Minggu, 16 November 2014

France Lullaby



 “IM HOMEEEEEEEEEEEE” aku menggebrak pintu rumah dan berlari menuju kotak berhargaku. Coin For France. Blah, terserah apa yang kau pikir—bukan, ini bukan sumbangan berupa koin untuk warga tidak mampu di Prancis, tidak. Tentu saja.
you’re not home. You’re my daughter. Eve.”
Aku menjulingkan mataku. Hah, aku tahu Dad bukan oranghh yang sepolos itu. Dia senang sekali berpura-pura menjadi orang lain.
please, Dad”
Dad mengacak—atau aku lebih senang menyebutnya memukul kepalaku.
“sampai kapan kau harus mengumpulkan koin recahanmu dalam kotak itu?”
“sampai aku menginjakkan kaki di kota Prancis. Sampai aku bisa melihat Eiffel Tower secara langsung. Sampai aku menemukan jodohku disana. Sampai aku mengadakan pesta pernikahan di bawah menara Eiffel. Sampai—“
“Ya. Ya. Ya. God Bless You
Nah, ini lebih baik. Percayalah, aku akan berterimakasih jika penghuni rumah ini membiarkanku sendirian dan mengkhayal. Ya… setidaknya itu akan menghilangkan penatku setelah mencari uang. Aku hidup dirumah kayu kecil ini bersama Dad dan adikku, Adam. Mom meninggalkan kami menuju tempat yang lebih tenang di atas sana. Karena lelah menjalani hidup yang selalu seperti ini, mungkin. Sekarang hanya Dad lah tulang punggung kami. Ah, tidak juga… aku dan Edie—Adam juga bekerja. Kami semua bekerja untuk keperluan masing-masing kecuali Dad yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok kami seperti makanan atau apapun yang seharusnya diberikan oleh orangtua. Sementara Dad bekerja untuk kami, aku bekerja untuk mengisi coin for france dan kebutuhan lainnya dan Edie bekrja untuk entahlah, sesuatu yang tidak aku tahu dan aku tak mau membuang waktu untuk mengetahuinya. Masalah pekerjaanku…. Aku tidak akan memberitahumu sekarang. Aku tidak janji kapan. Ng.
--
Blug. Yak! Ini lemparan tepat sasaran ke seribu lebih yang kulakukan.
“aduh!”
“bayar pajak!” sergahku menghadang seorang pria yang berjalan di daerah teritorialku.
“pajak?”
“kau berjalan di daerah kekuasaanku! Sekarang bayar pajaknya atau aku akan melemparmu dengan sesuatu yang lebih besar dari yang tadi”
another annoying chick” dia melempar beberapa lima lembar dollar dan berlalu tanpa protes sekalipun. Jarang sekali ada orang seperti ini di daerahku. Kau tidak tahu saja, ini perkampungan yang jauh dari pusat kota Washington. Jadi, merupakan hal langka jika ada manusia yang dengan tanpa rasa pedulinnya melempar uang pada orang lain yang melemparnya dengan batu.
Aku tidak peduli. Mungkin saja dia orang kaya atau apalah.
Aku berjalan seraya menghitung pendapatanku hari ini—jangan bilang kau masih tidak tahu apa pekerjaanku. Aku tidak akan menjelaskannya—yang kebanyakan adalah uang koin, jadi aku memisahkan uang yang diberi oleh orang kaya tadi di saku lainnya. Tidak pernah aku mendapatkan uang sebanyak itu dengan cuma cuma. hah, kau tahu sajalah bagaimana perekonomian di desa ini. Uang merupakan hal berharga dalam kehidupan kami. Jadi dapat dipastikan bahwa orang tadi bukanlah penduduk asli desa ini. Aku yakin.
Di tengah perjalanan, aku melihat laki-laki baya yang entah apa yang menggerogoti otaknya sehingga dia terlentang di tengah jalan. Sekasar-kasanya aku dalam bekerja, tentu saja aku tidak akan menerapkan sikap kasar itu di waktu selain bekerja. Jadi, aku menghampiri laki-laki itu dan mencoba menyelamatkannya dalam maut. Siapa tahu saja ada mobil yang lewat dan menabraknya. Walau aku pastikan dalam skala 100% kemungkinan mobil lewat di desa ini adala 0,00000000000000000000% alias mustahil. Ya… tapi kan siapa tahu saja..
“apa yang kau lakukan disini, sir?” sapaku ketika berdiri tepat di depan—atau diatas?—nya. Sontak laki-laki itu berdiri dan memegang tas sandangnya erat.
“ah… kukira tidak ada makhluk di desa ini yang mau memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki tua Bangka sepertiku ini”
“tidak apa. Lagian, kenapa kau berada disini? Apa kau tidak takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi padamu seperti di tabrak—“
“imajinasimu terlalu tinggi, nak. Mustahil ada mobil lewat di desa kumuh ini. oh ya.. aku membutuhkan pertolonganmu.. bisakah kau membantuku?”
“tentu,apa yang harus kulakukan untukmu?” tepat ketika aku mengatakan ‘tentu’ dia meletakkan tasnya di atas tanah dan whoa! Aku tidak tahu apakah laki-laki ini tukang sihir atau apa.. tapi tiba-tiba saja tas kumuh-kusam-kusut-kecil itu berubah menjadi tenda dengan gradasi pelangi dan gambar menara Eiffel yang sangat besar. Bahkan rumah-gubuk-kecilku dapat masuk ke dalam tenda itu. Membuyarkan keterpanaanku, laki-laki itu berdeham
“gambar tenda ini berubah-ubah sesuai dengan keinginan terbesar dan suasana hati seseorang—“ oh, jadi sekarang aku tahu bahwa Paris memang benar-benar-benar-benar keinginan terbesarku
“—jadi, apa yang harus kau lakukan hanyalah masuk kedalam tenda ini, dan temukan dia-yang-memberimu“
Entah di dorong setan apa, tanpa berpikir ulang aku mendekati tenda itu dan melihat-lihat kedalamnya, tapi kosong. Aku berjalan satu langkah lalu berbalik pada laki-laki itu.
“apa maksdumu dengan dia-yang- AAAAAAAAAAA”
aku merasa ringan. Tidak memiliki beban apapun. Aku seperti terbang meliuk-liuk seakan isi badanku seperti jantung, hati, usus terpisah dari tempatnya dan hilang. Aku seperti di koyak-koyak. Ini seperti roller coaster kematian. Aku bahkan tidak ingat apa yang aku lakukan sebelumnya.
--
Sepuluh menit aku memaksa untuk menikmati roller coaster kematian itu telah berlalu. Aku masih belum berani membuka mata.
Satu detik. Aku masih berdiri di tempat yang aku tidak akan tahu namanya.apakah aku masih hidup? Apakah ini masih di dunia?
Lima detik. Aku masih belum mebuka mataku. Mengabaikan bunyi berisik di sekitarku. Seperti orang yang berbincang. Namun aku tidak tahu apa atau bahasa apa yang mereka pakai
Sembilan detik. Baiklah, in terlalu lama. Tapi aku masih takut untuk membuka mata
Sepuluh detik. Ah, aku menyerah. Aku membuka mataku perlahan.. sangat perlahan.. perlahan sekali..
Dan..
Yatuhan.
Ini mimpi. Aku yakin. Ini benar-benar mimpi. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi aku yakin itu. Percayalah, ini mimpi. Kalau tidak percaya kau bisa berteriak di telingaku
“HOI” sialan. Siapa yang berani berteriak di telingaku?!
“KENAPA KAU HARUS BERTERIAK DI TELINGAKU, TUAN?!”
“karena kau yang menginginkannya” ucapnya seraya melipat tangannya di depan dada. Ah, aku ingat laki-laki ini. dia orang yang memberiku lembaran dollar yang banyak waktu itu. Aha! Waktu itu! Waktu itu! Waktu itu aku berjalan sambil memegang uang dari pria itu an menemukan laki-laki tua yang tidur di tengah jalan dan--- aku tidak tahu apa-apa lagi. Eh, tapi aku masih ingat kata terakhir laki-laki itu
“dan temukan dia-yang-memberimu” demi hidung panjang Squidward  … aku tidak tahu apa maksud laki-laki ini
“HOI”
Sial.
can you just stop your annoying voices?”
“tidak”
Aku melotot “kenapa kau bisa berada disini?”
