“then, why’d you have to go and
lock me out when I let you in?”
5/18/15. Senin
Bosan
dengan xbox-nya, ia menguap dan mematikan permainan itu lalu memilih untuk
duduk disofa dimana sosok laki-laki telah bertengger dengan mata tertutup dan
raut wajah yang memancarkan kedamainan. Tanpa sadar ia tersenyum; apa yang
menjadi pandangannya saat ini ialah kebahagiaan yang takkan bisa terbayar oleh
apapun. Siapa yang bisa membayar kebahagiaan lebih dari si belahan hatinya yang
meskipun secara harfiah seluruh anggota badannya beristirahat karena tidur,
namun pesona dan sinyal kebahagiaannya tetap bekerja meskipun sang empunya
tidak menyuruh mereka untuk bekerja. Sosok itu selalu bisa membahagiakannya
tanpa harus bersusah payah.
Ia
mendaratkan badannya disofa dengan hentakkan yang cukup besar hingga
membangunkan sosok itu. bukannya merasa bersalah karena telah membangunkan
sosok itu, ia malah menampilakn deretan gigi putihnya dan menyandarkan dirinya
pada diri lelakinya itu. karena aku tidak akan susah-susah untuk menuliskan konflik
drama seperti tv seri yang selalu kau tonton, maka, katakan saja lelaki manis
itu malah mengembangkan senyumnya dan merengkuh gadis mungil disebelahnya itu.
merengkuh dengan selembut hatinya dan tidak akan membiarkan siapapun
mereggangkan rengkuhannya terhadap gadis ini.
“apakah
menurutmu ibu membeli bahan makan di Irlandia, karena hei, ini sudah tiga jam
berlalu dan asal kau tahu saja, dalam kulkas masih penuh dengan bahan-bahan
makanan dan kenapa ibu harus pergi hanya untuk mengajakmu makan malam? Aku
curiga ia sedang berbelanja ke mall mencari gaun terindah untuk mempesonakanmu
dengan penampilannya dan juga masakannya nanti. Maka karena itu ia menahanmu
disini agar kau tetap duduk manis didepan pintu dan menonton penampilan
dahsyatnya yang akan memasuki rumah dengan berjalan ala model layaknya Bruce—oh
Caitlyn Jenner yang turun dari limosin barunya yang juga dibelinya tadi untuk
mempesonakanmu dan sambil memasuki pintu rumah ia akan berkata ‘call me baby’ dengan senyum yang bisa
kau bayangkan seperti Caitlyn Jenner di majalah Vanity Fair yang sial, aku
masih tidak mengerti, kenapa laki-laki cantik itu bisa terlihat mempesona dan
awet muda dibandingkan dengan mantan istrinya, Kris Jenner dan oh, aku tidak
akan segan mengatakan bahwa ia lebih cantik dibandingkan Kylie Jenner yang
entah kenapa cewek bodoh itu bisa memiliki bibir yang terlihat seperti
seseorang telah memasukan botol coca-cola kecil kedalam mulutnya yang sial—aku
baru sadar dulu ia cantik sekali mengalahkan Kendall, bibirnya bahkan terlihat
seksi waktu dulu, kecil dan tipis, ah!— dulu sangat bagus itu dengan paksa dan
sepuluh menit kemudian baru melepaskan botol itu dari mulutnya dengan menarik
paksa hingga lahirlah bibir Kylie yang begitu legendaris saat ini. demi tuhan,
jika saja ia tidak macam-macam dengan bibirnya itu dan tetap tumbuh dengan
natural, aku yakin kecantikannya benar-benar akan mengalahkan Kendall
sekalipun. Dan entah kenapa, kurasa ia terobsesi dengan Marilyn Monroe, wanita
idola laki-laki zaman baheula dahulu
yang sungguh, aku tidak menemukan alasan mengapa ia diidolakan seperti itu. ya!
Aku yakin Kylie terinspirasi dengan wanita itu. ia pasti ingin menjadi wanita
legendaris layaknya si Monroe itu, bisa kuakui, ia legendaris sekarang
mengingat umurnya yang sepantaran denganku namun dada maupun bokong juga
bibirnya membuatnya terlihat seperti bukan adik dari Kendall, melainkan Kakak
dari Kim atau Kourtney mungkin? Ah entahlah, aku tidak begitu mengetahui
tentang Kadarshian.” Ia menarik nafasnya dalam mengingat betapa cepat dan
panjangnya kalimat yang ia lontarkan tadi dalam satu tarikan nafas. Hal ini
membuat laki-laki itu tersenym senang. Ia selalu menyukai juga merindukan sifat
gadis yang satu ini, dia seperti seorang raconteur
dan juga bisa menjadi sosok pendiam yang dingin dalam satu waktu. Benar-benar
orang yang memilik mood swinging.
Tentu
saja ia tidak perlu untuk menjawab segala ocehan gadisnya ini, walaupun pasti
akan seru, tapi ia tahu bahwa jika sudah seperti ini, maka gadisnya sedang
mengalami fase-fase kelelahan dan beberapa detik lagi sudah dipastikan ia
tertidur pulas.
Kembali,
tak henti-hentinya senyum merekah dibibirnya tak lupa dengan tatapan lembut
yang memuja ia suguhkan pada gadis itu. menggerekan tangannya mendarat dipuncak
kepala gadis itu dan mengusapnya lembut merengkuh badan kecilnya. Dan benar
saja, gadis itu sudah tertidur pulas.
-
Dia
terbangun dengan mata yang berat lagi badan yang rasanya remuk seakan sosok hulk baru saja menginjaknya. Menegakkan
badannya, ia melihat sekeliling, pantas saja badannya serasa remuk seperti ini.
dia terlalu lama tidur di sofa dengan posisi punggungnya yang menyandar pada
lengan sofa. Ia mendengus kesal dan meregangkan badannya.
Dan
matanya terbuka lagi. Bukankah dia tidak sendiri disofa ini? ia masih ingat
betul bagaimana pulasnya ia tidur karena bantuan badan kokoh lelakinya. Ia
yakin ia tidak sendiri tidur disini. Kembali memutar otaknya, ia ingat bahwa
ibunya menjanjikan makan malam bersama. Dan ia tertidur pulas menunggu ibunya
datang bersama lelaki itu.
Sial,
kemana manusia itu pergi?
Ia
melihat jam ditangannya yang menunjukkan jam sepuluh malam. Ia mengerutkan
alisnya. Jangan katakan mereka telah duluan melanjutkan kegiatan makan mereka
meninggalkannya sendirian disini. Selamanya.
Selamanya,
karena jika makan malam sudah berakhir, sudah pasti rumahnya kembali kosong
karena ibunya yang sudah pasti akan pergi ketempat-hanya-tuhan-yang-tahu dan
laki-laki sialan itu tentu saja pulang kerumahnya. Ia memiliki kehidupannya
sendiri.
Oh,
bagus, jadi apa maksud dari semua ini?!
Merasakan
perutnya yang berbunyi mengemis padanya untuk diberikan asupan makanan. Ia
berjalan dengan gontai menuju dapurnya. Jika saja perutnya adalah makhluk
hidup, sudah ia ungkapkan perkataan maafnya karena tidak bisa memenuhi
permintaannya. Jika makan malamnya sudah berakhir, mana mungkin masih ada
makanan didapurnya jika makan malam sudah selesai. Hah, jika saja perutnya
adalah makhluk hidup, ia akan menyuruh si perut untuk membeli makanan sendiri
dan berhenti untuk mengganggunya sementara ia akan hidup mengurung di kamarnya
menikmati waktu sendiriannya. Oh, alangkah indahnya hidup seperti apa yang
diinginkan.
Berjalan
dengan kaki yang diseret-seret. Ia benar-benar tidak memiliki semangat untuk
melakukan apapun saat ini. semua orang yang biasa disekelilingnya begitu sukses
menghancurkan moodnya. Harusnya
mereka mendapat medali emas atas semua ini.
Ia
membuka tudung saji di meja makannya. Dan, ha. Benar, kan. Yang ditemuinya
hanya sebuah piring yang kosong dan ia bersumpah ia tidak akan bisa mengerti
kenapa hanya ada satu piring kosong disini. Bukankah mereka berdua makan malam?
Harusnya ada banyak piring kosong yang berada di meja makan.
Ia
mengangkat bahu tidak mau peduli lagi dengan apa yang terjadi beberapa jam
belakangan ini dan mengangkat piring itu ke tempat pencucian piring. Belum
sampai pada tujuannya untuk meletakkan piring, ia melihat sebuah kertas
tergeletak tak kuasa dibawah piring itu.
Apa?
Surat permintaan maaf karena menghabiskan makan malam hanya berdua tanpa
dirinya? Atau permintaan maaf dari ibunya yang ternyata memang merencanakan
untuk makan malam hanya berdua dengan laki-laki itu? oh, atau permintaan maaf
karena laki-laki itu telah muak dengannya yang urakkan ini dan memutuskan untuk pergi menghilang dari
penglihatannya?
Klise.
Nah,
sekarang lihat, dia memang benar-benar urakkan
Ia
menghela nafas kesal dan memilih untuk mengabaikan surat itu dan menempelnya
padda kulkas untuk dibaca di lain hari. Lain hari yang benar-benar sangat lama
dan tidap dapat ditentukan. Rasa penasarannya terhadap apa yang dilakukan dua
orang itu terhadapnya benar-benar hilang karena siksaan kelaparan yang
mengelilinginya.
Masa
bodoh, ia hanya ingin melanjutkan tidurnya dan memutuskan untuk makan besok
pagi. Berdoa saja ibunya akan mengingat bahwa ia memiliki anak gadis yang
kelaparan dan akan mengantarkan makanan padanya esok hari.
-
“jadi kau tidak membaca suratnya,
huh?”
Ia hanya mengangkat bahu dan
mengalihkan pandangannya kearah lain selain laki-laki yang berhasil balas
dendam membuatnya kesal ini “malas. Lagian tidak ada gunanya kan? Kau pergi ya
pergi saja. Minta maaf dalam surat seperti manusia jaman purba. Klise. Aku
benci hal-hal klise”
Kalimat yang dilontarkan gadisnya
itu sukses membuatnya tertohok. Harusnya ia ingat akan sikap gadisnya ini yang
paling benci hal-hal klise dan basa-basi seperti ini. dengan cepat ia mengubah
raut wajah yang sempat muram menjadi tersenyum kembali.
Tuhan, jika saja jumlah senyum
menentukan tingkat surga mana yang akan didapatkan tiap manusia. Tidak
diragukan lagi laki-laki ini telah mencapai tingkat tertinggi dari surga.
“oke, maaf aku tahu kau benci hal
itu tapi aku tahu kau lebih benci jika aku berdiri menghambat jalanmu yang
menuju ke kelas dikoridor hanya untuk meminta maaf dan lalu pergi begitu saja.
Jadi, yah” laki-laki itu mengangkat bahunya dan berharap gadis ini memperbaiki
moodnya yang kacau ini
“nope, aku tidak akan marah. Dan
bodoh, kenapa kau harus memikirkan esok pagi disekolah jika sekarang kau berada
tepat didepanku? Bodoh”
“jadi apa? Aku akan meminta maaf
didepanmu saat ini dan lalu pergi?” “oh, kabar buruk, dear, aku tidak mau
meninggalkanmu saat ini jadi besok saja. Aku akan meminta maaf dan pergi dan
boom! You live happily ever after”
Ia hanya tertawa meremehkan. Entah
apa yang merasuki otak laki-laki ini hingga ia selalu mengucapkan ‘akan pergi’
atau ‘meninggalkannya’. Oh, jangan harap ia akan penasaran dan berubah memeluk
laki-laki itu dan termakan omong kosong itu lalu menangis terisak sambil
mengucapkan ‘jangan tinggalkan aku’
Oh, itu tidak akan terjadi untuk
selamanya.
“wow, such a good lullaby, dan
terimakasih atas bantuanmu yang selalu sukses membuatku mengantuk. Dan aku
ingin tidur. Kau bisa pergi tinggalkan aku” ucapnya sambil melipat tangannya
didepan dada tak lupa dengan penekanan pada kalimat akhirnya. Oh, ini lucu.
Menurutnya.
Tentu saja tidak menurut laki-laki
itu.
Tapi laki-laki itu kembali
tersenyum lagi—oh astaga—dan mengacak rambut gadis itu. ia hanya menjauhkan
kepalanya dari tangan laki-laki itu tanpa memperbaiki rambutnya. Kembali, ia
menguap besar untuk menekankan pada laki-laki itu untuk cepat pergi.
“yah, sudahlah. Selamat tinggal, eh
selamat tidur juga” ia merengkuh badan gadis itu dan menngecup puncak
kepalanya.
“hm” ucapnya tanpa membalas pelukan
laki-laki itu namun juga tidak menghindar dari kehangatan yang dituarkan oleh
laki-laki itu. diam-diam ia berharap waktu untuk berhenti sekarang juga karena
ia terlanjur nyaman dengan kehangatan ini. sebut ia munafik karena memang
itulah dia.
“well, jangan sampai terlambat
besok pagi. I’m leaving”
-
Untuk
kedua kalinya ia terbangun dari tidur dengan cara yang tidak nyaman. Medengus
kecil, apalagi yang sedang Tuhan permainkan terhadap scenario hidupnya?!.
Sampai sekarang ia masih merasakan kehangatan yang dihantarkan oleh laki-laki
tadi didalam mimpinya. Sontak tangannya bergerak menuju kepalanya. Semuanya
terasa nyata.
Apa?
Apa Tuhan sedang memberi kode bahwa laki-laki itu memang pergi meninggalkannya?
“hah”
ia mendengus kecil. Tidak. Tidak mungkin. Ia yakin semuanya akan baik-baik
saja. Esok pagi laki-laki itu akan menghinggap dibangku depan dan mengaggunya
lagi seperti biasanya.
Menggelengkan
kepalanya dengan pelan. Ia berusaha untuk tidur, dan juga, berusaha
menghilangkan perasaannya yang sedikit terganggu atas mimpi itu.
-
Sudah
merasa puas untuk melihat gadisnya yang sekarang mulai tertidur kembali. Ia
tersenyum dan menutup jendela kamar gadis itu dengan pelan. Berjalan menuju
mobilnya, ia kembali menoleh ke jok belakang untuk mencek koper-koper dan
barangnya. Setelah merasa semuanya lengkap, Ia menjalankan mobilnya
meninggalkan semua kenangannya.
---
If
u wondering.. yep I used no name for the both of them. Bcs why not. Ha.
///gangerti lagi aing kenapa jadi gini cerita'a:''((((///
Tidak ada komentar:
Posting Komentar