Sabtu, 08 Agustus 2015

Chance (5)




Dokter Soode yang bertugas sebagai psikiater laki-laki ini seharusnya bisa saja menendangnya dengan membunuh atau memberi racun atau apa selain pil pereda kejiwaannya itu.
Tapi kondisi lelaki ini benar-benar menyedihkan.
Schizophrenia.
Remaja schizophrenic itu hanya menganggukkan kepalanya setelah apapun yang dikatakan ataupun diperintahkan oleh dr. Soode. Ia benar-benar lelah untuk mengkikuti omong kosong besar ini.
Awalnya ia datang dengan terseok ketempat ini dan dr. Soode menerimanya dengan tangan dan senyum yang lebar. Ia mulai menceritakan segala gangguan yang ada pada jiwanya. Ia menggesekkan kedua jarinya, semuanya telah diungkap oleh dr. Soode.
Keanehan pada jiwanya diungkapkan oleh dr. Soode bahwa ia mengidap Schizophrenia dengan simtom negatif yakni; Avoilotion, Alogia, Anhedonia, Afek datar dan Asosialitas. simtom cakupan dari negative ini melekat pada dirinya bersamaan. Semuanya. Cukup jarang dr. Soode menerima seorang schizophrenic dengan cakupan simtom yang begitu banyak hingga ini tak jarang dijadika alasan dr. Soode untuk mempertahankan pasiennya satu ini. ia tidak bisa membiarkan laki-laki ini menyerah akan gangguang jiwanya ini.
Penjelasan akan simtom negative yang menghinggap pada dirinya ini membuat kepalanya pening dan tak terasa ia menggigit keras lip ring hingga bibirnya berdarah
are you fine?”
Ia melepaskan gigitan sekitaran bibirnya itu dan menghela nafas
i am”
“don’t forget to take the pill, can you?”
“okay”
Sebersit senyum melintasi wajah riang dr. Soode. Tentu saja, ia tidak pernah merasakan penyakit mental dan ilusi gila ini seperti dirinya dan ia yakin dr. soode tidak memiliki apapun yang perlu difikirkan selain kemeranaan pasiennya.
Awal ia menyetujui konsultasi dengan psikiater ini, ia berharap gangguan ini akan menghilang meninggalkan dirinya. Tapi ilusinya melarang. Ia tidak pernah melakukan apapun yang dilontarkan dr. Soode. Tak juga ia pernah memakan pills itu kecuali jika wanita yang hanya bernyawa difikirannya itu membuatnya melakukannya.
Walaupun pada dasarnya, ia yang melakukan itu.

Avoilition merupakan salah satu dari simtom negative  dimana kondisi pasien yang tampak kurang energi dan kehilangan minat bahakan ketidakmampuan untuk tekun melakukan aktivitas rutin. Kekasihnya merupakan sosok pembenci belajar apalagi matematika dengan wajah yang suram dan mata yang selalu memandang kosong kedepan.
Didalam fikirannya ia memiliki kekasih seperti itu. tapi tidak.
Itu adalah dirinya sendiri.
Ia membenci belajar dan membenci segala aktivitas yang biasanya merupakan kerutinannya. Dan ia membuat kekasih difikirannya memiliki sifat seperti itu
Walaupun ia tetap pergi konsultasi psikiater. Tak ada satupun niatnya untuk menghilangkan gangguang jiwa itu. ia mencintai fantasi yang berkeliaran difikirannya ini. karena dengan begitu ia bisa memiliki kehidupan dimana hanya dirinya yang bisa menciptakan dan juga hanya dia yang bisa mengontrol apa yang terjadi pada kehidupan difikirannya. Ia bisa hidup seperti yang ia inginkan.
Hanya difikirannya.
Laki-laki itu selalu berfikir ketika kau dicap dengan gangguan jiwa, maka kau berbeda dari yang lain. Perbedaan yang buruk.
Asosialitas adalah ketidakmampuan parah dalam hubungan sosial. Mereka hanya memiliki sangat sedikit teman. Tidak senang berkumpul bersama orang lain. Dalam kasus dirinya, ia hanya memiliki satu teman yakni wanita itu sendiri. Hanya dirinya.
Maka ia selalu mendedikasikan hidupnya pada wanita itu, memperlakukannya seperti ratu, melebarkan senyum tak peduli wanita itu sedang marah atau apapun. Karena hanya wanita itu teman seumur hidupnya.
Teman seumur hidup dalam imajinasinya.
Ia berfikir jika menciptakan karakter wanita itu di imajinasinya, ia bisa sedikit lega karena ia bisa memiliki teman hidup dengan kondisi yang sama dengan dirinya sendiri. Hingga ia tidak ingin melepaskan karakter wanita itu di imajinasinya dan membiarkan dirinya hanyut bersama dengan imajinasinya yang melayang kesana kemari.
Sejak kecil ia tidak pernah merasakan kesenangan karena ayahnya mati tak jelas dan ibunya melayang seperti lampu gantung meninggalkannya sejak kecil. Hingga ia dibesarkan oleh tetangga sekitarnya dan setelah merasa bisa hidup sendiri, ia pergi dari area perkomplekkan yang penuh dengan orang-orang bermuka dua itu dan memilih untuk tinggal di bawah pohon yang berada dikawasan sungai. Ia benci ketinggian dan juga air yang dingin. Tapi ia ingin melawan kebenciannya karena tak masalah jika ia mati tidak akan ada yang memperdulikannya.
Kesenanganya telah menjauhinya sejak ia kecil hingga sampai sekarang Ia juga membalas dendam pada kesenangan dengan membenci hal itu. sinkron sekali dengan rona wajahnya yang datar dengan tatapan kosong dan suara datar tanpa nada. Menurut dr. Soode, kebenciannya akan kesenangaan dan wajahnya yang datar merupakan simtom yang termasuk Anhedonia dan Afek datar.
Segala simtom-simtom schizophrenia yang mengidapnya ini ia tuangkan pada kekasihnya itu. ia menciptakan kekasih dengan wajah datar tanpa emosi, tidak memiliki teman kecuali dirinya sendiri, dan membenci semua orang, didalam fikirannya.
Ia menikmati imajinasi ini karena wanita itu membuatnya bisa melihat refleksi dirinya sendiri. Difikirannya.
Ia juga menciptakan karakter dirinya sendiri didalam imajinasinya, sebagai kekasih yang terbaik untuk wanita itu.
Sebelumnya ia begitu kacau hingga ia tidak pernah bergerak sedikitpun dari duduknya dipohon, tapi wanita itu menyemangatinya, meskipun tidak pernah wanita itu tampilkan tapi ia tahu wanita itu mencintainya.
Ia tersenyum lebar. Apakah akan terkutuk jika aku mengatakan bahwa ia merupakan refleksi Tuhan yang buruk dengan menciptakan karakter yang mencintainya? Yah buruk sekali karena itu hanya di imajinasinya.
Ia membenci belajar, kekasihnya juga begitu
Ia membenci teman-teman sekolahnya, wanita itu juga
Ia selalu menguapkan emosinya pada benda mati, wanita itu melakukannya
Ia membenci air dingin yang membuatnya ingin mati. Wanita itu menuruti imajinasinya dan pergi meninggalkan jasad itu.
Yang semuanya hanya terjadi difikiran laki-laki itu.
Segala yang ada difikirannya memang sangat jauh berbeda dari realitasnya, ia tidak memiliki wanita seperti itu karena hanya ada di imajinasinya.
Ia membenci memakan pil dari dr. Soode itu. ia sangat benci demi apapun yang mengutuknya dengan penyakit jiwa ini.
Tapi untuk kali ini, Ia penasaran
Dengan wajah kosong ia mengambil pil itu dan memakannya, tiba-tiba sosok wanita itu menghilang.. menghilang menjauhinya. Difikirannya, wanita itu mati ketika tertidur disofa saat ia bermain dengannya dirumah wanita itu. tapi itu adalah reaksi dari pil yang tampaknya berusaha keras untuk melakukan apapun demi menjauhkan ia dengan wanita imajinasinya itu.
Ia berjanji tidak akan pernah memakan pil itu lagi dan tetap duduk diam dibawah pohon itu dengan fikirannya yang berkelabut menampilkan dirinya dimana ia tampak ingin meninggalkan wanita itu dimalam hari ketika wanita itu sedang tertidur. Tapi tidak.. itu masih bagian dari reaksi pilnya.
Ia tidak akan mau meninggalkan wanita itu karena ia berjanji pada dirinya akan setia kepada wanita itu. difikirannya.
Dengan begitu sang pil yang telah merasuki tubuhnya benar-benar menguasai dirinya sepenuhnya. Untuk beberapa saat, laki-laki itu merasa bahwa ia normal tanpa ada schizophrenia yang menghinggap dijiwanya. Pil itu terus bekerja, mengelilingi darah ditubuhnya dan memengaruhi dirinya untuk melepaskan  imajinasi itu.
Ia gagal bertahan.
Tiba-tiba saja fikirannya telah normal dan menyadarkan dirinya, bahwa wanita itu hanyalah kilasan dari imajinasinya. Tak lebih.
Bodoh, dia sudah sadar sedari dulu, bodoh.
Tapi untuk saat ini ia benar-benar normal. Ia menyadari ketidakmasukakalan dalam imajinasinya dengan keadaan normal seperti ini. wanita itu tidak benar-benar ada.
Wanita yang dicintainya itu.
Ia benar-benar merasa kekacauan tubuhnya menghilang seiring dengan wanita itu yang pergi meninggalkan jasadnya digenangan air shower itu. sebagaimana imajinasinya ikut menghilang menjauhi dirinya.
Baiklah, ia benar-benar akan hidup sebatang kara.
Tanpa wanita itu. tanpa imajinasinya.
Ia telah menggunakan kesempatannya untuk menciptakan karakter itu difikirannya. Dan sekarang saatnya ia harus melepaskannya.
Ia benar-benar sendiri.
Dan normal.

---


9/8/15 
10.12 am
its ending biacthhhzzzzzzzz

Uhuk
Hayo bingung ya pasti
Aku yang berbulan kemudian baca tulisan ini jadi bingung hahah
Mau cerita ahh
Jadi sebenernya gaada rencana bikin schizo2 ginian wkwkkwkw 
Maunya ya aku emg bikin cerita ini ngalir aja gitu, gimana cewek yang punya yah semacam emotionally problem berusaha buat berubah demi pacarnya. Halah. Ya pokoknya gamau ada plot twist2 gitu cuma mau nulis saja, ngalir udah.
Tapi ketika gabut melanda (WKWKWKWK) jadi aku iseng2 googling tentang schizophernia gitu dan aku baca2 draft cerita ini dan langsung saja ku mendapat ilham untuk membuat plot twist yang amburadul ini so yeah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar