Senin, 20 Januari 2020

ilang.

Ilalang menemukan jalan keluarnya.

Setelah berjalan, merintih. Berlari, meraung. Tertatih-tatih mengelukan hadiah dari Sang Dewi atas prestasinya yang berhasil untuk bertahan dalam kepandiran itu. Tiga ratus hari, mungkin lebih.

Ilalang menemukan cahaya barunya.
Tidak ada lagi kegelapan kelam suram muram kusam silam temaram meredamnya. Ia berhasil keluar.

Ilalang telah terbang melayang lalu lalang dengan lapang.
tidak perlu menoleh ke belakang, tidak ada lagi Ilalang yang Hilang

Minggu, 19 Januari 2020

empat dinding yang kau buat runtuh

Jadi selama ini, dinding yang aku bangun menjulang dengan batu bata yang tersusun rapi itu telah rapuh.

Ini terjadi, semenjak dinding yang kubanggakan ini telah kubongkar satu batu batanya dengan bantuanmu agar kau bisa masuk.

Kau terlalu banyak bertingkah di dalam ruang dindingku, ia tidak bisa menahanmu lagi.
Menginginkanmu untuk tidak disana lagi. 
Dengan merapuhkan kekokohannya.



----
SOOO, I decided to put my assignment to this platform (yas, that 14 poem yang aku post di hari yang sama ini sbnrnya adalah tugas semester tigaku ahhaha)

benar-benar arifkanlah..

Sanubarimu, mengarifkan nuraniku

Benarlah, Tuan, kuberharap itulah keadaan yang terjadi.
Benarlah, kuberharap keduanyalah yang tidak akan berpisah
Benarlah, kuberharap keduanya akan saling memperbaiki
Benarlah, kuberharap keduanya saling bertahan
Benarlah, kuberharap keduanya tidak akan terurai
Benarlah, kuberharap keduanya memang benar terjalin dengan piawai.

Sanubariku, arifkanlah nuranimu.

katanya, dia selalu salah.

Katanya, dia segumpal kesalahan yang tidak memiliki harapan. Dengan segala usahanya yang tidak akan kau temukan makna. Dia tidak memiliki harapan. Tidak, dia memiliki harapan. Namun tidak ada yang bisa melihatnya, termasuk benaknya sendiri. Kesalahanlah yang selalu memberinya ruang untuk pengakuan; dia salah, dia salah, dia salah. Hanya salah yang pantas menjadi jati dirinya. Harapannya, adalah salah.

Katanya, kehidupannya bukan mengikuti petuah orang tua. Kehidupannya, mengikuti harapan yang ada di benaknya. Salah.
Katanya.

ayo, putuskan.

Entah harus kuagungkan jiwamu kepada sang Fajar
Dengan permainannya, yang mengelabuiku menuju bukit tidak bercahaya
Menipuku bahwa tidak ada lagi kirana untukku, gelap redup gulita.
Menungguku untuk menyerah.

Lalu permainan selesai, aku menang, kau beri hadiah;
Seonggok cahaya yang tidak terhingga

Atau haruskah kumuliakan jiwamu pada sang Senja
Dengan elok lembayung senjanya menuntunku kepada hamparan ombak, berkejaran menarikku untuk tenggelam.
Tidak ada permainan, hanya segubuk euforia
Antara bertahan kepadanya
Di kala seisi alam menggodaku tenggelam

Pada akhirnya,
Bertahan pada lembayung senja yang meredup gulita.
Tamat.

patuhi Tuan

Aku bersumpah kupu-kupu dalam jiwa ini sangatlah ramai.
Mereka menari, aku terbungkam

Aku berada di segala sisi ruangmu
Aku selalu berada di segala detik waktumu

Dengan begitu;
Kau bersumpah hutan itulah bernaungnya hidupmu
Mereka mengheningkan diri untuk menyambutku
Mereka berada di segala sisi namun tidak di sisi mataku
Mereka selalu berada di segala perintahmu.

Dan apakah, perintahmu adalah agar aku tidak takut dengan kehidupanmu, Tuan Raja Hutan?

siapa tahu?

     Siapa tahu mujur akan menjadi lacur?
     Siapa tahu aku akan menjadi hancur?
     Siapa tahu kau akan melebur?
     Siapa tahu mereka akan berseluncur?
   Melihat pemandanganmu yang telah bertabur
  Hancur lembur berdebur berkabur
Kau telah kabur?

Siapa tahu?

sendiri itu yang takut padaku

Selagi engkau masih mengelilingi hidupku, lalu aku bertingkah layaknya aku tidak sendiri.

Dan karena aku tahu kau masih di sekelilingku.
Dan maafkan aku tidak akan membahas dirimu saat ini.

Aku ingin mengelilingi diriku sendiri, dengan kepercayaan bahwa aku tidak sendiri.
Aku tidak takut sendiri.

Tapi,
Mungkin sendirilah yang benar-benar takut menghampiriku.

Aku kuat, aku tidak butuh sendiri
Aku harus kuat, aku butuh dikelilingimu.

Ah, sudah kubilang aku sedang tidak mau membahas dirimu saat ini.

Dan sendiri memang benarlah takut menghampiriku
Dan saat ini kau mengelilingiku dari ujung pelupuk mata itu.

Sendiri memang takut menghampiriku.
Ucapkanlah, butuhkah aku untuk merasakan sendiri dari kejauhan kau saat ini?

segalanya kau.

Di sela segala serigala yang bergala.

Galaksi yang menjadi sebuah gala oleh engkau
Memberi segala daya bergalau

Menghadirkan aku yang tak akan bisa lagi berpindah dari kau.

buruk.

Sebut aku nasib buruk; aku datang hampa pada hidupnya yang aku kira telah hampa pula.
Sebut aku nasib buruk; aku pergi mengacaukan hidupnya, karena telah kau kacaukan pula hidupnya.
Sebut aku nasib buruk; dering telepon permintaan maaf itu pada akhirnya akan membeku.
Sebut aku nasib buruk.
Pada akhirnya, kita akan menjadi ambruk.

satu arti.

Hitam Putih adalah yang aku butuhkan dalam mayapada ini.
Aku mengagumi mereka.
Karena hanya itulah yang akan membantuku.

Tidak ada keraguan. 
Sedih, hitam. Tenang, putih.

Tidak ada pengacau yang akan merusuhkan kelabuku,
Yang akan selalu menjadi penyamaranku
Dalam menyembunyikan warnaku padamu.
Ketika tidak ada lagi sedu dan tenang yang akan kau sajikan pada hidupku.

warna kami tidak menyatu

Berakhirku gelap, berawalmu cerah.
Menemukanku abu-abu, menemukanmu kelabu.

Abu-abu tidak padu apa yang kau sentuh,
Kelabu saru apa yang aku temu

Akhirnya, fajar menjadi titik temu.
Titik awal memulai.

Ah, kasih..
Setidaknya kita memiliki warna!

berlabuhlah..

Aku tidak akan lagi menghidupkan permainan ini.
Apapun kau menyebutnya, aku tetap menganggap ini permainan.

Kepada segala ombak yang kau pasang surutkan. Aku terheran.
Kau perintahkan aku untuk kendalikan mereka?
Bukankah benar ini sebuah permainan?

Aku tidak akan lagi mengendalikan ombak ini.
Ragaku tidak lagi sepadan, sukmaku tidak lagi setara.

Selantang apapun kau teriakkan dari penghujung batu besar itu.
"Ini bukan permainan!"
Aku akan masih tetap menyebutnya "ini benarlah permainan!"

Hidupku tidak lagi selaras

Kau tahu, kau memiliki tenaga itu.
Mengembalikan ketidaksepadananku.
Hentikan pasang surut ombak ini.
Berlabuhlah denganku.

realistis yang fantastis

Dari hamparan langit berbintang, tidak nian kudapatkan binar seterang ini
Dari cakrawala bermatahari, binar itu ada, sangat terang, sungguh menyakitkan.
Akhirnya,
Dari ruang empat dinding disana, hadirlah binar yang sempurna. Kerap berpendar padaku.

Ah, tak akan kutinggalkan ruang ini lagi.