“IM HOMEEEEEEEEEEEE” aku menggebrak pintu
rumah dan berlari menuju kotak berhargaku. Coin
For France. Blah, terserah apa yang kau pikir—bukan, ini bukan sumbangan
berupa koin untuk warga tidak mampu di Prancis, tidak. Tentu saja.
“you’re not home. You’re my daughter. Eve.”
Aku menjulingkan
mataku. Hah, aku tahu Dad bukan oranghh yang sepolos itu. Dia senang sekali
berpura-pura menjadi orang lain.
“please, Dad”
Dad
mengacak—atau aku lebih senang menyebutnya memukul kepalaku.
“sampai kapan kau
harus mengumpulkan koin recahanmu dalam kotak itu?”
“sampai aku
menginjakkan kaki di kota Prancis. Sampai aku bisa melihat Eiffel Tower secara
langsung. Sampai aku menemukan jodohku disana. Sampai aku mengadakan pesta
pernikahan di bawah menara Eiffel. Sampai—“
“Ya. Ya. Ya. God Bless You”
Nah, ini lebih
baik. Percayalah, aku akan berterimakasih jika penghuni rumah ini membiarkanku
sendirian dan mengkhayal. Ya… setidaknya itu akan menghilangkan penatku setelah
mencari uang. Aku hidup dirumah kayu kecil ini bersama Dad dan adikku, Adam.
Mom meninggalkan kami menuju tempat yang lebih tenang di atas sana. Karena
lelah menjalani hidup yang selalu seperti ini, mungkin. Sekarang hanya Dad lah
tulang punggung kami. Ah, tidak juga… aku dan Edie—Adam juga bekerja. Kami
semua bekerja untuk keperluan masing-masing kecuali Dad yang bekerja untuk
memenuhi kebutuhan pokok kami seperti makanan atau apapun yang seharusnya
diberikan oleh orangtua. Sementara Dad bekerja untuk kami, aku bekerja untuk
mengisi coin for france dan kebutuhan
lainnya dan Edie bekrja untuk entahlah, sesuatu yang tidak aku tahu dan aku tak
mau membuang waktu untuk mengetahuinya. Masalah pekerjaanku…. Aku tidak akan
memberitahumu sekarang. Aku tidak janji kapan. Ng.
--
Blug. Yak! Ini
lemparan tepat sasaran ke seribu lebih yang kulakukan.
“aduh!”
“bayar pajak!”
sergahku menghadang seorang pria yang berjalan di daerah teritorialku.
“pajak?”
“kau berjalan di
daerah kekuasaanku! Sekarang bayar pajaknya atau aku akan melemparmu dengan
sesuatu yang lebih besar dari yang tadi”
“another annoying chick” dia melempar
beberapa lima lembar dollar dan berlalu tanpa protes sekalipun. Jarang sekali
ada orang seperti ini di daerahku. Kau tidak tahu saja, ini perkampungan yang
jauh dari pusat kota Washington. Jadi, merupakan hal langka jika ada manusia
yang dengan tanpa rasa pedulinnya melempar uang pada orang lain yang
melemparnya dengan batu.
Aku tidak
peduli. Mungkin saja dia orang kaya atau apalah.
Aku berjalan
seraya menghitung pendapatanku hari ini—jangan bilang kau masih tidak tahu apa
pekerjaanku. Aku tidak akan menjelaskannya—yang kebanyakan adalah uang koin,
jadi aku memisahkan uang yang diberi oleh orang kaya tadi di saku lainnya.
Tidak pernah aku mendapatkan uang sebanyak itu dengan cuma cuma. hah, kau tahu
sajalah bagaimana perekonomian di desa ini. Uang merupakan hal berharga dalam
kehidupan kami. Jadi dapat dipastikan bahwa orang tadi bukanlah penduduk asli
desa ini. Aku yakin.
Di tengah
perjalanan, aku melihat laki-laki baya yang entah apa yang menggerogoti otaknya
sehingga dia terlentang di tengah jalan. Sekasar-kasanya aku dalam bekerja,
tentu saja aku tidak akan menerapkan sikap kasar itu di waktu selain bekerja.
Jadi, aku menghampiri laki-laki itu dan mencoba menyelamatkannya dalam maut.
Siapa tahu saja ada mobil yang lewat dan menabraknya. Walau aku pastikan dalam
skala 100% kemungkinan mobil lewat di desa ini adala 0,00000000000000000000%
alias mustahil. Ya… tapi kan siapa tahu saja..
