Dokter
Soode yang bertugas sebagai psikiater laki-laki ini seharusnya bisa saja
menendangnya dengan membunuh atau memberi racun atau apa selain pil pereda
kejiwaannya itu.
Tapi
kondisi lelaki ini benar-benar menyedihkan.
Schizophrenia.
Remaja
schizophrenic itu hanya menganggukkan kepalanya setelah apapun yang dikatakan
ataupun diperintahkan oleh dr. Soode. Ia benar-benar lelah untuk mengkikuti
omong kosong besar ini.
Awalnya
ia datang dengan terseok ketempat ini dan dr. Soode menerimanya dengan tangan
dan senyum yang lebar. Ia mulai menceritakan segala gangguan yang ada pada
jiwanya. Ia menggesekkan kedua jarinya, semuanya telah diungkap oleh dr. Soode.
Keanehan
pada jiwanya diungkapkan oleh dr. Soode bahwa ia mengidap Schizophrenia dengan
simtom negatif yakni; Avoilotion, Alogia, Anhedonia, Afek datar dan
Asosialitas. simtom cakupan dari negative ini melekat pada dirinya bersamaan.
Semuanya. Cukup jarang dr. Soode menerima seorang schizophrenic dengan cakupan
simtom yang begitu banyak hingga ini tak jarang dijadika alasan dr. Soode untuk
mempertahankan pasiennya satu ini. ia tidak bisa membiarkan laki-laki ini
menyerah akan gangguang jiwanya ini.
Penjelasan
akan simtom negative yang menghinggap pada dirinya ini membuat kepalanya pening
dan tak terasa ia menggigit keras lip ring hingga
bibirnya berdarah
“are you fine?”
Ia
melepaskan gigitan sekitaran bibirnya itu dan menghela nafas
“i am”
“don’t forget to take
the pill, can you?”
“okay”
Sebersit
senyum melintasi wajah riang dr. Soode. Tentu saja, ia tidak pernah merasakan
penyakit mental dan ilusi gila ini seperti dirinya dan ia yakin dr. soode tidak
memiliki apapun yang perlu difikirkan selain kemeranaan pasiennya.
Awal
ia menyetujui konsultasi dengan psikiater ini, ia berharap gangguan ini akan
menghilang meninggalkan dirinya. Tapi ilusinya melarang. Ia tidak pernah
melakukan apapun yang dilontarkan dr. Soode. Tak juga ia pernah memakan pills
itu kecuali jika wanita yang hanya bernyawa difikirannya itu membuatnya
melakukannya.
Walaupun
pada dasarnya, ia
yang melakukan
itu.
Avoilition
merupakan salah satu dari simtom negative dimana kondisi pasien yang
tampak kurang energi dan kehilangan minat bahakan ketidakmampuan untuk tekun
melakukan aktivitas rutin. Kekasihnya merupakan sosok pembenci belajar apalagi
matematika dengan wajah yang suram dan mata yang selalu memandang kosong
kedepan.
Didalam
fikirannya ia memiliki kekasih seperti itu. tapi tidak.
Itu
adalah dirinya sendiri.
Ia
membenci belajar dan membenci segala aktivitas yang biasanya merupakan
kerutinannya. Dan ia membuat kekasih difikirannya memiliki sifat seperti itu
Walaupun
ia tetap pergi konsultasi psikiater. Tak ada satupun niatnya untuk
menghilangkan gangguang jiwa itu. ia mencintai fantasi yang berkeliaran
difikirannya ini. karena dengan begitu ia bisa memiliki kehidupan dimana hanya
dirinya yang bisa menciptakan dan juga hanya dia yang bisa mengontrol apa yang
terjadi pada kehidupan difikirannya. Ia
bisa hidup seperti yang ia inginkan.
Hanya
difikirannya.
Laki-laki
itu selalu berfikir ketika kau dicap dengan gangguan jiwa, maka kau berbeda
dari yang lain. Perbedaan yang buruk.
Asosialitas
adalah ketidakmampuan parah dalam hubungan sosial. Mereka hanya memiliki sangat
sedikit teman. Tidak senang berkumpul bersama orang lain. Dalam kasus dirinya,
ia hanya memiliki satu teman yakni wanita itu sendiri. Hanya dirinya.
Maka ia selalu
mendedikasikan hidupnya pada wanita itu, memperlakukannya seperti ratu,
melebarkan senyum tak peduli wanita itu sedang marah atau apapun. Karena hanya
wanita itu teman seumur hidupnya.
Teman
seumur hidup dalam imajinasinya.
Ia
berfikir jika menciptakan karakter wanita itu di imajinasinya, ia bisa sedikit
lega karena ia bisa memiliki teman hidup dengan kondisi yang sama dengan
dirinya sendiri. Hingga ia tidak ingin melepaskan karakter wanita itu di
imajinasinya dan membiarkan dirinya hanyut bersama dengan imajinasinya yang
melayang kesana kemari.
Sejak
kecil ia tidak pernah merasakan kesenangan karena ayahnya mati tak jelas dan
ibunya melayang seperti lampu gantung meninggalkannya sejak kecil. Hingga ia
dibesarkan oleh tetangga sekitarnya dan setelah merasa bisa hidup sendiri, ia
pergi dari area perkomplekkan yang penuh dengan orang-orang bermuka dua itu dan
memilih untuk tinggal di bawah pohon yang berada dikawasan sungai. Ia benci
ketinggian dan juga air yang dingin. Tapi ia ingin melawan kebenciannya karena
tak masalah jika ia mati tidak akan ada yang memperdulikannya.
Kesenanganya telah
menjauhinya sejak ia kecil hingga sampai sekarang Ia juga membalas dendam pada
kesenangan dengan membenci hal itu. sinkron sekali dengan rona wajahnya yang
datar dengan tatapan kosong dan suara datar tanpa nada. Menurut dr. Soode,
kebenciannya akan kesenangaan dan wajahnya yang datar merupakan simtom yang
termasuk Anhedonia dan Afek datar.
Segala
simtom-simtom schizophrenia yang mengidapnya ini ia tuangkan pada kekasihnya
itu. ia menciptakan kekasih dengan wajah datar tanpa emosi, tidak memiliki
teman kecuali dirinya sendiri, dan membenci semua orang, didalam fikirannya.
Ia menikmati imajinasi ini karena
wanita itu membuatnya bisa melihat refleksi dirinya sendiri. Difikirannya.
Ia
juga menciptakan karakter dirinya sendiri didalam imajinasinya, sebagai kekasih
yang terbaik untuk wanita itu.
Sebelumnya
ia begitu kacau hingga ia tidak pernah bergerak sedikitpun dari duduknya
dipohon, tapi wanita itu menyemangatinya, meskipun tidak pernah wanita itu
tampilkan tapi ia tahu wanita itu mencintainya.
Ia
tersenyum lebar. Apakah akan terkutuk jika aku mengatakan bahwa ia merupakan
refleksi Tuhan yang
buruk dengan menciptakan karakter yang mencintainya? Yah buruk sekali
karena itu hanya di imajinasinya.
Ia
membenci belajar, kekasihnya juga begitu
Ia
membenci teman-teman sekolahnya, wanita itu juga
Ia
selalu menguapkan emosinya pada benda mati, wanita itu melakukannya
Ia
membenci air dingin yang membuatnya ingin mati. Wanita itu menuruti
imajinasinya dan pergi meninggalkan jasad itu.
Yang
semuanya hanya terjadi difikiran laki-laki itu.
Segala
yang ada difikirannya memang sangat jauh berbeda dari realitasnya, ia tidak
memiliki wanita seperti itu karena hanya ada di imajinasinya.
Ia
membenci memakan pil dari dr. Soode itu. ia sangat benci demi apapun yang
mengutuknya dengan penyakit jiwa ini.
Tapi
untuk kali ini, Ia penasaran
Dengan
wajah kosong ia mengambil pil itu dan memakannya, tiba-tiba sosok wanita itu
menghilang.. menghilang menjauhinya. Difikirannya, wanita itu mati ketika tertidur
disofa saat ia bermain dengannya dirumah wanita itu. tapi itu adalah reaksi
dari pil yang tampaknya berusaha keras untuk melakukan apapun demi menjauhkan
ia dengan wanita imajinasinya itu.
Ia berjanji tidak
akan pernah memakan pil itu lagi dan tetap duduk diam dibawah pohon itu dengan
fikirannya yang berkelabut menampilkan dirinya dimana ia tampak ingin
meninggalkan wanita itu dimalam hari ketika wanita itu sedang tertidur. Tapi
tidak.. itu masih bagian dari reaksi pilnya.
Ia
tidak akan mau meninggalkan wanita itu karena ia berjanji pada dirinya akan
setia kepada wanita itu. difikirannya.
Dengan
begitu sang pil yang telah merasuki tubuhnya benar-benar menguasai dirinya
sepenuhnya. Untuk beberapa saat, laki-laki itu merasa bahwa ia normal tanpa ada
schizophrenia yang menghinggap dijiwanya. Pil itu terus bekerja, mengelilingi
darah ditubuhnya dan memengaruhi dirinya untuk melepaskan imajinasi itu.
Ia
gagal bertahan.
Tiba-tiba
saja fikirannya telah normal dan menyadarkan dirinya, bahwa wanita itu hanyalah
kilasan dari imajinasinya. Tak lebih.
Bodoh,
dia sudah sadar sedari dulu, bodoh.
Tapi
untuk saat ini ia benar-benar normal. Ia menyadari ketidakmasukakalan dalam
imajinasinya dengan keadaan normal seperti ini. wanita itu tidak benar-benar
ada.
Wanita
yang dicintainya itu.
Ia
benar-benar merasa kekacauan tubuhnya menghilang seiring dengan wanita itu yang
pergi meninggalkan jasadnya digenangan air shower itu.
sebagaimana imajinasinya ikut menghilang menjauhi dirinya.
Baiklah,
ia benar-benar akan hidup sebatang kara.
Tanpa
wanita itu. tanpa imajinasinya.
Ia
telah menggunakan kesempatannya untuk menciptakan karakter itu difikirannya.
Dan sekarang saatnya ia harus melepaskannya.
Ia
benar-benar sendiri.
Dan
normal.
---
9/8/15
10.12 am
its ending
biacthhhzzzzzzzz
Uhuk
Hayo bingung ya pasti
Aku yang berbulan kemudian baca tulisan ini jadi bingung hahah
Mau cerita ahh
Jadi sebenernya gaada rencana bikin schizo2 ginian wkwkkwkw
Maunya ya aku emg bikin cerita ini ngalir aja gitu, gimana cewek yang punya yah semacam emotionally problem berusaha buat berubah demi pacarnya. Halah. Ya pokoknya gamau ada plot twist2 gitu cuma mau nulis saja, ngalir udah.
Tapi ketika gabut melanda (WKWKWKWK) jadi aku iseng2 googling tentang schizophernia gitu dan aku baca2 draft cerita ini dan langsung saja ku mendapat ilham untuk membuat plot twist yang amburadul ini so yeah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar