aku berlari dan masih berlari. menjauh dari cahaya redup yang sedu sedan menghampiri ranahku; katanya aku tidak akan bisa melihat cahaya itu lagi di esok hari, atau mungkin lusa, atau esok-esok lainnya. aku tidak mungkin bisa membiarkan diri ini buta kehilangan arah sehingga aku harus berlari mengantongi cahaya itu di dadaku. aku berlari dengan tangan di depan dada menggenggam seonggok cahaya itu, kata mereka ia akan hilang di esok hari. kata aku ia tidak boleh hilang di esok hari ataupun di esok-esok lainnya. aku terus berlari sehingga cahaya redup itu sudah tidak lagi mengelilingiku. setidaknya aku sudah menggenggam cahayaku, ia jauh lebih baik dari si redup itu, ia yang menerangi dan menghidupkan sisi-sisi jiwaku yang tidak ku ketahui telah tersedia jauh sebelumnya, ia sangatlah terang sehingga aku tahu si redup-redup itu sudah lama menyimpan dengki terhadapnya, ia memang benar-benar terang sehingga aku tahu ia akan membantuku untuk menemukan wujudmu yang sialnya sedang disekap oleh cahaya redup itu. kau masih terbelenggu pada kegelapan. aku telah mengantongi separuh jiwamu, aku telah mengantongi cahayamu yang menghidupkan separuh jiwaku, aku sudah lengkap. aku hanya butuh melanjutkan hidup lengkapku dengan wujudmu yang membutuhkan cahaya ini. aku harus menerangi wujudmu, ia adalah harta kita. tapi aku telah dikutuk bahwa tidak akan bisa mempertahankan harta ini karena mereka sudah menentukan peraturan permainan ini; aku tidak bisa menyibak sebuah belenggu.
aku harus berlari dan tetap berlari bersama jiwa penuh yang kosong ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar