Jumat, 31 Juli 2015

Going Nowhere


-----------------

"-- and you're never gonna get me with the diamond ring"
Begitu selesai aku berbicara, tiba-tiba ia membuang xbox ke lantai dengan kasar. Dan oh, jangan luapakan dengan wajahnya yang mengerut, alis menyatu kebawah dan bibir yang mengerucut. Jika saja dulu aku tidak emosi, mungkin anakku dimasa depan akan sangat menggemaskan sepertinya.
"What is so important about that? You want me or money?"
Aku melipat kedua tangan didepan dada "then why should be xbox?! You cuddling with that thing like twenty four seven! And you dont even have a time for me. And hey, i have money or diamond or whatever you think. I have it."
Aku tahu aku berbicara tidak jelas sekali saat itu. Harusnya, seperti novel-novel roman yang kulihat bahwa sang pacar harusnya saling mengerti akan sifatnya masing-masing.
Tapi tidak dengan kita.
Dulu aku bisa menghakimimu akan ketidakpedulianmu padaku. Tapi sekarang, aku tahu kita sama-sama tidak mengerti
"Fine, Ms have-it-all. Then what?! You can go now, you have everything that you want right? Leave."
Aku tidak tahu kenapa kau yang harusnya marah. Padahal aku banyak melihat pendapat-pendapat orang bahwa bagaimanapun sepasang kekasih bertengkar, sudah pasti sang wanita yang selalu marah berkoar dan sang lelaki harus merasa bersalah
Apakah kita bertukar kelamin? Bodoh, luapakan itu.
"One thing you shoulda know, i cant have you"
Dan dengan begitu aku pergi. Meninggalkan apartemenmu yang tak kalah dari kapal pecah. Jika saja kau tidak seperti ini sudah pasti aku akan merubahnya menjadi kamar yang layak pakai.
oh, satu hal yang harus kau tahu; sampai sekarang aku masih berharap kau memanggilku dengan nama belakangmu. Bukan Ms. Know-it-all sialan itu.
Ah, terlalu muda dan terlalu banyak mengambil kesempatan yang tak jelas membuat kita menjadi seperti ini. Tak ada yang bisa menahan emosi.
-
"And then, the girl moved to her dream-place, Paris. She got a boyfriend who called her Ms. All American, with the bad first sight--like the tv series you watch, theyre always fighting like cat and dog. But then they finnaly in love each other and the boy change her lastname into his lastname. Live with one daughter which now holding her hands and stared at me with the curious but scared at the same time. The end. Uh?"
Sosok yang beridiri didepanku ini mengakhiri cerita kehidupan bodohku dengan alis mata bodohnya yang naik-turun itu.
"Gosh" aku tidak mengerti lagi. Maksudku, bagaimana bisa cinta bodohmu semasa remaja kembali berdiri mencegatmu dan lalu langsung bercerita akan kehidupanmu. Hei bukankah harusnya kita yang meneceritakan kehidupan kita kepada (sebut saja) teman lama yang sudah lama tak bertemu?
Sekali lagi, kita memang diluar dari garis kebiasaan orang lain.
Apakah ini masih berlanjut? Aku bahkan tidak akan bisa bersamamu lagi. "Are you an paparazzi or what? How can you know all of it?!"
"I know everything about you" ujarnya dengan menampilkan senyum manisnya itu. Ah, jangan lupakan lesung pipi yang menawan itu. Mata hijaunya turun kebawah menatap gadis kecil yang berada disebelahku. Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil ini dan mengusap pipi halusnya. "Unfortunately, i dont know about her. So tell me, how do you do, little princess?"
Bisa kulihat anakku bersembunyi dibalik tubuhku. Tak bisa dimengerti kenapa aku memiliki anak pemalu disaat kedua orang tuanya selalu memalukan seperti ini.
"Well its Mandy, she 's just starring elementary school here. Dont get it wrong. She's kind of shyly"
"I see"
Sejenak hanya diam yang menemani kami dipertemuan tak terduga ini.
"So, how's your life?"
"Me?  Its flat as hell. Since you leaving"
Sial.
Kenapa ia masih mengungkit itu lagi?!
Seperti mengerti raut wajah tak enakku, ia memecahkan keheningan denga tertawa dan ahh lesung pipinya Tuhan..
"Why'd so serious? No.. im not that poor" benarkah? Jadi hanya aku yang menyedihkan setelah berakhirnya kisah kami dulu? "Forget it. Im still alone, by the way. Didint think that i will get a girl for now"
"You lying uh, i know there was very long queue in the build called like 'who want to be Harry Styles girlfriend' out there"
"Hah. No, silly" ia menarik nafas pelan dan seketika senyum menawan tadi hilang "im still stuck in our moment"
Aku menegang
"It was always you"
Dengan begitu ia pergi meninggalkan aku.
"Mom?"
Ah, maksudku meninggalkan kami.
----



Tidak ada komentar:

Posting Komentar