“seharusnya aku yang bertanya seperti itu.”
Dan dia pergi.
Hah, persetan dengan orang ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak yakin bahwa ini benar-benar keinginanku. Aku tidak merasakan apapun saat ini kecuali takut. Padahal aku berdiri di depan Eiffel. Aku hanya cemas.
--
Aku berjalan dengan lunglai melewati sungai Seine, lama-kelamaan aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, aku seakan tidak terlihat oleh orang lain, bahkan banyak orang yang berjalan menembusku begitu saja. Seakan aku adalah makhluk halus.
Ini benar-benar hal paling menakutkan dalam hidupku. Ini pertama kalinya aku pergi jauh tanpa sepengetahuan Dad—yah, walaupun di luar rumah aku adalah gadis sengak, tetap saja aku bersikap layaknya gadis manis di dalam rumah. Kecuali terhadap Edie, sih.— apa yang Dad lakukan sekarang? Apakah dia mencariku? Dan bagaimana keadaan Edie? Dan apa yang harus ku lakukan sekarang untuk bertahan hidup di sini? Bagaimana caranya untuk pulang? Serius, aku ingin pulang.
“terpesona dengan Paris?” sial. Laki-laki itu lagi. Kenapa dia datang dan pergi seperti jelangkung?
Aku mengalihkan kepalaku padanya “yah, aku bukan kau yang bisa pergi kemanapun yang kau mau karena uangmu yang banyak” aku memalingkan kepala darinya “apa yang kau lakukan disini? Tidakkah kau menyadari kau seperti jelangkung?”
Dia mengangkat alis dan tertawa lepas. Sungguh, aku tidak sedang memberi lelucon “terserah apa katamu. Hanya saja.. aku baru menyadari sesuatu; aku tembus pandang, bahkan hampir semua orang berjalan menabrakku—“
“SAMA!” sontak saja aku berkata begitu. Bukannya melebih-lebihkan keadaan, tapi aku kira hanya aku saja yang merasakannya
Dia mendengus sebal “aku belum selesai berbicara—“
Dan lagi-lagi aku memotong perkataannya “jadi apa yang terjadi padamu?”
Dia melihatku dengan tatapan membunuhnya. “yah.. setelah kau melemparku, aku berjalan dan menemukan laki-laki tua yang tidur di jalanan. Ku kira dia mati atau semacamnya. Tapi dia menyuruhku masuk ke sebuah tenda yang sebelumnya adalah tas dekil dan walla! Sampailah aku di sini. Ahya! Aku ingat kata terakhirnya sebelum aku masuk tenda adalah ‘temukan’ dia-yang-kau-temui’ dan aku tidak tahu apa maksudnya, aku bahkan menemui banyak orang hari ini”
Kali ini aku tidak mau memotong pembicaraannya. Aku malah berpikir. kenapa kejadiannya sama sekali?
“kenapa sama denganku? Dan dia juga mengatakan ‘temukan dia-yang memberimu’ tapi memberi apa? Dan hei! Kau berteriak di depan telingaku dan kau juga bilang ‘karena kau yang menginginkannya’ apa maksudmu? Jadi kau bisa membaca pikiran orang lain?”
“memangnya kau tidak?”
Aku mengerutkan kening “excuse me?”
Dia membesarkan matanya, tampak terkejut “jadi kau tidak bisa membaca fikiran orang? Kenapa? Ku kira ini kelakuan laki-laki tua itu. Tapi jika iya, kenapa dia tidak melakukannya padamu?”
“percayalah, aku tidak bisa memjawabnya. Sungguh” dia memutar bola mata.
“omong-omong aku jadi ingat tentang Astrall Project. Apakah menurutmu yang kita alami ini termasuk Astral?”
“astral apa?” aku mengerutkan kening. Jangan salahkan pengetahuanku yang cetek ini sehingga tidak tahu apa itu Astral. Aku hidup di desa yang miskin ilmu pengetahuan,ingat?
“astral.. kau tidak tahu Astral? Itu sebuah cara lain dimana kau bisa berpergian ketempat mana yang kau mau. Namun yang pergi hanyalah jiwamu. Sedangkan ragamu tetap berada di tempat semula sehingga kau menjadi tembus pandang. Apakah menurutmu yang kita alami ini sama?”
“yah mana aku tahu. aku bukan anak kota yang berdompet tebal” aku melebih-lebihkan nadaku, menyindirnya “lagian, apakah Astral harus diawalai dengan memasuki tenda yang sebelumnya merupakan tas kumal?”
“setahuku, tidak. Astral hanya memerlukan konsentrasi dan pikiran yang kosong dan ha! Kau akan sampai ketempat mana yang kau mau”
“dan bagaimana cara agar jiwa kita kembali pada raga dalam Astral?”
“entahlah.. mungkin dengan tetap konsentrasi dan pikirkan dimana letak raga kita tadi”
“maka, itulah yang harus kita lakukan!” balasku bersemangat
Jangan.tetap disana dan turuti perintahku sebuah suara berbisik di telingaku. Suara yang kuyakini adalah suara laki-laki tua itu.
Tiba-tiba kami berdua diam.
“tidak” kata kami bersamaan.
Dia melihatku. “jadi kau juga mendengar bisikan tadi?”
“kau juga? Ya.. dia menyuruhku untuk tetap disini dan turuti kemauannya”
“jadi apa yang harus kita lakukan? Entahlah, eh, aku Jace, kau?”
“Eve. Mungkin aku akan berkeliling sekitar sini. Setidaknya sampai sekarang aku belum lapar.”
--
Besok paginya, Aku masih berjalan menyusuri Sungai Seine. Sungguh, ini seperti mimpi buruk. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan selain berjalan. Bagaimana cara untuk pulang? Sungguh. Aku ingin pulang.
Ini mimpi buruk. Benar-benar mimpi buruk. Aku tidak percaya bahwa berada di kota Paris bukanlah segalanya. Paris bukanlah surga. Paris juga bukan mimpi indah. Aku tidak bisa membayangkan jika koin-koin di kotak itu benar-benar kubuang untuk pergi ke Paris. Karena kenyatannya, Paris bukanlah segalanya. Paris adalah mimpi buruk. Sangat. Sangat. Mimpi. Buruk.
Semuanya akan indah pada waktunya. Kau hanya perlu menunggu dia-yang-memberi itu datang
Suara itu lagi. Apa maksudnya? Demi Patrick yang tidak punya hidung dan telinga.. aku tidak mengerti maksud laki-laki tua ini. Siapa yang memberiku? Apa yang di berinya? Apakah dia ada disini? Siapa. Orang. Itu.
Ya
Ah, bisakah laki-laki ini berbicara dengan jelas? Otakku sedang kacau dan susah mencerna perkataan yang tidak jelas dan mengambang seperti ini.
Apa maksdunya dengan ‘ya’?
Tentang adanya orang yang memberiku itu disini. YEP! Aku yakin yang dimaksud laki-laki tua itu adalah tentang keberadaan dia-yang-memberiku itu. Jadi dia ada disini. Tapi siapa? Siapa yang memberiku? Siapa orangnya? Siapa. Siapa. SIAPA?!. Yatuhan aku mulai gila.
“Eve” sial. Bisakah—siapapun itu— berhenti mengejutkanku?! Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok Jace dengan tampang kalutnya. Sama seperti tampangku yang mungkin lebih kacau
“ada apa?”
“entah… aku hanya mengikuti bisikan laki-laki tua itu dan ternyata membawaku kesini” balasnya dengan nada ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang dihadapinya.
“apa yang dia katakan?”
“dia mengatakan jika aku ingin kembali pulang, aku harus menuruti perintahnya. Dan perintahnya adalah; temui Eve.”
Aku mengerutkan kening? “aku?”
Apa maksudnya?
Jace harus menemuiku.
Kau hanya perlu menunggu dia-yang-memberi itu datang
For God Sake. Kenapa aku bodoh sekali?! Kenapa aku baru menyadarinya? Tentu saja, dia-yang-memberi itu adalah Jace. Kenapa tidak terfikirkan olehku? Dia yang terakhir memberiku uang. Dan laki-laki tua itu juga menyuruh Jace untuk mencari dia-yang-kau-temui. Tentu saja itu adalah aku! Karena aku orang terakhir yang ditemuinya sebelum masuk kedalam tenda itu. Bodoh. Bodoh. Bodoh.
“jadi orang itu adalah…”
“kau” ucap kami berbarengan dan tiba-tiba badanku terjatuh, meluncur terbang melayang seperti yang kualami pada roller coaster kematian pagi kemarin. Kemankah tujuan roller coaster kematian kali ini? Kuharap ke rumah. Aku lelah sekali. Sungguh. Aku merindukan rumah. Apalagi kasur!
--
Ternyata keinginanku tidak terkabulkan setalah sepuluh menit menikmati roller coaster kematian ini, aku bukan berada dirumah. tapi aku dan Jace berada di jalan dimana aku bertemu dengal laki-laki tua itu.
Laki-laki tua itu tersenyum lebar.
“akhirnya kalian bertemu lagi” aku melihat kesekeliling dan dengan iseng aku memegang tenda kumal itu. Tapi tanganku tak bisa memegannya. Sepertinya aku masih tembus pandang
“kenapa aku masih tembus pandang?”
“ah ya ya ya. Ada satu permintaan lagi dariku kepada kalian. Ini tidak susah. Tenang saja. Pergilah kerumah Jace. Dan kalian akan menemukan raga kalian disana
Kali ini Jace yang mengambil alih. Tampaknya dia emosi. Aku tidak tahu kenapa “apa maksdumu? Kenapa kau tidak langsung saja mengembalikan raga kami? Dan apa maksudmu menyuruhku untuk memcari Eve di Paris? Apakah ini permainan? Kami bukan mainanmu, sir”
Dia tampak tenang dengan kemrahan Jace “tenanglah, biar aku beritahu kalian satu rahasia; kalian seharusnya sangat dekat. Hanya saja terpisah oleh takdir, tempat, kenyataan dan waktu”
Dan dia menghilang.
--
Setahun telah berlalu.
Selepas menghilangnya laki-laki tua itu. Jace membawaku kerumahnya yang berada di Granite Falls, Washington. Dugaanku benar, Jace memang orang kaya. Keluarganya adalah pemilik hampir seluruh perusahaan di Amerika. Dan kau tidak akan percaya ini; Ibu Jace adalah sahabat Ibuku dan Ibu Jace mengatakan bahwa sebelum ibuku meninggal dia menitipkan pesan padanya untuk menjagaku dan Edie atau bahasa kasarnya mengasuhku. Namun Dad tidak mau merepotkan orang lain sehingga dia memilih untuk pindah ke desa ini—awalnya kami tinggal di Granite Falls juga. Aku baru tahu ini dari cerita Ibu Jace—
Dan sekarang aku berada disini. Di rumah mewah yang diberikan Ibu Jace pada kami—Dad dan Edie— yang memang dari dulu telah dipersiapkan untuk kami. Bahkan Ibu Jace memberi Dad pekerjaan di salah satu cabang perusahaanya sebagai General Meneger, dan Ibu Jace juga memasukan Edie ke sekolah menengah atas. Aku tidak percaya dengan semua ini. Ini seperti mimpi! Kau bayangkan saja, aku gadis sengak yang mendapatkan uang dari hasil memalak orang lain dan menyisakan koinnya untuk Paris —yang justru uang itu menjadi  sia-sia karena aku sudah melihat Paris dan aku belum memiliki keinginan untuk pergi kesana— dan tiba-tiba aku tidak memerlukan rumah kayu dan pekerjaan itu lagi karena aku berada disini! Di rumah luar biasa besar dengan kehidupan yang cukup. Dan kau tahu apa yang paling mengejutkan dari kisah hidupku? Aku bertunangan dengan Jace!
Aku tidak percaya dengan semua ini. Sungguh, ini seperti dongeng-nina bobok. Dan Paris adalah awal segalanya. Aku mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Jace jika aku tidak menolong laki-laki tua—yang sampai sekarang aku  tidak tahu dimana dia—dan masuk ke tenda yang mengantarku ke Paris.
Semuanya akan indah pada waktunya
Tiba-tiba kalimat itu terngiang di kepalaku. Laki-laki tua itu benar; semuanya akan indah pada waktunya.
Dan sekaranglah waktunya.
 --

////

Cerita juga dimuat dan termasuk kontributor dalam kumpulan cerpen; Setiap Tempat Punya Kenangan, Penerbit Oksana, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar