Senin, 14 September 2020

 aku berlari dan masih berlari. menjauh dari cahaya redup yang sedu sedan menghampiri ranahku; katanya aku tidak akan bisa melihat cahaya itu lagi di esok hari, atau mungkin lusa, atau esok-esok lainnya. aku tidak mungkin bisa membiarkan diri ini buta kehilangan arah sehingga aku harus berlari mengantongi cahaya itu di dadaku. aku berlari dengan tangan di depan dada menggenggam seonggok cahaya itu, kata mereka ia akan hilang di esok hari. kata aku ia tidak boleh hilang di esok hari ataupun di esok-esok lainnya. aku terus berlari sehingga cahaya redup itu sudah tidak lagi mengelilingiku. setidaknya aku sudah menggenggam cahayaku, ia jauh lebih baik dari si redup itu, ia yang menerangi dan menghidupkan sisi-sisi jiwaku yang tidak ku ketahui telah tersedia jauh sebelumnya, ia sangatlah terang sehingga aku tahu si redup-redup itu sudah lama menyimpan dengki terhadapnya, ia memang benar-benar terang sehingga aku tahu ia akan membantuku untuk menemukan wujudmu yang sialnya sedang disekap oleh cahaya redup itu. kau masih terbelenggu pada kegelapan. aku telah mengantongi separuh jiwamu, aku telah mengantongi cahayamu yang menghidupkan separuh jiwaku, aku sudah lengkap. aku hanya butuh melanjutkan hidup lengkapku dengan wujudmu yang membutuhkan cahaya ini. aku harus menerangi wujudmu, ia adalah harta kita. tapi aku telah dikutuk bahwa tidak akan bisa mempertahankan harta ini karena mereka sudah menentukan peraturan permainan ini; aku tidak bisa menyibak sebuah belenggu.

aku harus berlari dan tetap berlari bersama jiwa penuh yang kosong ini.

Rabu, 15 Juli 2020

ada duka aneh yang menyesak. ada sosok yang akan selalu dijadikan (entah telah terjadi atau terpaksa menjadi) panutan, tumpuan. sosok yang akan selalu kau andalkan ketika dunia menjadi biadab. sesak. dalang itu harus pergi. sekarang, dalang itu hanya bisa menjadi pelindung atau tumpuan ataupun panutan dari jarak yang sungguh jauh, tidak ada lagi suara-suara dan tingkah laku dari dalang yang bisa ditangkap oleh sang indra. sang dalang akan menjauh, sangat jauh.

Jumat, 26 Juni 2020

I have to pour all of the dust out from the mind. They did me so wrong, a decontrctive phase where i should tell them that i am happy because i am. But it designed me to be in a quiet place so i have no one to tell.

Senin, 09 Maret 2020

ialah puing-puing harapan yang telah aku temukan.
berjatuhan, berceceran, lalu dikumpulkan.
hancur, berkeping-keping. aku menyusunnya dari atas. Hati-hati. Ini hanyalah puing-puing. Rapuh. Jika aku tidak kukuh. Mereka akan berjatuhan lagi.

harusnya ia bisa bertahan, karena penyelamatnya membutuhkan sandaran. bertahan, penyelamatnya sedang membangun sandaran itu. bertahan, puing-puing ini akan bersatu menjadi satu sandaran.
bertahan, agar penyelamatnya juga bisa bertahan.

tune.

there is a tune. 
there, right there.
Its hanging, keep playing over and over.

that is your favorite tune. Either its in a past or present. who would know? who should know? how would i know?

Its your favorite tune since i never play it.
But its always there singing loudly like there is no sunshine tomorrow.

I didnt playing it. You are.

You've tell me its an old tune. So old u dont need it anymore.
But its always playing.
You always cue them
Its there.
Hanging over there
Hanging over this ceiling

Jumat, 07 Februari 2020

ada banyak.

ada satu atau dua bahkan lebih hal yang dapat Puan semburkan pada langit-langit itu, menyebar lalu membiarkan telinga-telinga yang telah tuli meresapi segala hal ini.

ada satu atau dua bahkan lebih kalimat yang bisa Puan utarakan kepada si Selatan yang memilih untuk berbalik membelakangi.

ada satu atau dua bahkan lebih rasa yang dapat diraih, entah akan menjadi manis, asam, asin, gurih, pedas. Sayang sekali lidah sudah kelu dan lumpuh. 

Hambar seorang yang dapat Puan raih.

Senin, 20 Januari 2020

ilang.

Ilalang menemukan jalan keluarnya.

Setelah berjalan, merintih. Berlari, meraung. Tertatih-tatih mengelukan hadiah dari Sang Dewi atas prestasinya yang berhasil untuk bertahan dalam kepandiran itu. Tiga ratus hari, mungkin lebih.

Ilalang menemukan cahaya barunya.
Tidak ada lagi kegelapan kelam suram muram kusam silam temaram meredamnya. Ia berhasil keluar.

Ilalang telah terbang melayang lalu lalang dengan lapang.
tidak perlu menoleh ke belakang, tidak ada lagi Ilalang yang Hilang

Minggu, 19 Januari 2020

empat dinding yang kau buat runtuh

Jadi selama ini, dinding yang aku bangun menjulang dengan batu bata yang tersusun rapi itu telah rapuh.

Ini terjadi, semenjak dinding yang kubanggakan ini telah kubongkar satu batu batanya dengan bantuanmu agar kau bisa masuk.

Kau terlalu banyak bertingkah di dalam ruang dindingku, ia tidak bisa menahanmu lagi.
Menginginkanmu untuk tidak disana lagi. 
Dengan merapuhkan kekokohannya.



----
SOOO, I decided to put my assignment to this platform (yas, that 14 poem yang aku post di hari yang sama ini sbnrnya adalah tugas semester tigaku ahhaha)

benar-benar arifkanlah..

Sanubarimu, mengarifkan nuraniku

Benarlah, Tuan, kuberharap itulah keadaan yang terjadi.
Benarlah, kuberharap keduanyalah yang tidak akan berpisah
Benarlah, kuberharap keduanya akan saling memperbaiki
Benarlah, kuberharap keduanya saling bertahan
Benarlah, kuberharap keduanya tidak akan terurai
Benarlah, kuberharap keduanya memang benar terjalin dengan piawai.

Sanubariku, arifkanlah nuranimu.

katanya, dia selalu salah.

Katanya, dia segumpal kesalahan yang tidak memiliki harapan. Dengan segala usahanya yang tidak akan kau temukan makna. Dia tidak memiliki harapan. Tidak, dia memiliki harapan. Namun tidak ada yang bisa melihatnya, termasuk benaknya sendiri. Kesalahanlah yang selalu memberinya ruang untuk pengakuan; dia salah, dia salah, dia salah. Hanya salah yang pantas menjadi jati dirinya. Harapannya, adalah salah.

Katanya, kehidupannya bukan mengikuti petuah orang tua. Kehidupannya, mengikuti harapan yang ada di benaknya. Salah.
Katanya.

ayo, putuskan.

Entah harus kuagungkan jiwamu kepada sang Fajar
Dengan permainannya, yang mengelabuiku menuju bukit tidak bercahaya
Menipuku bahwa tidak ada lagi kirana untukku, gelap redup gulita.
Menungguku untuk menyerah.

Lalu permainan selesai, aku menang, kau beri hadiah;
Seonggok cahaya yang tidak terhingga

Atau haruskah kumuliakan jiwamu pada sang Senja
Dengan elok lembayung senjanya menuntunku kepada hamparan ombak, berkejaran menarikku untuk tenggelam.
Tidak ada permainan, hanya segubuk euforia
Antara bertahan kepadanya
Di kala seisi alam menggodaku tenggelam

Pada akhirnya,
Bertahan pada lembayung senja yang meredup gulita.
Tamat.

patuhi Tuan

Aku bersumpah kupu-kupu dalam jiwa ini sangatlah ramai.
Mereka menari, aku terbungkam

Aku berada di segala sisi ruangmu
Aku selalu berada di segala detik waktumu

Dengan begitu;
Kau bersumpah hutan itulah bernaungnya hidupmu
Mereka mengheningkan diri untuk menyambutku
Mereka berada di segala sisi namun tidak di sisi mataku
Mereka selalu berada di segala perintahmu.

Dan apakah, perintahmu adalah agar aku tidak takut dengan kehidupanmu, Tuan Raja Hutan?

siapa tahu?

     Siapa tahu mujur akan menjadi lacur?
     Siapa tahu aku akan menjadi hancur?
     Siapa tahu kau akan melebur?
     Siapa tahu mereka akan berseluncur?
   Melihat pemandanganmu yang telah bertabur
  Hancur lembur berdebur berkabur
Kau telah kabur?

Siapa tahu?

sendiri itu yang takut padaku

Selagi engkau masih mengelilingi hidupku, lalu aku bertingkah layaknya aku tidak sendiri.

Dan karena aku tahu kau masih di sekelilingku.
Dan maafkan aku tidak akan membahas dirimu saat ini.

Aku ingin mengelilingi diriku sendiri, dengan kepercayaan bahwa aku tidak sendiri.
Aku tidak takut sendiri.

Tapi,
Mungkin sendirilah yang benar-benar takut menghampiriku.

Aku kuat, aku tidak butuh sendiri
Aku harus kuat, aku butuh dikelilingimu.

Ah, sudah kubilang aku sedang tidak mau membahas dirimu saat ini.

Dan sendiri memang benarlah takut menghampiriku
Dan saat ini kau mengelilingiku dari ujung pelupuk mata itu.

Sendiri memang takut menghampiriku.
Ucapkanlah, butuhkah aku untuk merasakan sendiri dari kejauhan kau saat ini?

segalanya kau.

Di sela segala serigala yang bergala.

Galaksi yang menjadi sebuah gala oleh engkau
Memberi segala daya bergalau

Menghadirkan aku yang tak akan bisa lagi berpindah dari kau.

buruk.

Sebut aku nasib buruk; aku datang hampa pada hidupnya yang aku kira telah hampa pula.
Sebut aku nasib buruk; aku pergi mengacaukan hidupnya, karena telah kau kacaukan pula hidupnya.
Sebut aku nasib buruk; dering telepon permintaan maaf itu pada akhirnya akan membeku.
Sebut aku nasib buruk.
Pada akhirnya, kita akan menjadi ambruk.

satu arti.

Hitam Putih adalah yang aku butuhkan dalam mayapada ini.
Aku mengagumi mereka.
Karena hanya itulah yang akan membantuku.

Tidak ada keraguan. 
Sedih, hitam. Tenang, putih.

Tidak ada pengacau yang akan merusuhkan kelabuku,
Yang akan selalu menjadi penyamaranku
Dalam menyembunyikan warnaku padamu.
Ketika tidak ada lagi sedu dan tenang yang akan kau sajikan pada hidupku.

warna kami tidak menyatu

Berakhirku gelap, berawalmu cerah.
Menemukanku abu-abu, menemukanmu kelabu.

Abu-abu tidak padu apa yang kau sentuh,
Kelabu saru apa yang aku temu

Akhirnya, fajar menjadi titik temu.
Titik awal memulai.

Ah, kasih..
Setidaknya kita memiliki warna!

berlabuhlah..

Aku tidak akan lagi menghidupkan permainan ini.
Apapun kau menyebutnya, aku tetap menganggap ini permainan.

Kepada segala ombak yang kau pasang surutkan. Aku terheran.
Kau perintahkan aku untuk kendalikan mereka?
Bukankah benar ini sebuah permainan?

Aku tidak akan lagi mengendalikan ombak ini.
Ragaku tidak lagi sepadan, sukmaku tidak lagi setara.

Selantang apapun kau teriakkan dari penghujung batu besar itu.
"Ini bukan permainan!"
Aku akan masih tetap menyebutnya "ini benarlah permainan!"

Hidupku tidak lagi selaras

Kau tahu, kau memiliki tenaga itu.
Mengembalikan ketidaksepadananku.
Hentikan pasang surut ombak ini.
Berlabuhlah denganku.

realistis yang fantastis

Dari hamparan langit berbintang, tidak nian kudapatkan binar seterang ini
Dari cakrawala bermatahari, binar itu ada, sangat terang, sungguh menyakitkan.
Akhirnya,
Dari ruang empat dinding disana, hadirlah binar yang sempurna. Kerap berpendar padaku.

Ah, tak akan kutinggalkan ruang ini lagi.