“catch me as I fall”
Ia menuruti kata laki-laki itu.
Untuk pertama kalinya, ia bangun terlalu pagi
dengan muka datar dan hati juga pikiran yang kacau balau.
Muka datar itu masih saja tak berubah meskipun ia
telah memasuki area sekolah itu. setidaknya ia harus merubah raut wajah buruk
itu karena ia akan menemui laki-laki yang semalamam bekerja keras membuatnya
kacau seperti ini.
Lagu Whisper dari Evanescence memekakakkan kedua
telinganya yang terpasang earphone yang
bertengger dikedua kepalanya, ia menekan tombol volumenya yang berlambang + keras-keras
dan berulang-ulang hingga suara Amy Lee benar-benar memekakakkan kedua gendang
telinganya.
Ini lebih baik.
Ia tidak bisa menyiksa orang, apalagi menyiksa diri
sendiri, ia tidak sebodoh itu.
Dan tidak ada hukum yang mencantumkan larangan
untuk menyiksa barang-barang disekitarnya. Dan inilah yang dilakukannya.
Ia meremas Ipodnya kuat-kuat, menekan-nekan
layarnya kasar hingga layar itu berbentuk seperti visual sebuah buku yang
disiram dengan air. Ini belum cukup. Sangat belum.
Lima puluh ribu air mata bahkan tidak akan bisa
meredakan emosinya. Menyiksa barangpun hanya semakin membuat nafsunya untuk
menyiksa barang lain yang lebih ekstrim.
Jika hatinya berkata bahwa emosinya sebenarnya
sudah reda, dan otaknya mengatakan bahwa dia harus melampiaskan
sehabis-habisnya, dan hatinya membantah bahwa mereda saja sudah cukup dan
otaknya yang memiliki kuasa besar atas dirinya yang tak perlu meminta
persetujuan darinya tak seperti hati, dengan senyum miring memerintahkan
tangannya untuk membanting pintu loker yang baru saja ia letakkan barang-barang
tak penting itu.
Suara yang dihasilkan atas bantingan itu cukup
untuk membuat orang menatapnya heran dan tak lupa dengan beragam alis yang
diperlihatkan, dinaikkan sebelah, dikerutkan, dinaikkan.
Terserah, sekalipun jika ia dibolehkan ia akan
mencabut alis-alis itu dengan kuku-kuku tajamnya.
Jika saja manusia adalah benda. Bukan manusia yang
memiliki mulut yang busuk, otak berulat dan hati berlobang-lobang tidak
segan-segan ia akan membunuh mereka kelaut sekalian..
Ia masih tidak puas. Tuhan, apa yang harus
dilakukannya?!
Ah, apakah masih pantas ia bertanya pada Tuhan?
Masih pantaskah ia mengaku bahwa ia adalah milik Tuhan? Setelah semua perlakuan
setan yang ia turuti ini?
Jadi, apakah ia harus bertanya kepada setan saja
selanjutnya?
Iblis terkutuk.
Ia ingin menangis, tapi sudah terlalu banyak yang
ia habiskan waktu untuk itu dan ia tidak mau membuang air itu dengan sia-sia.
Bahkan ia tidak bisa membedakan mana yang sia-sia
dan mana yang tidak.
Semuanya sia-sia.
Tapi ia tidak ingin mengeluarkan air dari matanya
itu. tidak lagi untuk sekarang.
Tenang, setan..
Tenang.. begitu aku masuk kelas aku akan melihatnya dengan kepala yang masih
tertunduk dimeja dan aku akan menendang mejanya hingga terbalik dan ia akan
terhimpit oleh meja itu. dan aku dengannya akan memasuki ruang detensi dan aku
akan membawanya kabur untuk menamparnya. Sesimpel itu.
Hebatnya, kata-kata yang tak ubah seperti perkataan
orang gila itu memotivasinya untuk berhenti menyiksa benda melainkan menyiksa
orang yang telah membuang lima puluh ribu air matanya semalam.
Terserah jika kau mengatakan dia memang benar-benar
gila total karena aku sudah mengatakannya jauh-jauh hari sebelum kisah ini
dimulai.
Entah untuk apa ia menangiskan laki-laki itu ketika
hal itu adalah yang benar-benar diinginkannya.
Tapi ia tidak benar-benar menginginkannya, demi
Tuhan.
Ia menegakkan kepalanya dan mencabut kunci loker
itu dengan lembut dan memasukinya kedalam tas dengan tak kalah lembut pula.
Kukatakan, dia orang gila yang tak tertangkap oleh oknum sekitar.
Seketika ia memasangkan senyumnya seiring dengan
suara Amy Lee yang sekarang telah melantunkan Taking Over Me dengan emosi
khasnya. Ia benar-benar mencintai Amy Lee ini.
Berjalan menuju kelasnya dengan riang, seolah
kakinya tak lagi berjalan ditanah, ia berjalan layaknya sosok Tinker bell yang
sedang bernyanyi menyusuri jalanan hutan. Yah, bisa dikatakan ia berjalan
layaknya kartun berbalut daun itu, melayang seolah mempunyai sayap.
-
Sialan, setan. Setan sialan. Iblis terkutuk. Setan.
Ia benci jika sesuatu yang menjadi motivasinya—atau manusia normal dengan
logika tinggi menyebutnya harapan— tidak terjadi. Yang ia dapatkan hanya bangku
kosong tanpa ada kepala yang menunduk ataupun tas biru gelap yang tergeletak
ditempat duduk itu.
Adakah seseorang yang bisa menyarankan kata umpatan
yang lebih pantas ia lontarkan selain setan dan kawan-kawan? Ia sudah bosan
menyebut makhluk terkutuk yang buat hidupnya ikut-ikutan terkutuk ini. ia
benar-benar tak ad aide lagi akan apa kata-kata umpatan yang harus disebut
lagi. Setan. Iblis terkutuk. Setan. Setan. Setan. Iblis terkutuk. Setan. Setan.
Set..
“AN!” tak disangka, entah memang setan benar-benar
datang kejiwanya dan mulai bercanda dengannya dengan memamerkan kegilaan wanita
ini didepan seluruh penjuru kelas yang tengah fokus akan aljabar yang sedang
dikumandangangkan layaknya sangkakala itu.
Belum cukup hanya dengan berterika seperti orang
gila, setan melancarkan aksi barunya hingga ia mendorong meja yang ada
didepannya dengan kaki dan tangan hingga terbalik.
Dan dengan tak tahu dirinya ia pergi beranjak
mengambil tasnya dan keluar dari kelas itu.
Apa gunanya ia sekolah jika manusia sialan itu
tidak ada disana?!
---
08/08/15
08.34 pm
So this is just an
cliffhanger. I know. I just.. k this is my full day of emotional. I got so much
damn shit in this day
Tidak ada komentar:
Posting Komentar