Buta
ini menghinggapiku
Menghalangi
mataku. Tak lagi bebas melihat
Kecuali
pada pelangi itu
Pelangi,
ia yang hanya muncul di redanya hujan
Pelangi
itu muncul, disaat tangisku telah usai.
Membuat
rasa benciku meluap.
Apa
yang mereka lakukan?
Mereka
datang ketika aku sudah baik
Lalu
menghilang ketika tangisku terjun deras
Mereka
datang setelah aku tidak membutuhkan warna-warna pesona
Aku
hanya butuh warna-warna itu datang disaat hujan air mataku jatuh lebat.
Bukan
di saat air mataku mongering.
Akulah
korban nan buta akan pesona mereka
Aku
tidak pernah keberatan saat itu
Malah
tersenyum lebar disaat mereka datang
Menganggap
bahwa mereka yang membuat air mataku kering
Sekarang
aku telah mengenyahkan kebutaan itu
Aku
tahu warna-warna itu sama sekali tidak bekerja.
Dia
bukan apa-apa
Selain
warna abstrak yang tidak patut diberi senyum pun terima kasih
Aku
seharusnya melihat pada hal lain.
Seperti
udara..
Udara.
Dia
yang tak pernah kuperhatikan
Dia
bahkan tidak pernah hilang dariku
Menemaniku
hingga aku dapat hidup sempurna
Dia
tidak pernah meninggalkanku
Bahkan
disaat aku tidak membutuhkannya
Disaat
aku tidak peduli lagi dengan itu
Dia
tidak peduli dan tetap berada disini.
Merasuki
relungku.
Yah,
aku telah buta.
Aku
tak mampu membedakan mana yang baik untukku
Juga
mana yang pantas menemaniku
Aku
buta.
Tak
sadar..
Tanpanya…
aku tidak bisa berdiri tegak
Tanpanya
yang mengelilingiku.. mendamaikan jiwa yang kacau balau ini
Tanpanya….
Tanpamu.
--
kinda the most longest poe i ever write hagzhagz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar