Sabtu, 08 Agustus 2015

Chance (3)


“catch me as I fall”

Ia menuruti kata laki-laki itu.
Untuk pertama kalinya, ia bangun terlalu pagi dengan muka datar dan hati juga pikiran yang kacau balau.
Muka datar itu masih saja tak berubah meskipun ia telah memasuki area sekolah itu. setidaknya ia harus merubah raut wajah buruk itu karena ia akan menemui laki-laki yang semalamam bekerja keras membuatnya kacau seperti ini.
Lagu Whisper dari Evanescence memekakakkan kedua telinganya yang terpasang earphone yang bertengger dikedua kepalanya, ia menekan tombol volumenya yang berlambang +  keras-keras dan berulang-ulang hingga suara Amy Lee benar-benar memekakakkan kedua gendang telinganya.
Ini lebih baik.
Ia tidak bisa menyiksa orang, apalagi menyiksa diri sendiri, ia tidak sebodoh itu.
Dan tidak ada hukum yang mencantumkan larangan untuk menyiksa barang-barang disekitarnya. Dan inilah yang dilakukannya.
Ia meremas Ipodnya kuat-kuat, menekan-nekan layarnya kasar hingga layar itu berbentuk seperti visual sebuah buku yang disiram dengan air. Ini belum cukup. Sangat belum.
Lima puluh ribu air mata bahkan tidak akan bisa meredakan emosinya. Menyiksa barangpun hanya semakin membuat nafsunya untuk menyiksa barang lain yang lebih ekstrim.
Jika hatinya berkata bahwa emosinya sebenarnya sudah reda, dan otaknya mengatakan bahwa dia harus melampiaskan sehabis-habisnya, dan hatinya membantah bahwa mereda saja sudah cukup dan otaknya yang memiliki kuasa besar atas dirinya yang tak perlu meminta persetujuan darinya tak seperti hati, dengan senyum miring memerintahkan tangannya untuk membanting pintu loker yang baru saja ia letakkan barang-barang tak penting itu.
Suara yang dihasilkan atas bantingan itu cukup untuk membuat orang menatapnya heran dan tak lupa dengan beragam alis yang diperlihatkan, dinaikkan sebelah, dikerutkan, dinaikkan.
Terserah, sekalipun jika ia dibolehkan ia akan mencabut alis-alis itu dengan kuku-kuku tajamnya.
Jika saja manusia adalah benda. Bukan manusia yang memiliki mulut yang busuk, otak berulat dan hati berlobang-lobang tidak segan-segan ia akan membunuh mereka kelaut sekalian..
Ia masih tidak puas. Tuhan, apa yang harus dilakukannya?!
Ah, apakah masih pantas ia bertanya pada Tuhan? Masih pantaskah ia mengaku bahwa ia adalah milik Tuhan? Setelah semua perlakuan setan yang ia turuti ini?
Jadi, apakah ia harus bertanya kepada setan saja selanjutnya?
Iblis terkutuk.
Ia ingin menangis, tapi sudah terlalu banyak yang ia habiskan waktu untuk itu dan ia tidak mau membuang air itu dengan sia-sia.
Bahkan ia tidak bisa membedakan mana yang sia-sia dan mana yang tidak.
Semuanya sia-sia.
Tapi ia tidak ingin mengeluarkan air dari matanya itu. tidak lagi untuk sekarang.
Tenang, setan.. Tenang.. begitu aku masuk kelas aku akan melihatnya dengan kepala yang masih tertunduk dimeja dan aku akan menendang mejanya hingga terbalik dan ia akan terhimpit oleh meja itu. dan aku dengannya akan memasuki ruang detensi dan aku akan membawanya kabur untuk menamparnya. Sesimpel itu.
Hebatnya, kata-kata yang tak ubah seperti perkataan orang gila itu memotivasinya untuk berhenti menyiksa benda melainkan menyiksa orang yang telah membuang lima puluh ribu air matanya semalam.
Terserah jika kau mengatakan dia memang benar-benar gila total karena aku sudah mengatakannya jauh-jauh hari sebelum kisah ini dimulai.
Entah untuk apa ia menangiskan laki-laki itu ketika hal itu adalah yang benar-benar diinginkannya.
Tapi ia tidak benar-benar menginginkannya, demi Tuhan.
Ia menegakkan kepalanya dan mencabut kunci loker itu dengan lembut dan memasukinya kedalam tas dengan tak kalah lembut pula. Kukatakan, dia orang gila yang tak tertangkap oleh oknum sekitar.
Seketika ia memasangkan senyumnya seiring dengan suara Amy Lee yang sekarang telah melantunkan Taking Over Me dengan emosi khasnya. Ia benar-benar mencintai Amy Lee ini.
Berjalan menuju kelasnya dengan riang, seolah kakinya tak lagi berjalan ditanah, ia berjalan layaknya sosok Tinker bell yang sedang bernyanyi menyusuri jalanan hutan. Yah, bisa dikatakan ia berjalan layaknya kartun berbalut daun itu, melayang seolah mempunyai sayap.
-
Sialan, setan. Setan sialan. Iblis terkutuk. Setan. Ia benci jika sesuatu yang menjadi motivasinya—atau manusia normal dengan logika tinggi menyebutnya harapan— tidak terjadi. Yang ia dapatkan hanya bangku kosong tanpa ada kepala yang menunduk ataupun tas biru gelap yang tergeletak ditempat duduk itu.
Adakah seseorang yang bisa menyarankan kata umpatan yang lebih pantas ia lontarkan selain setan dan kawan-kawan? Ia sudah bosan menyebut makhluk terkutuk yang buat hidupnya ikut-ikutan terkutuk ini. ia benar-benar tak ad aide lagi akan apa kata-kata umpatan yang harus disebut lagi. Setan. Iblis terkutuk. Setan. Setan. Setan. Iblis terkutuk. Setan. Setan. Set..
“AN!” tak disangka, entah memang setan benar-benar datang kejiwanya dan mulai bercanda dengannya dengan memamerkan kegilaan wanita ini didepan seluruh penjuru kelas yang tengah fokus akan aljabar yang sedang dikumandangangkan layaknya sangkakala itu.
Belum cukup hanya dengan berterika seperti orang gila, setan melancarkan aksi barunya hingga ia mendorong meja yang ada didepannya dengan kaki dan tangan hingga terbalik.
Dan dengan tak tahu dirinya ia pergi beranjak mengambil tasnya dan keluar dari kelas itu.
Apa gunanya ia sekolah jika manusia sialan itu tidak ada disana?!

---
08/08/15
08.34 pm
So this is just an cliffhanger. I know. I just.. k this is my full day of emotional. I got so much damn shit in this day

Tidak ada komentar:

Posting Komentar