“apa yang kau
lakukan disini, sir?” sapaku ketika
berdiri tepat di depan—atau diatas?—nya. Sontak laki-laki itu berdiri dan
memegang tas sandangnya erat.
“ah… kukira
tidak ada makhluk di desa ini yang mau memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki
tua Bangka sepertiku ini”
“tidak apa.
Lagian, kenapa kau berada disini? Apa kau tidak takut sesuatu yang mengerikan
akan terjadi padamu seperti di tabrak—“
“imajinasimu
terlalu tinggi, nak. Mustahil ada mobil lewat di desa kumuh ini. oh ya.. aku
membutuhkan pertolonganmu.. bisakah kau membantuku?”
“tentu,apa yang
harus kulakukan untukmu?” tepat ketika aku mengatakan ‘tentu’ dia meletakkan
tasnya di atas tanah dan whoa! Aku
tidak tahu apakah laki-laki ini tukang sihir atau apa.. tapi tiba-tiba saja tas
kumuh-kusam-kusut-kecil itu berubah menjadi tenda dengan gradasi pelangi dan
gambar menara Eiffel yang sangat besar. Bahkan rumah-gubuk-kecilku dapat masuk
ke dalam tenda itu. Membuyarkan keterpanaanku, laki-laki itu berdeham
“gambar tenda
ini berubah-ubah sesuai dengan keinginan terbesar dan suasana hati seseorang—“
oh, jadi sekarang aku tahu bahwa Paris memang benar-benar-benar-benar keinginan
terbesarku
“—jadi, apa yang
harus kau lakukan hanyalah masuk kedalam tenda ini, dan temukan
dia-yang-memberimu“
Entah di dorong
setan apa, tanpa berpikir ulang aku mendekati tenda itu dan melihat-lihat
kedalamnya, tapi kosong. Aku berjalan satu langkah lalu berbalik pada laki-laki
itu.
“apa maksdumu
dengan dia-yang- AAAAAAAAAAA”
aku merasa ringan.
Tidak memiliki beban apapun. Aku seperti terbang meliuk-liuk seakan isi badanku
seperti jantung, hati, usus terpisah dari tempatnya dan hilang. Aku seperti di
koyak-koyak. Ini seperti roller coaster kematian.
Aku bahkan tidak ingat apa yang aku lakukan sebelumnya.
--
Sepuluh menit
aku memaksa untuk menikmati roller
coaster kematian itu telah berlalu. Aku masih belum berani membuka mata.
Satu detik. Aku
masih berdiri di tempat yang aku tidak akan tahu namanya.apakah aku masih
hidup? Apakah ini masih di dunia?
Lima detik. Aku
masih belum mebuka mataku. Mengabaikan bunyi berisik di sekitarku. Seperti
orang yang berbincang. Namun aku tidak tahu apa atau bahasa apa yang mereka
pakai
Sembilan detik.
Baiklah, in terlalu lama. Tapi aku masih takut untuk membuka mata
Sepuluh detik.
Ah, aku menyerah. Aku membuka mataku perlahan.. sangat perlahan.. perlahan
sekali..
Dan..
Yatuhan.
Ini mimpi. Aku
yakin. Ini benar-benar mimpi. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi aku yakin itu.
Percayalah, ini mimpi. Kalau tidak percaya kau bisa berteriak di telingaku
“HOI” sialan.
Siapa yang berani berteriak di telingaku?!
“KENAPA KAU
HARUS BERTERIAK DI TELINGAKU, TUAN?!”
“karena kau yang
menginginkannya” ucapnya seraya melipat tangannya di depan dada. Ah, aku ingat
laki-laki ini. dia orang yang memberiku lembaran dollar yang banyak waktu itu.
Aha! Waktu itu! Waktu itu! Waktu itu aku berjalan sambil memegang uang dari
pria itu an menemukan laki-laki tua yang tidur di tengah jalan dan--- aku tidak
tahu apa-apa lagi. Eh, tapi aku masih ingat kata terakhir laki-laki itu
“dan
temukan dia-yang-memberimu” demi hidung panjang Squidward … aku tidak tahu apa maksud laki-laki ini
“HOI”
Sial.
“can you just stop your annoying voices?”
“tidak”
Aku melotot
“kenapa kau bisa berada disini?”
“seharusnya aku
yang bertanya seperti itu.”
Dan dia pergi.
Hah, persetan
dengan orang ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak yakin
bahwa ini benar-benar keinginanku. Aku tidak merasakan apapun saat ini kecuali
takut. Padahal aku berdiri di depan Eiffel. Aku hanya cemas.
--
Aku berjalan
dengan lunglai melewati sungai Seine, lama-kelamaan aku merasakan sesuatu yang
aneh pada diriku, aku seakan tidak terlihat oleh orang lain, bahkan banyak
orang yang berjalan menembusku begitu saja. Seakan aku adalah makhluk halus.
Ini benar-benar
hal paling menakutkan dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa
sepengetahuan Dad—yah, walaupun di luar rumah aku adalah gadis sengak, tetap
saja aku bersikap layaknya gadis manis di dalam rumah. Kecuali terhadap Edie,
sih.— apa yang Dad lakukan sekarang? Apakah dia mencariku? Dan bagaimana
keadaan Edie? Dan apa yang harus ku lakukan sekarang untuk bertahan hidup di
sini? Bagaimana caranya untuk pulang? Serius, aku ingin pulang.
“terpesona
dengan Paris?” sial. Laki-laki itu lagi. Kenapa dia datang dan pergi seperti
jelangkung?
Aku mengalihkan
kepalaku padanya “yah, aku bukan kau yang bisa pergi kemanapun yang kau mau
karena uangmu yang banyak” aku memalingkan kepala darinya “apa yang kau lakukan
disini? Tidakkah kau menyadari kau seperti jelangkung?”
Dia mengangkat
alis dan tertawa lepas. Sungguh, aku tidak sedang memberi lelucon “terserah apa
katamu. Hanya saja.. aku baru menyadari sesuatu; aku tembus pandang, bahkan
hampir semua orang berjalan menabrakku—“
“SAMA!” sontak
saja aku berkata begitu. Bukannya melebih-lebihkan keadaan, tapi aku kira hanya
aku saja yang merasakannya
Dia mendengus
sebal “aku belum selesai berbicara—“
Dan lagi-lagi
aku memotong perkataannya “jadi apa yang terjadi padamu?”
Dia melihatku
dengan tatapan membunuhnya. “yah.. setelah kau melemparku, aku berjalan dan
menemukan laki-laki tua yang tidur di jalanan. Ku kira dia mati atau
semacamnya. Tapi dia menyuruhku masuk ke sebuah tenda yang sebelumnya adalah
tas dekil dan walla! Sampailah aku di
sini. Ahya! Aku ingat kata terakhirnya sebelum aku masuk tenda adalah ‘temukan’
dia-yang-kau-temui’ dan aku tidak tahu apa maksudnya, aku bahkan menemui banyak
orang hari ini”
Kali ini aku
tidak mau memotong pembicaraannya. Aku malah berpikir. kenapa kejadiannya sama sekali?
“kenapa sama
denganku? Dan dia juga mengatakan ‘temukan dia-yang memberimu’ tapi memberi
apa? Dan hei! Kau berteriak di depan telingaku dan kau juga bilang ‘karena kau
yang menginginkannya’ apa maksudmu? Jadi kau bisa membaca pikiran orang lain?”
“memangnya kau
tidak?”
Aku mengerutkan
kening “excuse me?”
Dia membesarkan
matanya, tampak terkejut “jadi kau tidak bisa membaca fikiran orang? Kenapa? Ku
kira ini kelakuan laki-laki tua itu. Tapi jika iya, kenapa dia tidak
melakukannya padamu?”
“percayalah, aku
tidak bisa memjawabnya. Sungguh” dia memutar bola mata.
“omong-omong aku
jadi ingat tentang Astrall Project. Apakah menurutmu yang kita alami ini
termasuk Astral?”
“astral apa?”
aku mengerutkan kening. Jangan salahkan pengetahuanku yang cetek ini sehingga
tidak tahu apa itu Astral. Aku hidup di desa yang miskin ilmu
pengetahuan,ingat?
“astral.. kau
tidak tahu Astral? Itu sebuah cara lain dimana kau bisa berpergian ketempat
mana yang kau mau. Namun yang pergi hanyalah jiwamu. Sedangkan ragamu tetap
berada di tempat semula sehingga kau menjadi tembus pandang. Apakah menurutmu
yang kita alami ini sama?”
“yah mana aku
tahu. aku bukan anak kota yang berdompet tebal” aku melebih-lebihkan nadaku,
menyindirnya “lagian, apakah Astral harus diawalai dengan memasuki tenda yang
sebelumnya merupakan tas kumal?”
“setahuku,
tidak. Astral hanya memerlukan konsentrasi dan pikiran yang kosong dan ha! Kau akan sampai ketempat mana yang
kau mau”
“dan bagaimana
cara agar jiwa kita kembali pada raga dalam Astral?”
“entahlah..
mungkin dengan tetap konsentrasi dan pikirkan dimana letak raga kita tadi”
“maka, itulah
yang harus kita lakukan!” balasku bersemangat
Jangan.tetap
disana dan turuti perintahku sebuah suara berbisik
di telingaku. Suara yang kuyakini adalah suara laki-laki tua itu.
Tiba-tiba kami
berdua diam.
“tidak” kata
kami bersamaan.
Dia melihatku.
“jadi kau juga mendengar bisikan tadi?”
“kau juga? Ya..
dia menyuruhku untuk tetap disini dan turuti kemauannya”
“jadi apa yang
harus kita lakukan? Entahlah, eh, aku Jace, kau?”
“Eve. Mungkin
aku akan berkeliling sekitar sini. Setidaknya sampai sekarang aku belum lapar.”
--
Besok paginya, Aku
masih berjalan menyusuri Sungai Seine. Sungguh, ini seperti mimpi buruk. Aku
tidak tahu apa yang harus ku lakukan selain berjalan. Bagaimana cara untuk
pulang? Sungguh. Aku ingin pulang.
Ini mimpi buruk.
Benar-benar mimpi buruk. Aku tidak percaya bahwa berada di kota Paris bukanlah
segalanya. Paris bukanlah surga. Paris juga bukan mimpi indah. Aku tidak bisa
membayangkan jika koin-koin di kotak itu benar-benar kubuang untuk pergi ke
Paris. Karena kenyatannya, Paris bukanlah segalanya. Paris adalah mimpi buruk.
Sangat. Sangat. Mimpi. Buruk.
Semuanya
akan indah pada waktunya. Kau hanya perlu menunggu dia-yang-memberi itu datang
Suara itu lagi.
Apa maksudnya? Demi Patrick yang tidak punya hidung dan telinga.. aku tidak
mengerti maksud laki-laki tua ini. Siapa yang memberiku? Apa yang di berinya?
Apakah dia ada disini? Siapa. Orang. Itu.
Ya
Ah, bisakah
laki-laki ini berbicara dengan jelas? Otakku sedang kacau dan susah mencerna
perkataan yang tidak jelas dan mengambang seperti ini.
Apa maksdunya
dengan ‘ya’?
Tentang adanya
orang yang memberiku itu disini. YEP! Aku yakin yang dimaksud laki-laki tua itu
adalah tentang keberadaan dia-yang-memberiku itu. Jadi dia ada disini. Tapi
siapa? Siapa yang memberiku? Siapa orangnya? Siapa. Siapa. SIAPA?!. Yatuhan aku
mulai gila.
“Eve” sial.
Bisakah—siapapun itu— berhenti mengejutkanku?! Aku menoleh ke sumber suara dan
menemukan sosok Jace dengan tampang kalutnya. Sama seperti tampangku yang
mungkin lebih kacau
“ada apa?”
“entah… aku
hanya mengikuti bisikan laki-laki tua itu dan ternyata membawaku kesini”
balasnya dengan nada ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang dihadapinya.
“apa yang dia
katakan?”
“dia mengatakan
jika aku ingin kembali pulang, aku harus menuruti perintahnya. Dan perintahnya
adalah; temui Eve.”
Aku mengerutkan
kening? “aku?”
Apa maksudnya?
Jace harus
menemuiku.
Kau
hanya perlu menunggu dia-yang-memberi itu datang
For
God Sake. Kenapa aku bodoh sekali?! Kenapa aku baru
menyadarinya? Tentu saja, dia-yang-memberi itu adalah Jace. Kenapa tidak
terfikirkan olehku? Dia yang terakhir memberiku uang. Dan laki-laki tua itu
juga menyuruh Jace untuk mencari dia-yang-kau-temui. Tentu saja itu adalah aku!
Karena aku orang terakhir yang ditemuinya sebelum masuk kedalam tenda itu.
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
“jadi orang itu
adalah…”
“kau” ucap kami
berbarengan dan tiba-tiba badanku terjatuh, meluncur terbang melayang seperti
yang kualami pada roller coaster kematian
pagi kemarin. Kemankah tujuan roller
coaster kematian kali ini? Kuharap ke rumah. Aku lelah sekali. Sungguh. Aku
merindukan rumah. Apalagi kasur!
--
Ternyata
keinginanku tidak terkabulkan setalah sepuluh menit menikmati roller coaster kematian ini, aku bukan
berada dirumah. tapi aku dan Jace berada di jalan dimana aku bertemu dengal
laki-laki tua itu.
Laki-laki tua
itu tersenyum lebar.
“akhirnya kalian
bertemu lagi” aku melihat kesekeliling dan dengan iseng aku memegang tenda
kumal itu. Tapi tanganku tak bisa memegannya. Sepertinya aku masih tembus
pandang
“kenapa aku
masih tembus pandang?”
“ah ya ya ya.
Ada satu permintaan lagi dariku kepada kalian. Ini tidak susah. Tenang saja. Pergilah
kerumah Jace. Dan kalian akan menemukan raga kalian disana
Kali ini Jace
yang mengambil alih. Tampaknya dia emosi. Aku tidak tahu kenapa “apa maksdumu?
Kenapa kau tidak langsung saja mengembalikan raga kami? Dan apa maksudmu
menyuruhku untuk memcari Eve di Paris? Apakah ini permainan? Kami bukan
mainanmu, sir”
Dia tampak
tenang dengan kemrahan Jace “tenanglah, biar aku beritahu kalian satu rahasia;
kalian seharusnya sangat dekat. Hanya saja terpisah oleh takdir, tempat,
kenyataan dan waktu”
Dan dia
menghilang.
--
Setahun telah
berlalu.
Selepas
menghilangnya laki-laki tua itu. Jace membawaku kerumahnya yang berada di
Granite Falls, Washington. Dugaanku benar, Jace memang orang kaya. Keluarganya
adalah pemilik hampir seluruh perusahaan di Amerika. Dan kau tidak akan percaya
ini; Ibu Jace adalah sahabat Ibuku dan Ibu Jace mengatakan bahwa sebelum ibuku
meninggal dia menitipkan pesan padanya untuk menjagaku dan Edie atau bahasa
kasarnya mengasuhku. Namun Dad tidak mau merepotkan orang lain sehingga dia
memilih untuk pindah ke desa ini—awalnya kami tinggal di Granite Falls juga.
Aku baru tahu ini dari cerita Ibu Jace—
Dan sekarang aku
berada disini. Di rumah mewah yang diberikan Ibu Jace pada kami—Dad dan Edie—
yang memang dari dulu telah dipersiapkan untuk kami. Bahkan Ibu Jace memberi Dad
pekerjaan di salah satu cabang perusahaanya sebagai General Meneger, dan Ibu
Jace juga memasukan Edie ke sekolah menengah atas. Aku tidak percaya dengan
semua ini. Ini seperti mimpi! Kau bayangkan saja, aku gadis sengak yang
mendapatkan uang dari hasil memalak orang lain dan menyisakan koinnya untuk
Paris —yang justru uang itu menjadi
sia-sia karena aku sudah melihat Paris dan aku belum memiliki keinginan
untuk pergi kesana— dan tiba-tiba aku tidak memerlukan rumah kayu dan pekerjaan
itu lagi karena aku berada disini! Di rumah luar biasa besar dengan kehidupan
yang cukup. Dan kau tahu apa yang paling mengejutkan dari kisah hidupku? Aku
bertunangan dengan Jace!
Aku tidak
percaya dengan semua ini. Sungguh, ini seperti dongeng-nina bobok. Dan Paris
adalah awal segalanya. Aku mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Jace jika aku
tidak menolong laki-laki tua—yang sampai sekarang aku tidak tahu dimana dia—dan masuk ke tenda yang
mengantarku ke Paris.
Semuanya
akan indah pada waktunya
Tiba-tiba
kalimat itu terngiang di kepalaku. Laki-laki tua itu benar; semuanya akan indah
pada waktunya.
Dan
sekaranglah waktunya.
--
////
Cerita juga dimuat dan termasuk kontributor dalam kumpulan cerpen; Setiap Tempat Punya Kenangan, Penerbit Oksana, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar