dinding yang sebelumnya berwarna putih kusam, telah dicat menjadi ungu terang dengan berbagai karikatur Eiffel. Bisa dibilang Alyssa adalah pecandu menara tinggi dengan berbagai kisah indah dibalik menara Eiffel itu. Alyssa begitu mencintai apapun yang berbau dengan Eiffel dan segala macam yang berada dalam kota keindahan itu, Paris.
Seolah pemandangan akan Eiffel masih belum cukup, kepala Alyssa nyaris menabrak sesuatu yang berdiri menjulang dengan kedua tangannya yang membuka seolah menerima pelukan. Boneka Stich. Tingginya juga nyaris menyamai tinggi miniature Eiffel tadi. Sekarang Alyssa merasa menjadi makhluk terpendek dari semua yang ada di rumahnya.
Sungguh begitu banyaknya perubahan dikamar Alyssa hingga Alyssa nyaris lupa bagaimana bentuk kamar sebelumnya. Kamarnya sekarang seolah menjadi kota Paris-nya. Bagaimana ia bisa berhenti mencintai kedua orang tuanya ini? Mereka tahu sekali bagaimana membuat Alyssa menjdai lebih berarti.
“tenang, Nak. Aku tidak hanya membuang keringat untuk merubah kamarmu menjadi kota Paris-mu ini…” ujar Ayah Alyssa sambil mencari-cari sesuatu, Alyssa masih belum mengerti apa  yang di ucapkannya “— nah, ini dia.” Pandangan Alyssa dipenuhi oleh koper besar dengan hiasan bendera Negara Perancis disana, matanya beralih pada kertas yang dikibar-kibarkan oleh Ayahnya. Alyssa kemabli terperangah
“satu kursi pesawat jurusan  Australia-Perancis, atas nama Alyssa Alexandria Chase untuk tanggal dua puluh januari hingga dua puluh februari tahun dua ribu lima belas. Siap menanti.”
Tak ada yang terlontar dari mulut Alyssa. Ayahnya begitu tahu apa yang dia inginkan sewaktu kecil.
“ Ayah… sungguh, ini berlebihan..”
“ aku tahu itu tidak. Aku tahu kau menginginkan ini sejak kau belum bisa membaca. Dan aku tahu inilah kesempatan terbaik untuk memberi segalanya. Karena Princess pantas untuk mendapatkan segalanya yang ia inginkan. Dan kau sekarang adalah Princess kami. Aku, juga ibumu tentu akan melayanimu dengan sempurna.”
“Ayahmu benar, Tuan Puteri.” Ibunya berdiri di pintu kamar Alyssa, melanjutkan langkahnya memasuki kamar Alyssa dan merangkul bahu Ayah Alyssa.
Alyssa benar-benar berada dalam dunia mimpi sekarang ini. betapa baiknya Tuhan yang memberikan segalanya pada Alyssa satu hari penuh di saat usianya yang bertambah satu tahun. Bagaimana ia tidak bisa mencintai hidupnya?
“tik, tok. Berhenti melamun, kau belum melihat apa kejutanku untukmu” Ibunya menjentikkan jarinya dan berdiri menghadap pintu kamar Alyssa yang terbuka, sedetik sesudah itu tampaklah orang yang lima tahun ini sangat dirinduinya. Austin. Saudara kembarnya yang melanjutkan kuliah di Harvard. Alyssa tidak pernah bertemu dengannya selama lima tahun yang rasanya seperti seumur hidup. Dan sekarang Saudara tersayangnya berdiri dihadapannya. Dengan senyum merekah dan wajah yang lebih menawan
“ Selamat ulang tahun untuk kita, Chase. “ ujarnya dengan senyum yang tak mau hilang dari wajahnya. Tanpa berfikir lagi Alyssa langsung berlari dan menabrakkan tubuhnya pada orang kesayangannya ini.
“Aku merindukanmuuuuuuuu.“ nyaris Alyssa ingin mengeluarkan suaranya denga volume tinggi namun ia urungkan. Alyssa memeluk Austin erat dan berputar-putar bersamanya seolah mereka hidup di umur sepuluh tahun.
“kau kira aku tidak?”
“ayoo kita pergi jalan-jalan! Aku merindukan saat seperti ini dimana kita bisa berpergian bersama-sama. secara lengkap, utuh!”

Alyssa tersentak dan menghapus air matanya.
Kata lengkap dan utuh seolah tidak ingin bersama dengan Alyssa. Musnah. Tak ada lagi kata lengkap di kehidupannya. Hari bahagia itu direnggut Tuhan dalam hitungan beberapa detik dengan kecelakaan yang membuatnya kehilangan Ayah dan Austin.
Juga kehilangan Ibunya.
Seolah dialah penyebab mereka berdua meninggal, Ibunya menjauhi Alyssa. Tak ada niatnya satupun untuk berbicara padanya, menyapapun tidak. Alyssa tidak marah jika Ibunya beranggapan begitu karena memang benar; dialah penyebab segalanya hancur seperti ini. Dia yang membuat Ayah dan Austin meninggalkan mereka. Alyssa tahu itu hingga ia tidak berani untuk berbicara pada Ibunya.
Kamarnya seolah menjadi rumah baginya. Alyssa tidak pernah keluar kamar hanya untuk menonton televisi di ruang keluarga. Segala hal ia lakukan di dalam kamarnya. Begitu juga dengan Ibunya. Alyssa hidup sendiri.
Alyssa menghapus air matanya cepat dan kembali memperhatikan Santa yang tak lelahnya tertawa dan menghibur anak-anak disekitarnya. Selama ini Alyssa selalu beranggapan yang berada dibalik pakaian Santa itu adalah laki-laki. Ayah dari seseorang. Sosok yang tidak pernah memperlihatkan sisi rapuhnya pada buah hati sendiri. Sosok yang selalu memberi kebahagiaan kepadan anak-anak. Seperti apa yang dilakukan Santa saat ini. Sosok laki-laki, ialah mereka yang berguna untuk menyempurnakan hidupmu. Dan ketika mereka hilang, kau juga akan kehilangan separuh jiwamu. Seperti yang dirasakan Alyssa saat ini.
Alyssa kembali berkutik pada layar laptopnnya mengingat hari yang semakin larut dan tidak akan ada kejadian dimana Ibunya bersedia datang kesini untuk membantunya. Kembali mengerjakan hal yang dulu selalu dikerjakannya bersama dengan Ayah dan Ibunya. Sekarang tidak ada lagi harapan untuk tidak mengerjakan hal ini sendiri.
Alyssa menuliskan apa yang terlintas di otaknya. Terserah saja jika kepala editor menganggap tulisan Alyssa ngawur dan tidak jelas. Setidaknya ia sudah melaksanakan tugasnya.
“Ibu, Ayah dan semua keluargamu. Percayalah, mereka adalah yang terlahir dengan sempurna untukmu” Alyssa menuliskan kata terakhir untuk artikelnya sebagai penutup. Menyimpan dokumen itu dan beralih pada tugas artikel lainnya. Entah kenapa kepala editornya hobi sekali melimpahkan tugas pada Alyssa.
Alyssa merasakan seseorang memperhatikannya sejak tadi, tapi dia tidak peduli dan beralih mengacak isi tasnya untuk mengeluarkan charger laptop mengingat baterai laptopnya yang semakin habis.
Sialnya, ia tidak membawa charger. Alyssa merutuk kesal. Bagaimana caranya menyelesaikan tugas-tugas yang akan dikumpulakn besok ini? Bisa-bisa ia ditendang dengan semena-mena dari kantor oleh atasannya karena hal ini.
Alyssa merasakan seseorang berdiri didepan mejanya saat ini. ia mendongak dan mendapati sosok berbaju merah dengan janggut putih panjang palsu berdiri dihadapannya, Santa. Santa versi kurus, tepatnya— Alyssa baru menyadarinya. Ia berdiri dengan senyum yang mengingatkan Alyssa pada sesorang, menjulurkan tangannya yang nampak kurus dengan kotak yang dihiasi pita merah dan hijau di tangannya.
“ selamat natal dan tahun baru.. semoga hidupmu terberkati” ujarnya dengan suara berat yang tampak dipaksa. Alyssa tersenyum dan membuka kotak kado itu. Betapa terkejutnya ketika ia mendapatkan seonggok charger laptopnya. Matanya berbinar dan memeluk Santa yang kurus itu dengan erat.
“terimakasih! Aku tidak akan melupakan hal ini” Alyssa bisa merasakan Santa itu sedikit risih atas pelukannya hingga melepas pelukan itu dan pergi berjalan menjauhi Alyssa. Betapa baiknya Tuhan yang selalu mendatangkan keagungannya di saat Alyssa membutuhkan. Alyssa kembali berkutik pada laptopnya.
“pertolongan selalu datang kepadamu, bagaimanapun bentuknya”
Alyssa akhirnya beranjak dari café yang berjam-jam menjadi tumpangannya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya itu. Membuka kotak yang diberikan Santa tadi untuk meletakkan chargernya, Alyssa menemukan secari kertas dengan gaya tulisan yang tidak asing lagi baginya; Hari baru dengan semangat baru. Yang kau cintai telah memaafkanmu. Selamat natal dan tahun baru!. Alyssa mengangkat sebelah alisnya tidak menegerti apa yang dimaksud tulisan ini. Entahlah, mungkin itu hanya secarik kertas yang bukan untuknya, mungkin kotak ini merupakan kotak yang diberikan Santa pada orang lain namun ia terjadi kekelruan atau bedebahlah. Alyssa tidak akan mengambil pusing akan tulisan itu.
Alyssa menutup kotak itu dan meletakkannya dalam tas lalu beranjak meninggalkan café ini. Sekilas tampak oleh Alyssa wajah lega pelayan seperti bahagia akan kepergian Alyssa.
Alyssa membuka pintu rumahnya dengan perasaan sungkan. Perasaan itu selalu datang tiap hari setiap ia keluar dari kamar dan memasuki rumah. Sungkan, canggung, takut jika bertemu dengan ibunya. Alyssa takut apa yang terjadi jika ia bertemu dengan Ibunya saat ini. ia berjalan memasuki kamar tanpa membunyikan suara, berharap Ibunya tidak ada dirumah atau sedang berada di kamar.
Entah sampai kapan ia harus begini.
Ekor matanya menangkap sebuah kain bewarna merah teronggok di sofa. Mirip pakaian yang dipakai para Santa. Ah, sudahlah. Mungkin tetangganya atau siapapun salah melemparkan kain itu dirumah ini. yang pasti ini tidak mungkin milik ibunya, kan?
Alyssa terlalu penat untuk harus menambahkan perihal kain itu sebagai objek yang harus dipikirkan. Ia terlalu penat. Bosan dengan segala yang terjadi pada dunia ini.
Walaupun jika dipikir ulang, Alyssa pasti akan terbang melayang saking bahagianya jika menyadari siapa pemilik kain tergeletak itu.
--
#Cliffhanger #hehehe #capekngelanjutin #solanya #ngerasa #ceritaini #bertele #tele #hehe
Ohya, kalau mau tahu portray saya buat Alyssa itu… yap! Alyssa Saufika Umari aka Ify Alyssa aka wanita cantikku<3 

p.s: cerita ini terinspirasi dari Tenggat Waktu karya Djenar Maesa Ayu
tolong bedakan mana terinspirasi dengan copy-paste, ya. heheh