Senin, 16 Februari 2015

Those Three Words



Hari yang terlalu indah untuk harus mendengarkan ocehan orang-orang yang sama sekali tak berguna. Berjalan menghindari keramaian. Dari kejauhan, menonton segala tindak macam laku makhluk Tuhan tanpa membiarkan sepasang earphone terlepas dari telinganya—sekedar mengantisipasi jika seseorang berjalan di jarak yang dekat agar tidak mendengarkan ocehan murahan mereka.
Ify, salah satu dari miliaran ciptaan Tuhan berusaha menjauh dari kerumunan yang diciptakan oleh makhluk ciptaan Tuhannya. Ia hanya tidak ingin membiarkan dirinya terhanyut dalam percakapan aneh nan tak masuk akal lagi mengundang dosa dari makhluk-makhluk sekitarnya.
Apa yang ada dalam fikiran Ify hanyalah sosok ciptaan Tuhan yang berhasil menjadi sinar kehidupannya. Meskipun Ify tahu ia hanyalah sepercik dari berton-ton makhluk yang kecipratan sinar yang dihasilkan pemuda itu. Ah, sudahlah. Ini hari yang cerah oleh matahari.
Lagi, berbicara tentang hari cerah, membuatnya hanya kembali berfikir pada Sinarnya itu.. Ah, Ify lebih senang menyebutnya matahari. Hari indah yang begitu cerah, membuat semangatnya semakin bergelora untuk sekedar mendapatkan cipratan matahari-nya. Tak sabar lagi ia akan bertemu dengan matahari itu. Menebarkan cahaya yang khusus pada Ify. Hanya kepada Ify. Ify tahu benar itu setelah terlontarnya tiga kata yang mendebarkan dari mataharinya. Kini ia tahu ia tidak lagi memerlukan penerangan lagi karena matahari selalu ada padanya. Selalu. Kau tidak bisa berkata tidak karena Ify tidak akan menerima itu.
Meskipun sedikit tersinggah oleh hati Ify akan hari yang kelewat indah nan cerah ini. akankah ada awan yang tidak tahu diri menghalangi pancaran sinar matahari yang akan terciprat khusus untuknya saat ini? Tidak, tidak hanya saat ini, esok dan juga untuk selamanya.
Semoga awan masih memiliki sopan santun untuk tidak menghalangi Ify dengan matahari.
Jika dihitung jauh sebelum kisah ini dimulai, Ify telah begitu lama duduk menjauhi kerumunan untuk bertemu mataharinya yang tampaknya sedang sibuk. Kembali Ify menghembuskan nafas berat dan bersandar pada kursi taman yang sama sekali tidak nyaman ini. Lagu yang terputar di earphone Ify pun sudah berdemonstrasi agar diberi waktu istirahat. Ratusan lagu yang berada dalam Zune Ify telah ia putar berulang-ulang sejak ia duduk disini. Tidak cukup dikatakan lama bukan atas penantian Ify? Sangat terlalu lama.
Matahari. Salah satu ciptaan Tuhan yang maha sakti hingga manusia zaman dahulu pun sempat berfikir bahwa matahari adalah tuhannya saking begitu saktinya matahari terlihat. Bagaimana tidak? Bahkan ketika matahari baru saja bangkit, manusia sontak bangun dari peristirahatannya dan kembali melaksanakan kegiatan rutinnya, seolah matahari mengingatkan seluruh manusia akan kewajiban yang harus dilakukan manusia ketika matahari telah bangkit. Dan itu dilakukan matahari sendiri. Bayangkan betapa hebatnya matahari membuat perubahan terhadap miliaran manusia? Nah, itu baru satu dari beribu-ribu hal sakti yang dilakukan oleh matahrari.
Ify kembali mendesah dan mengangkat kepalanya yang telah lama menunduk membaca kisah roman dari penulis roman terindah baginya; Jane Austen. Rasanya ify menyesal telah mengangkat kepalanya. Ify juga menyesal memiliki mata yang langsung memusatkan penglihatannya pada matahari yang ditunggunya. membuat matanya sakit akan silauan dahsyat yang diberikan oleh matahrinya. Sakit di matanya langsung menjalar mendarah daging pada hatinya, jantungnya. Ah, harusnya Ify sadar. Matahari memang akan menyinarkan cahaya khusus padanya yang tentu saja akan membuat matanya sakit karena hanya ia yang akan menerima sinar itu. Duh.
Dan kau tahu apa yang lebih menyakitkan yang membuat sakit di mata yang telah menjalar keseluruh tubuhnya hingga darahnya pun ikut mendidih? Matahari itu datang bersama awan kelabu, tembus pandang namun tidak berlaku pada Ify karena ia tahu bahwa mataharinya tidak bersungguh-sungguh akan tiga kata yang dilontarkannya waktu itu
Tiga kata yang dulu membuat Ify terlontar jauh menemui langit ketujuh. Tiga kata yang membuatnya melupakan bulan, bintang dan segalanya karena sinar matahari yang menghipnotisnya hingga ia tak tahu lagi akan dunia disekitarnya. Tiga kata yang menawan.
Tiga kata yang tidak akan bisa membuat keadaan membaik saat ini.
Suatu hari Ify yakin, matahari akan menyesal menjadi dirinya saat ini. Karena matahari tidak pernah ditemani oleh bintang yang begitu setia menemani bulan. Tidak, matahari tidak akan mendapatkan sesuatu seperti yang didapatkan bulan.
Matahari berhak atas awan. Akan kelihaiannya bersembunyi dan berjumpa. Akan keahliannya mempesonakan matahari namun dibeberapa saat akan meninggalkann matahari karena angin yang mendesaknya untuk mencari yang lain. Matahari mungkin akan mendapat awan lain, Ify tahu itu. Tapi tetap saja beberapa saat yang datang angin akan menendang awan menjauhi matahari. Terus begitu di akhir hayat.
Percayalah, menjadi matahari tidaklah menyenangkan.
---
habis denger lagu Those Three Words-nya Lucy Hale, jadi kepikiran bikin ini hehe:3 
dan yapppp, Ify yang ada dibenak saya dalam nulis cerita ini itu Ify Alyssa aka Alyssa Saufika Umari aka Ify Blink wqeheheheh I adore this girl soooooooooooooooooooooooooooooooo muchh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar