Sabtu, 20 Desember 2014

Salahkan Angin


Rasanya seperti setengah mati. Atau mungkin mati.
Semuanya tidak lagi seperti dulu, berubah dan hancur menjadi butiran layaknya pasir yang tidak berdaya hingga Angin dengan berkuasanya menerbangkan mereka hingga tak lagi bisa bersatu.

Sakit.

Begitu rasanya ketika tembok tinggi nan kokoh itu telah dibangun dengan sempurnanya, roboh sudah oleh satu hembusan Angin.

Kecewa, sangat sekali.

Ketika meluangkan satu tanah lapang untuk menanam bunga-bunga yang menyegarkan pandangan lagi menentramkan hati. Namun harapan dan usaha dengan segenap hati itu hancur lebur ketika sang penguasa Angin datang menerbangkan bibit-bibit kecil yang baru saja menghirup dunia luar. Angin merasa begitu berkuasa hingga ia tidak mau datang bersama hujan, tidak ingin memberi bunga-bunga sedikit rasa surga.

Angin memilih matahari.

Angin dengan gagah dan bangganya datang menghampiri bunga-bunga dengan matahari di sisinya. Selalu begitu hingga bunga-bunga tidak sanggup lagi. Mereka tidak bisa bertahan. Mereka tidak tahan melihat kehadiran Angin dan matahari yang selalu datang dengan memberikan siksaan pedih bagi bunga-bunga. Mereka tidak tahan lagi.

Mati. Itulah hal terbaik yang bisa dilakukan mereka. 

Aku, dengan sangat bangga menyalahkan Angin atas semua ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar