"Hey, all you had to do was, stay"
5/18/15, Senin.
Dia
terus menatap lurus pada papan putih yang saat ini tidak lagi menjadi putih
karena coretan angka-angka sialan yang sukses membuatnya bahkan mungkin
teman-teman sekelasnya saat ini ingin membenturkan kepala. Apalagi kalau bukan matematika?
Pelajaran yang menurutnya sama sekali tidak berguna untuk masa depannya namun
tetap harus diikuti dan dipahaminya karena tuntutan pemerintah yang mengadakan
pelajaran itu di setiap sekolah di Negara ini.
Jika
ada sesuatu yang ingin tuhan untuk mengabulkannya untuk saat ini ialah bunyi
bel yang menggema memancarkan kebahagiaan baginya karena terbebas dari belenggu
angka-angka biadab itu. maka, dengan mengangkat kedua tangan kepada muka dengan
mata yang tertutup rapat ia berdoa di dalam hatinya; agar tuhan mengizinkannya
untuk segera terbebas dari penjara ini dan ia akan sampai pada rumahnya dengan
selamat, menuju kamarnya dan menghempaskan diri pada kasur kesayangannya dan
tidur untuk melupakan segala macam pikiran yang membebaninya. Dia berharap
bagaimanapun caranya tuhan akan mengabulkannya. Dia memohon.
Entah
ada yang salah pada telinganya atau memang ada suara laki-laki yang memanggil
namanya dengan lembut—kejadian yang janggal,baginya—jadi ia menoleh dan
menemukan laki-laki itu lagi dan memutar bola matanya jengah
“apa”
bahkan kata yang seharusnya dibubuhi nada bertanya pun tidak diberlakukan
olehnya saat ini. ia hanya ingin pulang, tahu.
Sayang
sekali laki-laki yang dihadapinya kali ini adalah laki-laki yang pantang
menyerah, nada datar seperti itu tidak membuatnya gentar hingga ia menyampaikan
maksud laki-laki itu memanggil ia dengan diiringi senyum yang tulus: “tunggu
aku”
“ha?
Tunggu apa?”
Laki-laki
itu berdecak tapi tidak menghilangkan senyum tulus yang mengembang dibibirnya
“tunggu saja, oke?”
Dia
hanya mengerutkan alis namun tanpa memberikan kepastian pada lelaki itu, ia
memalingkan wajahnya ke buku dan kembali mencoret-coret halaman belakang
bukunya sembarang. Kapan kebosanan akut ini akan berakhir?!
Tak
lama bel tanda pulang yang selalu ditunggunya sejak ia menginjakkan kaki
dikelas ini datang juga; membawa kebahagian yang besar hingga menimbulkan
senyum yang lebar baginya dan dengan sesegera membereskan segala macam yang
tercecar di meja tulisnya dan memasukkan kedalam tas. Bayangan akan keindahan
kamar atau lebih tepatnya kasur yang akan ditujunya setelah ini tiba-tiba
hancur ketika laki-laki itu memanggilnya meminta untuk ditunggu karena ada
beberapa hal yang harus diselesaikan laki-laki itu. dia memilih untuk menunggu
dipintu kelas. Ia mendengus kecil. Mau bagaimanapun ia membenci hal menunggu,
itu membosankan dan lagi, membuatnya malah seperti orang dungu yang tidak tahu
apa yang harus dilakukan. Dan seperti itulah dia terlihat saat ini.
Seseorang
meletakkan tangan pada bahunya membuat ia terkesiap dan membalik bersiap untuk
mencecar siapapun pelaku itu.
Ketika
ia berbalik, kembali diurungkannya niat itu karena pelaku itu adalah orang yang
sedang ditungga dan juga orang yang sama membuatnya seperti orang dungu. Dengan
acuh ia berbalik dan memilih berjalan mendahului laki-laki itu, membiarkan
laki-laki itu sendiri yang mensejajarkan langkah dengannya.
“tidak
akan bertanya kenapa aku menyuruhmu menungguku, huh?”
“untuk
apa? Lagian, aku sudah menunggumu kan?”
Laki-laki
itu hanya menghela napas dan membukakan pintu mobil untuk gadis dinginnya itu
dan beralih pada pintu pengemudi dimana ia akan duduk.
“menungggu
saja tidak cukup, tahu ”
Dia
tidak menggubris ucapan laki-laki itu. tidakkah kau ingat betapa tinggi
hasratnya untuk sampai dirumah secepat mungkin?
Laki-laki
itu kembali mengeluarkan suaranya; “kenapa untuk membuatmu tertarik akan
sesuatu yang kita bahas sangat susah? Aku tahu tingkat pendiammu tidak setinggi
itu”
“oke,
jadi apa yang harus aku katakan? Apa yang akan mencukupkanmu selain menunggu?
Sadarlah aku tidak punya ide lagi.”
“aku
milikmu, tahu?”
Tiga
kata itu berhasil membuatnya berdesir, laki-laki itu benar.
“tahu.”
bisa dilihat dari ekor matanya laki-laki itu kembali tersenyum. Tapi bukanlah
senyum indah seperti yang sebelumnya melainkan senyum miris. Apa lagi yang
harus laki-laki itu lakukan?
Jauh
di sudut kecil hatinya, dia merasa sangat buruk setelah tiga kata tersebut
keluar dari mulut laki-laki itu; laki-lakinya. Andai saja tuhan tidak
memberikan pribadi aneh padanya, mungkin ia tidak akan membuat laki-laki itu
merasa seperti sampah. Ia ingin memperbaiki segalanya. Tapi tidak dengan hanya
meminta maaf. Mengucapkan juga berjanji bukanlah hal-nya. Ia harus
meperbaikinya, dengan tangannya sendiri dan dengan caranya sendiri
Siapa
yang tahu ini akan berhasil?
-
Setelah
perjalanan mencekam bagi kedunya, mereka sampai di rumahnya, karena tidak sabar
lagi untuk mengunjungi kasurnya walaupun ia tidak akan memanfaatkan fasilitas
kasur itu untuk saat ini, tangannya yang beranjak untuk membuka pintu mobil tanpa
sadar ditahan oleh orang disebelahnya.
“biarkan aku, bisakah?” dia hanya menarik sudut
bibirnya dan melepaskan tangannya yang berusaha untuk membuka pintu tadi dan
memilih untuk duduk manis menunggu laki-laki itu untuk membukakan pintu
untuknya.
Dengan
senyum mengembang ia menarik tangan laki-laki itu setelah membukakannya pintu
menuju rumahnya. Membuka kunci pintu rumahnnya dengan riang ia menarik tangan
laki-laki itu dengan lembut ke sofa diruang televise dan mendorong laki-laki
itu untuk duduk disofanya.
“tunggu
aku, oke?”
“kenapa?”
Ia
memutar bola mata; “karena aku tidak akan membiarkan kita terlarut dalam
kebosanan dirumah sepi penghuni ini.” setelah mengeluarkan kalimatnya secara
lancar, ia mengangkat bahu dan berjalan menuju kamarnya untuk sekedar berbenah;
mengganti baju sekolahnya yang penuh keringat dan juga membersihkan badannya.
Apa yang berkeliling dibenaknya hari ini adalah ia akan keluar dari rumah yang
sepi ini dan menghabiskan waktu dengan miliknya itu diluar seperti bagaimana
orang lain melakukannya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua. Tanpa sadar
bayangan-bayangan yang akan ia lalui bersama laki-lakinya itu berkeliling di
otaknya.
Sementara
ia masih sibuk dengan bayangannya seraya membenahkan diri, samar-samar ia
mendengar dua orang sedang bercakap-cakap diluar kamarnya. Merasa selesai
berbenah ia keluar dari kamar dan langsung menarik tangan laki-laki itu.
Laki-laki
itu malah menaikkan alisnya heran
“apa
yang salah? Ayoo!”
“kau
sadar aku bahkan masih memakai seragam sekolah dan kau malah memakai baju
santai seperti itu? tidakkah terbayang olehmu betapa kita yang akan terlihat
seperti pasangan adik-kakak nanti huh?”
Benar
juga, ia baru sadar akan kenyataan itu dan menggembungkan mulutnya yang tanpa
sadar membiat orang didepannya ini menjadi gemas
“yasudah,
kita kerumahmu saja.”
“terlambat.
Tadi ibumu datang—“
“APA?!”
“aku
belum selesai,” ia mendengus kecil “dan dia berkata akan kembali lagi kerumah
nanti malam dan mengajakku untuk makan malam. Jadi yah, lebih baik kita tunggu
hingga malam tiba saja disini” Ia mengendikkan bahunya
“aku
yang milikmu, tapi dia yang mengajakmu kencan.”
Dengusnya dan menghempaskan badannya disofa tepat disebelah laki-lakinya
“akhirnya
kau menyadari, eh?”
Merenggut
kesal, ia melemparkan bantal yang ada disisi kanannya ke laki-laki itu yang
disambut dengan perang bantal yang tak ubah seperti anak kecil; dengan tawa
yang menggelegar tanpa ada lagi suasana mencekam diantaranya. Tanpa ada lagi
sosok gadisnya yang dingin.
Gadisnya sudah
kembali.
Laki-laki
itu menarik sudut bibirnya, bisakah Tuhan menciptakan gadisnya itu dengan hanya
memiliki sifat yang seperti ini?
-
........ wkwkkwkw pls, i even didnt get it, why i always making math as a scapegoat U.U
masih ada lanjutan, btw... u.u