Hari
yang terlalu indah untuk harus mendengarkan ocehan orang-orang yang sama sekali
tak berguna. Berjalan menghindari keramaian. Dari kejauhan, menonton segala
tindak macam laku makhluk Tuhan tanpa membiarkan sepasang earphone terlepas dari telinganya—sekedar mengantisipasi jika
seseorang berjalan di jarak yang dekat agar tidak mendengarkan ocehan murahan
mereka.
Ify,
salah satu dari miliaran ciptaan Tuhan berusaha menjauh dari kerumunan yang diciptakan
oleh makhluk ciptaan Tuhannya. Ia hanya tidak ingin membiarkan dirinya
terhanyut dalam percakapan aneh nan tak masuk akal lagi mengundang dosa dari
makhluk-makhluk sekitarnya.
Apa
yang ada dalam fikiran Ify hanyalah sosok ciptaan Tuhan yang berhasil menjadi
sinar kehidupannya. Meskipun Ify tahu ia hanyalah sepercik dari berton-ton
makhluk yang kecipratan sinar yang dihasilkan pemuda itu. Ah, sudahlah. Ini
hari yang cerah oleh matahari.
Lagi,
berbicara tentang hari cerah, membuatnya hanya kembali berfikir pada Sinarnya
itu.. Ah, Ify lebih senang menyebutnya matahari. Hari indah yang begitu cerah,
membuat semangatnya semakin bergelora untuk sekedar mendapatkan cipratan
matahari-nya. Tak sabar lagi ia akan bertemu dengan matahari itu. Menebarkan
cahaya yang khusus pada Ify. Hanya kepada Ify. Ify tahu benar itu setelah
terlontarnya tiga kata yang mendebarkan dari mataharinya. Kini ia tahu ia tidak
lagi memerlukan penerangan lagi karena matahari selalu ada padanya. Selalu. Kau
tidak bisa berkata tidak karena Ify tidak akan menerima itu.
Meskipun
sedikit tersinggah oleh hati Ify akan hari yang kelewat indah nan cerah ini.
akankah ada awan yang tidak tahu diri menghalangi pancaran sinar matahari yang
akan terciprat khusus untuknya saat ini? Tidak, tidak hanya saat ini, esok dan
juga untuk selamanya.
Semoga
awan masih memiliki sopan santun untuk tidak menghalangi Ify dengan matahari.
Jika
dihitung jauh sebelum kisah ini dimulai, Ify telah begitu lama duduk menjauhi
kerumunan untuk bertemu mataharinya yang tampaknya sedang sibuk. Kembali Ify
menghembuskan nafas berat dan bersandar pada kursi taman yang sama sekali tidak
nyaman ini. Lagu yang terputar di earphone
Ify pun sudah berdemonstrasi agar diberi waktu istirahat. Ratusan lagu yang
berada dalam Zune Ify telah ia putar berulang-ulang sejak ia duduk disini.
Tidak cukup dikatakan lama bukan atas penantian Ify? Sangat terlalu lama.
Matahari.
Salah satu ciptaan Tuhan yang maha sakti hingga manusia zaman dahulu pun sempat
berfikir bahwa matahari adalah tuhannya saking begitu saktinya matahari
terlihat. Bagaimana tidak? Bahkan ketika matahari baru saja bangkit, manusia
sontak bangun dari peristirahatannya dan kembali melaksanakan kegiatan
rutinnya, seolah matahari mengingatkan seluruh manusia akan kewajiban yang
harus dilakukan manusia ketika matahari telah bangkit. Dan itu dilakukan
matahari sendiri. Bayangkan betapa hebatnya matahari membuat perubahan terhadap
miliaran manusia? Nah, itu baru satu dari beribu-ribu hal sakti yang dilakukan
oleh matahrari.
Ify
kembali mendesah dan mengangkat kepalanya yang telah lama menunduk membaca
kisah roman dari penulis roman terindah baginya; Jane Austen. Rasanya ify
menyesal telah mengangkat kepalanya. Ify juga menyesal memiliki mata yang
langsung memusatkan penglihatannya pada matahari yang ditunggunya. membuat
matanya sakit akan silauan dahsyat yang diberikan oleh matahrinya. Sakit di
matanya langsung menjalar mendarah daging pada hatinya, jantungnya. Ah,
harusnya Ify sadar. Matahari memang akan menyinarkan cahaya khusus padanya yang
tentu saja akan membuat matanya sakit karena hanya ia yang akan menerima sinar
itu. Duh.
Dan
kau tahu apa yang lebih menyakitkan yang membuat sakit di mata yang telah
menjalar keseluruh tubuhnya hingga darahnya pun ikut mendidih? Matahari itu
datang bersama awan kelabu, tembus pandang namun tidak berlaku pada Ify karena
ia tahu bahwa mataharinya tidak bersungguh-sungguh akan tiga kata yang
dilontarkannya waktu itu
Tiga
kata yang dulu membuat Ify terlontar jauh menemui langit ketujuh. Tiga kata
yang membuatnya melupakan bulan, bintang dan segalanya karena sinar matahari
yang menghipnotisnya hingga ia tak tahu lagi akan dunia disekitarnya. Tiga kata
yang menawan.
Tiga
kata yang tidak akan bisa membuat keadaan membaik saat ini.
Suatu
hari Ify yakin, matahari akan menyesal menjadi dirinya saat ini. Karena
matahari tidak pernah ditemani oleh bintang yang begitu setia menemani bulan.
Tidak, matahari tidak akan mendapatkan sesuatu seperti yang didapatkan bulan.
Matahari
berhak atas awan. Akan kelihaiannya bersembunyi dan berjumpa. Akan keahliannya mempesonakan
matahari namun dibeberapa saat akan meninggalkann matahari karena angin yang
mendesaknya untuk mencari yang lain. Matahari mungkin akan mendapat awan lain,
Ify tahu itu. Tapi tetap saja beberapa saat yang datang angin akan menendang
awan menjauhi matahari. Terus begitu di akhir hayat.
Percayalah,
menjadi matahari tidaklah menyenangkan.
---
habis denger lagu Those Three Words-nya Lucy Hale, jadi kepikiran bikin ini hehe:3
dan yapppp, Ify yang ada dibenak saya dalam nulis cerita ini itu Ify Alyssa aka Alyssa Saufika Umari aka Ify Blink wqeheheheh I adore this girl soooooooooooooooooooooooooooooooo muchh
dan yapppp, Ify yang ada dibenak saya dalam nulis cerita ini itu Ify Alyssa aka Alyssa Saufika Umari aka Ify Blink wqeheheheh I adore this girl soooooooooooooooooooooooooooooooo muchh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar