Jumat, 29 Mei 2015

chance



"Hey, all you had to do was, stay"

5/18/15, Senin.
Dia terus menatap lurus pada papan putih yang saat ini tidak lagi menjadi putih karena coretan angka-angka sialan yang sukses membuatnya bahkan mungkin teman-teman sekelasnya saat ini ingin membenturkan kepala. Apalagi kalau bukan matematika? Pelajaran yang menurutnya sama sekali tidak berguna untuk masa depannya namun tetap harus diikuti dan dipahaminya karena tuntutan pemerintah yang mengadakan pelajaran itu di setiap sekolah di Negara ini.
Jika ada sesuatu yang ingin tuhan untuk mengabulkannya untuk saat ini ialah bunyi bel yang menggema memancarkan kebahagiaan baginya karena terbebas dari belenggu angka-angka biadab itu. maka, dengan mengangkat kedua tangan kepada muka dengan mata yang tertutup rapat ia berdoa di dalam hatinya; agar tuhan mengizinkannya untuk segera terbebas dari penjara ini dan ia akan sampai pada rumahnya dengan selamat, menuju kamarnya dan menghempaskan diri pada kasur kesayangannya dan tidur untuk melupakan segala macam pikiran yang membebaninya. Dia berharap bagaimanapun caranya tuhan akan mengabulkannya. Dia memohon.
Entah ada yang salah pada telinganya atau memang ada suara laki-laki yang memanggil namanya dengan lembut—kejadian yang janggal,baginya—jadi ia menoleh dan menemukan laki-laki itu lagi dan memutar bola matanya jengah
“apa” bahkan kata yang seharusnya dibubuhi nada bertanya pun tidak diberlakukan olehnya saat ini. ia hanya ingin pulang, tahu.
Sayang sekali laki-laki yang dihadapinya kali ini adalah laki-laki yang pantang menyerah, nada datar seperti itu tidak membuatnya gentar hingga ia menyampaikan maksud laki-laki itu memanggil ia dengan diiringi senyum yang tulus: “tunggu aku”
“ha? Tunggu apa?”
Laki-laki itu berdecak tapi tidak menghilangkan senyum tulus yang mengembang dibibirnya “tunggu saja, oke?”
Dia hanya mengerutkan alis namun tanpa memberikan kepastian pada lelaki itu, ia memalingkan wajahnya ke buku dan kembali mencoret-coret halaman belakang bukunya sembarang. Kapan kebosanan akut ini akan berakhir?!
Tak lama bel tanda pulang yang selalu ditunggunya sejak ia menginjakkan kaki dikelas ini datang juga; membawa kebahagian yang besar hingga menimbulkan senyum yang lebar baginya dan dengan sesegera membereskan segala macam yang tercecar di meja tulisnya dan memasukkan kedalam tas. Bayangan akan keindahan kamar atau lebih tepatnya kasur yang akan ditujunya setelah ini tiba-tiba hancur ketika laki-laki itu memanggilnya meminta untuk ditunggu karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan laki-laki itu. dia memilih untuk menunggu dipintu kelas. Ia mendengus kecil. Mau bagaimanapun ia membenci hal menunggu, itu membosankan dan lagi, membuatnya malah seperti orang dungu yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dan seperti itulah dia terlihat saat ini.
Seseorang meletakkan tangan pada bahunya membuat ia terkesiap dan membalik bersiap untuk mencecar siapapun pelaku itu.
Ketika ia berbalik, kembali diurungkannya niat itu karena pelaku itu adalah orang yang sedang ditungga dan juga orang yang sama membuatnya seperti orang dungu. Dengan acuh ia berbalik dan memilih berjalan mendahului laki-laki itu, membiarkan laki-laki itu sendiri yang mensejajarkan langkah dengannya.
“tidak akan bertanya kenapa aku menyuruhmu menungguku, huh?”
“untuk apa? Lagian, aku sudah menunggumu kan?”
Laki-laki itu hanya menghela napas dan membukakan pintu mobil untuk gadis dinginnya itu dan beralih pada pintu pengemudi dimana ia akan duduk.
“menungggu saja tidak cukup, tahu ”
Dia tidak menggubris ucapan laki-laki itu. tidakkah kau ingat betapa tinggi hasratnya untuk sampai dirumah secepat mungkin?
Laki-laki itu kembali mengeluarkan suaranya; “kenapa untuk membuatmu tertarik akan sesuatu yang kita bahas sangat susah? Aku tahu tingkat pendiammu tidak setinggi itu”
“oke, jadi apa yang harus aku katakan? Apa yang akan mencukupkanmu selain menunggu? Sadarlah aku tidak punya ide lagi.”
“aku milikmu, tahu?”
Tiga kata itu berhasil membuatnya berdesir, laki-laki itu benar.
“tahu.” bisa dilihat dari ekor matanya laki-laki itu kembali tersenyum. Tapi bukanlah senyum indah seperti yang sebelumnya melainkan senyum miris. Apa lagi yang harus laki-laki itu  lakukan?
Jauh di sudut kecil hatinya, dia merasa sangat buruk setelah tiga kata tersebut keluar dari mulut laki-laki itu; laki-lakinya. Andai saja tuhan tidak memberikan pribadi aneh padanya, mungkin ia tidak akan membuat laki-laki itu merasa seperti sampah. Ia ingin memperbaiki segalanya. Tapi tidak dengan hanya meminta maaf. Mengucapkan juga berjanji bukanlah hal-nya. Ia harus meperbaikinya, dengan tangannya sendiri dan dengan caranya sendiri
Siapa yang tahu ini akan berhasil?
-
Setelah perjalanan mencekam bagi kedunya, mereka sampai di rumahnya, karena tidak sabar lagi untuk mengunjungi kasurnya walaupun ia tidak akan memanfaatkan fasilitas kasur itu untuk saat ini, tangannya yang beranjak untuk membuka pintu mobil tanpa sadar ditahan oleh orang disebelahnya.
“biarkan  aku, bisakah?” dia hanya menarik sudut bibirnya dan melepaskan tangannya yang berusaha untuk membuka pintu tadi dan memilih untuk duduk manis menunggu laki-laki itu untuk membukakan pintu untuknya.
Dengan senyum mengembang ia menarik tangan laki-laki itu setelah membukakannya pintu menuju rumahnya. Membuka kunci pintu rumahnnya dengan riang ia menarik tangan laki-laki itu dengan lembut ke sofa diruang televise dan mendorong laki-laki itu untuk duduk disofanya.
“tunggu aku, oke?”
“kenapa?”
Ia memutar bola mata; “karena aku tidak akan membiarkan kita terlarut dalam kebosanan dirumah sepi penghuni ini.” setelah mengeluarkan kalimatnya secara lancar, ia mengangkat bahu dan berjalan menuju kamarnya untuk sekedar berbenah; mengganti baju sekolahnya yang penuh keringat dan juga membersihkan badannya. Apa yang berkeliling dibenaknya hari ini adalah ia akan keluar dari rumah yang sepi ini dan menghabiskan waktu dengan miliknya itu diluar seperti bagaimana orang lain melakukannya. Ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua. Tanpa sadar bayangan-bayangan yang akan ia lalui bersama laki-lakinya itu berkeliling di otaknya.
Sementara ia masih sibuk dengan bayangannya seraya membenahkan diri, samar-samar ia mendengar dua orang sedang bercakap-cakap diluar kamarnya. Merasa selesai berbenah ia keluar dari kamar dan langsung menarik tangan laki-laki itu.
Laki-laki itu malah menaikkan alisnya heran
“apa yang salah? Ayoo!”
“kau sadar aku bahkan masih memakai seragam sekolah dan kau malah memakai baju santai seperti itu? tidakkah terbayang olehmu betapa kita yang akan terlihat seperti pasangan adik-kakak nanti huh?”
Benar juga, ia baru sadar akan kenyataan itu dan menggembungkan mulutnya yang tanpa sadar membiat orang didepannya ini menjadi gemas
“yasudah, kita kerumahmu saja.”
“terlambat. Tadi ibumu datang—“
“APA?!”
“aku belum selesai,” ia mendengus kecil “dan dia berkata akan kembali lagi kerumah nanti malam dan mengajakku untuk makan malam. Jadi yah, lebih baik kita tunggu hingga malam tiba saja disini” Ia mengendikkan bahunya
“aku yang milikmu, tapi dia yang mengajakmu kencan.” Dengusnya dan menghempaskan badannya disofa tepat disebelah laki-lakinya
“akhirnya kau menyadari, eh?”
Merenggut kesal, ia melemparkan bantal yang ada disisi kanannya ke laki-laki itu yang disambut dengan perang bantal yang tak ubah seperti anak kecil; dengan tawa yang menggelegar tanpa ada lagi suasana mencekam diantaranya. Tanpa ada lagi sosok gadisnya yang dingin.
Gadisnya sudah kembali.
Laki-laki itu menarik sudut bibirnya, bisakah Tuhan menciptakan gadisnya itu dengan hanya memiliki sifat yang seperti ini?
-


........ wkwkkwkw pls, i even didnt get it, why i always making math as a scapegoat U.U
masih ada lanjutan, btw... u.u

Tidak ada komentar:

Posting Komentar