Rasanya seperti setengah mati. Atau mungkin mati.
Semuanya tidak
lagi seperti dulu, berubah dan hancur menjadi butiran layaknya pasir yang tidak
berdaya hingga Angin dengan berkuasanya menerbangkan mereka hingga tak lagi
bisa bersatu.
Sakit.
Begitu
rasanya ketika tembok tinggi nan kokoh itu telah dibangun dengan sempurnanya,
roboh sudah oleh satu hembusan Angin.
Kecewa,
sangat sekali.
Ketika meluangkan
satu tanah lapang untuk menanam bunga-bunga yang menyegarkan pandangan lagi
menentramkan hati. Namun harapan dan usaha dengan segenap hati itu hancur lebur
ketika sang penguasa Angin datang menerbangkan bibit-bibit kecil yang baru saja
menghirup dunia luar. Angin merasa begitu berkuasa hingga ia tidak mau datang
bersama hujan, tidak ingin memberi bunga-bunga sedikit rasa surga.
Angin memilih
matahari.
Angin dengan
gagah dan bangganya datang menghampiri bunga-bunga dengan matahari di sisinya. Selalu
begitu hingga bunga-bunga tidak sanggup lagi. Mereka tidak bisa bertahan. Mereka
tidak tahan melihat kehadiran Angin dan matahari yang selalu datang dengan
memberikan siksaan pedih bagi bunga-bunga. Mereka tidak tahan lagi.
Mati. Itulah
hal terbaik yang bisa dilakukan mereka.
Aku, dengan
sangat bangga menyalahkan Angin atas semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar