Minggu, 16 November 2014

Last...

a/n: u can listen these song; Last Kiss-Taylor Swift, I Hate You Don't Leave Me-Demi Lovato, With Love-Christina Grimmie.
-



8th december 2012 1:58 am
Jam 1:50 am. Seharusnya Rachel  tidur. Seharusnya dia tidak memikirkan kenangan itu. Seharusnya dia tidak memikirkan cinta terakhirnya.  Seharusnya dia tidur dan bertemu dengan Gabriel di dalam mimpi seperti malam biasanya.
Tapi tidak bisa.
Benaknya bersikeras untuk tetap terjaga malam ini. Tidak seharusnya dia tidur di malam ini. Tidak. Dia hanya ingin memandangi langit-langit kamar, membiarkan bayangan akan masa-masanya dengan Gabriel terputar seperti seseorang mendapatkan kaset rekaman masa lalunya dan memutarnya.
-
8th december 2009 1:58 am
“ha! Terimakasih atas bantuanmu yang membuatku tidak bisa tidur, lagi. Gabriel.”
Seperti biasanya, Gabriel selalu mengendap-endap kerumah Rachel, menyelinap ke kamarnya  lewat jendela dan menghabiskan malam mereka berdua. Sayang sekali waktunya tidak tepat, Rachel sudah tidur ketika Gabriel membangunkannya dan sekarang rasa kantuknya menghilang.
“yaaaaa! Terimakasih sekali. Dan kau harus tahu bahwa besok ujian al-ja-bar. Terimakasih, pengganggu” Rachel mengeja kata aljabar dengan penuh penekananseolah Gabriel anak balita yang tidak pernah merasakan sekolah
“calm down Rise, aku janji ini terakhir kalinya aku mengganggumu.”
-
Benar. Itulah pertama kali dia mengganggu Rachel, untuk selamanya.
Tanpa sadar kedua matanya telah membentuk aliran sungai deras dan tidak bisa berhenti mengalir. Inikah keinginan Gabriel? Membuat sisa hidupnya makin buruk setelah masa-masa menyenangkan yang dia berikan untuk Rachel? Cukup adil, bukan? Dibalik kebahagiaan yang berlebihan akan datang kesedihan yang berlarut. Adil. Sangat adil.
Kalau begitu, kenapa Gabriel harus menghabiskan masa-masa bahagianya dengan Rachel tanpa tersisa dan ketika masa itu habis dia memberikan kesedihan? Kenapa Gabriel harus menghabiskannya? Kenapa? Sampai kapanpun ini tidak akan adil. Bagi Rachel. Dan mungkin juga untuk Gabriel.
-
“mau kunyanyikan sesuatu?”
 “tentu saja, karena itulah tugasmu, Bizzle”
“ya.. ya.. karena mungkin ini terakhir kalinya aku memamerkan suara indah ku padamu. Jadi, aku akan tetap berada disini bernyanyi sampai kau tidur”
“aku tidak akan tidur. Selamat bernyanyi sampai suaramu yang indah itu habis, Tuan.”
Ini yang disukai Rachel dari Gabriel sekaligus hal yang membuatnya kesal. Suaranya. Suara merdu itu seakan ada sihir yang membuat hatinya tenang, bahkan menghilangkan rasa kesalnya  pada Gabriel.suara merdu bak nyanyian gereja itu..
-
Rachel membenci apapun tentang ‘terakhir’ dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan Gabriel. Selamanya. Tanpa kata akhir.
Rachel tahu, Gabriel akan selamanya menjadi yang terakhir untuknya . dia juga tahu bahwa tidak ada yang dibutuhkannya di dunia ini selain laki-laki itu. Rachel akan menanti akhir masa hidupnya agar bisa bertemu dengan Gabriel.
Percayalah, Rachel tidak membutuhkan lelaki lain selama lelaki itu bukan Gabriel Jefferson. Dia akan menjaga dirinya hanya untuk Gabriel. Menjaga hingga pada masanya dia akan menemui Gabriel di Surga.
-
9th december 2012 10:58 am
Rachel berjalan menyusuri jalan yang basah bekas hujan dan sekarang salju mulai berhamburan turun ke bumi, memeluk badannya sendiri. Harusnya hari ini dia menghabiskan waktunya dengan Gabriel di musim salju, saling melempar bola salju atau membuat snowman, harusnya begitu. Harusnya Gabriel memarahinya karena dia keluar rumah di saat badai salju yang menimbun jalan sekitar dan bisa saja menerbangkan Rachel karena badannya yang semakin lama semakin kurus. Gabriel memang marah, sampai sekarang walaupun dia tidak berada di sisi Rachel tetap saja Rachel merasakan bahwa Gabriel marah sekarang, hal itu tergambar di langit. Rachel tahu itu. Setiap harinya setelah Gabriel meninggalkannya ia tetap merasakan Gabriel mengawasinya di atas langit.
Cuaca hari ini sangat dingin. Rachel mengidap Hipotermia yang artinya dia sedang menantang kematian. Atau meminta Tuhan mencabut nyawanya sekarang juga. Yang ada di otaknya hanyalah bagaimana caranya dia bisa melihat Gabriel secara langsung. Bukan di mimpi ataupun sekedar bayangan. Gabriel. Yang ada dalam otaknya tiga tahun belakangan ini, Gabriel.
-
9th december 2009 10:58 am

Rachel berlari membelah antrian para penumpang pesawat. Tidak mempedulikan mereka yang di tabraknya menggerutu. Yang ada di benaknya adalah beberapa menit lagi pesawat Gabriel akan terbang meninggalkannya dan dia tidak bisa bertemu dengan Gabriel untuk waktu yang lama.
“GABRIEL!!!!” Rachel tetap berlari lalu menahan tangan Gabriel yang akan memasuki gerbang yang akan mengantarkannya kedalam  pesawat.
“kupikir kau tidak akan datang,Rise”
“kau pikir aku gila?!” Rachel mendengus dan menghentakkan genggaman tangannya pada Gabriel “pertama, kenapa kau tidak mengatakannya kemarin bahwa kau akan pergi? Kedua, kenapa kau mendapatkan beasiswa Juliard itu sedangkan aku tidak? Ketiga, kenapa kau harus meninggalkan pesan lewat surat? Kau kira ini tahun apa?! Dan keempat,jangan tinggalkan a..aku”
“pertama, aku ingin memberi kejutan padamu, kukira kau tidak akan menyusul kemari dan dua tahun berikutnya aku akan berada di depan rumahmu membawamu ke altar. Kedua, kau tidak ikut tes akhir waktu itu, dear, ketiga, karena aku ingin memberimu kenangan selama aku di Juliard, setidaknya surat itu nantinya akan kau pajang dikamarmu, dan terakhir, tunggu aku. aku akan datang ke rumahmu dengan bunga bertebaran di halaman rumahmu beserta orang-orang yang mendatangi pesta pernikahan kita. Pastikan kau tetap berada di rumah, Rachel Emily Kristeva”. Tidak tahu apa yang harus ia katakan, Rachel memeluk Gabriel erat. Sangat erat, seakan tidak mau membiarkannya pergi. Rachel bisa merasakan detak jantung Gabriel yang kencang bak akan keluar dari tempatnya menembus kaus Gabriel. Mungkin detak jantungnya juga begitu.
-
Dia selalu berada di rumah. Selalu. Dan nyatanya, Gabriel tidak datang. Dia tidak akan datang.
Rachel masih menyimpan surat yang di berikan Gabriel tiga tahun yang lalu. Surat itu tetap utuh. Tak ada sedikitpun pertanda bahwa surat ini telah berumur tiga tahun. Seakan surat ini baru kemarin Gabriel berikan. Seakan baru kemarin dia memeluk Gabriel. Seakan baru kemarin ia berlarian ke bandara mengejar Gabriel.
Seakan baru kemarin ia menerima kabar Gabriel tewas di bunuh manusia kehilangan otak di sana.
-
9th december 2012 12:58 am
Rachel duduk di lantai kamar Gabriel, memakai baju Gabriel yang pernah dipakai Gabriel bersamanya. Memeluk baju itu erat.
Anggap saja ini Gabriel. Anggap dia sedang memeluk laki-laki itu.
Batinnya terus berseru untuk memeluk baju itu, memeluknya seperti halnya dia memeluk Gabriel. Ini tidak sulit karena aroma Gabriel yang tertinggal di baju itu, membuatnya dapat berpura-pura sedang memeluk Gabriel. Memeluk tanpa di peluk. Setidaknya beginilah cara yang dilakukannya ketika merindukan Gabriel. Sayang sekali Rachel tidak tahu apa yang dilakukan Gabriel jika Gabriel merindukannya.
Atau Gabriel tidak merindukannya?
Apa dia telah menemukan wanita baru di surga?
Tidak. Rachel. Kau-lah yang terakhir bagi Gabriel.
Menurut batin Rachel memang begitu, tapi bagaimana dia akan percaya? Selama ini Rachel tidak pernah mengikuti kata batinnya. Dan, apa yang dilakukan Gabriel saat ini?
Dia memperhatikanmu. Dia selalu memperhatikanmu dari alam sana. Dengan begitu dia bisa mengobati rasa rindunya dan bersabar hingga waktunya datang.
Berarti Gabriel menungguku mati?
 Maka itulah yang akan dilakukan Rachel.
“Rise,” Rachel tersentak dan menjatuhkan pisau yang diambilnya “kau tidak akan bunuh diri kan?”
“Gabriel..”
“jangan lakukan itu. Rachel. Jangan pernah. Mati tidak sebagus yang kau bayangkan. Juga, kau bisa melihatku sekarang bukan? Obatilah rasa rindumu itu” sontak Rachel berlari memeluk Gabriel. Dan sekali lagi, hampa. Dia tidak memeluk Gabriel. Dia hanya memeluk bayangan tak kasat mata.
“sampai jumpa”
Setidaknya ini sedikit mengobati rasa rindu Rachel pada Gabriel. Sedikit. Sangat sedikit.
-
9th december 2012 06:58 pm
Ya. Gabriel berhasil menjadi cinta terakhir Rachel.
Gabriel juga berhasil membuat dirinya menjadi yang terakhir bagi Rachel. Seperti Gabriel yang menjadikan Rachel milik terakhirnya.
Gabriel berhasil pula membuat Rachel tidak ingin mencari pengganti lain.
Gabriel berhasil juga menjadikan Rachel yang terakhir baginya. Begitu pula Rachel.
Selama ini Rachel tidak pernah memikirkan ada kata terakhir antara dia dan Gabriel, apalagi memikirkan hubungannya dengan Gabriel berakhir.
Kita belum berakhir, Rise. Belum. Dan tidak akan pernah.
Itu… suara Gabriel.. Rachel yakin itu suara Gabriel. Rachel berputar mengelilingi kamar Gabriel berharap dapat melihat sosok Gabriel yang akan memeluknya erat.
Harapan yang tidak akan pernah di kabulkan.
-
9th december 2009 08:58 pm
“ada apa di rumahmu, Gabriel?
“kau masih bertanya ‘ada apa’? tentu saja, pesta!”
“Gabriel” Rachel memutar bola matanya, ini sudah yang kesekian kalinya Gabriel mengadakan pesta di rumahnya ketika orang tuanya pergi. Tentu saja tidak ada alcohol,heroin atu barang haram lainnya. Itu semua karena larangan tegas Rachel dan ajaibnya Gabriel menuruti perintah wanita ini.
“tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji ini terakhir kalinya aku mengadakan pesta,Rise” sejurus kemudian Gabriel menarik tangan Rachel untuk berdansa.
“aku tidak bisa--”
sekali saja, Rise, Sekali ini saja” dan tatapan memohon itu berhasil mencairkan Rachel
-
9th december 2012 08:58 pm
Rachel benci apapun yang berhubungan dengan ‘terakhir’ ini membuatnya frustasi. Kenapa dia tidak menyadari sebelumnya? Seharusnya dia sadar itu kenangan terakhir yang bisa di berikan oleh Gabriel dengan begitu dia akan ikut ke Juliard. Menghindari Gabriel dari peristiwa pembunuhan itu.
Dan sekarang Rachel menginginkan momen pesta itu kembali . ingin rasanya ia menghentikan kata ‘terakhir’ ataupun ‘sekali saja’ keluar dari mulut laki-laki itu. sekarang, yang dia tahu hanyalah dia ingin laki-laki itu kembali.
Cukup jauh jarak yang Rachel tempuh dengan Gabriel. Rachel benci mengatakan ini, tapi dia merindukan Gabriel selalu. Jauh di dalam hatinya. Selalu saja ada wajah Gabriel yang menghiasi kehidupannya setelah Gabriel meninggalkannya walau Rachel akui, ia senang seakan Gabriel masih berada di sisinya.
Walaupun kenyataan berkata tidak.
Gabriel sudah jauh di sana. Dia telah menemukan kehidupan kekalnya. Sekarang hanya menunggu giliran Rachel.
Kapan aku menemukan kehidupan abadiku? Kapan aku mati?
Sampai sekarang Gabriel tetap menjadi penghuni hatinya. Dan Rachel hanya ingin Gabriel yang tetap berada di hatinya. Rachel ingin dirinya tetap berada dalam hati Gabriel. Rachel ingin selalu bersama Gabriel.
Paling tidak, bisakah dia dan Gabriel bersama, selamanya?
Kenyataannya. Sekarang raga Gabriel tidak bersama Rachel. Rachel bisa merasakan adanya Gabriel di sekitarnya tapi tetap saja, Gabriel tidak ada di sini. Namun dalam lamunan Rachel selalu saja ada wajah Gabriel yang menghiasinya. Selalu lelaki itu.
Semua tentangnya.
-
9th december 2009 10:58 pm
“mati kau! Mati kita! Kau tidak tahu seberapa mematikan ayahku kalau tahu aku pulang malam! Mati! Seharusnya kita pulang sebelum jam Sembilan, setidaknya ayah tidak terlalu marah. Ini semua salahmu Gabriel, kau minum alcohol kan?! Awas saja jika ayah mencium bau alcoholmu,” Rachel mengangkat tangannya lalu meremuk kedua tangan itu seolah menggambarkan perkataannya “kau akan babak belur, kita akan hancur”
“kau tidak mati, Rise, hanya aku yang akan mati. aku tidak peduli ayahmu seperti apa. aku ingin mengahbiskan waktu denganmu. aku lelaki penurut yang tidak akan membantah apa perintahmu, Rise, jadi aku tidak minum. terakhir, ayo kita selesaikan semuanya”  lantas Gabriel keluar dari mobil dan buru-buru membukakan pintu untuk Rachel. Sial, terkadang Gabriel seakan mempunyai alter ego. Kadang dia bersikap manis semanisnya dan setelah itu dia berubah menjadi ketus. Dia seakan pintar memainkan perilakunya dengan baik. Rachel menerima tangan Gabriel dan Gabriel menggandeng Rachel seakan mereka menuju tempat dimana mereka akan mengucapkan sumpah pernikahan. Tapi sayang sekali itu hanya ada dalam impian mereka berdua. Fakta mengatakan bahwa mereka harus menghadapi ayah Rachel yang mungkin akan berubah menjadi Hulk.
“Ayaaaahh!” Rachel berusaha bersikap riang dan tersenyum tanpa dosa seraya memeluk ayahnya “kenalkan ini Gabriel, dia—“
“pacarmu?!” mendengar nada yang dikelurakan oleh ayah Rachel sontak menghilangkan senyum Gabriel. Seperti biasanya, dia pintar memainkan perilakunya. Jadi senyum yang menghilang tadi di gantikan dengan tingkah manisnya yang menyalami tangan ayah Rachel layaknya menyalami tangan ayahnya sendiri.
“well, ini jam sebelas dan tidak baik anak muda seperti kau berkeliaran di jam tidur, pulanglah” takut ayahnya berubah menjadi Hulk, Rachel mendorong Gabriel untuk pulang lalu masuk dalam rumah bersama ayahnya”
-
9th december 2012 10:58 pm
“kau tidak mati, Rise, hanya aku yang akan mati”
Kosakata yang cukup meyakinkan. Tapi pada dasarnya setiap manusia akan mati. Dan waktunya telah di tentukan. Dan waktu menunjukan bahwa Gabriel harus duluan meninggalkan Rachel sendirian. Membiarkan Rachel bertahan dengan kehampaan karena ketidakhadiran Gabriel. Apakah hanya Rachel atau sepertinya hidup memang tidak adil?
-
9th december 2009 02:15 am
Gabriel tidak benar-benar meninggalkan rumah Rachel. Gabriel sudah bertengger tepat di jendela Rachel membiarkan Rachel sadar sendiri akan kehadirannya dan membuka Jendela. Tapi, sepertinya Rachel tidak menyadari kehadiran Gabriel, apa dia sudah tertidur?
Tentu saja Gabriel tidak akan menyerah lalu kembali ke mobilnya begitu saja. Dia justru berjalan mendekati jendela dan bernyanyi. Suara Gabriel memang ajaib, karena beberapa detik setelahnya dia melihat siluet tubuh Rachel di balik jendela yang melangkah ke tempat dia berdiri.
“astaga Gabriel!” seketika rasa kantuk Rachel hilang dan buru-buru membuka pintu jendelanya membiarkan Gabriel masuk. Bisa mati jika ayahnya sedang iseng keluar dan menemukan sosok Gabriel di jendela kamarnya. “apa yang kau lakukan? Kau tidak takut ada ayahku?”
“tidak”
“terserah, sejak kapan kau disini?”
“sejak aku menyalami ayahmu dan ayahmu mengusirku dari depan rumahnya jadi aku menyelinap ke sini” ujar Gabriel santai
“kau—“ Gabriel tidak memberikan kesempatan Rachel menyelesaikan perkataannya lantas menutup jendela kamar Rachel seraya menghembuskan nafasnya di kaca itu dan menulis ‘good night!’ lalu melompat dari jendela menuju mobilnya.
-
10th december 2012 11:58 am
Rachel turun dari pesawat yang ditumpanginya. Di sinilah dia berada, New York. Negara yang menerima Gabriel sebagai mahasiswa di universitasnya, Juliard. Negara yang memisahkan jaraknya dengan Gabriel, negara tempat Gabriel dimakamkan.
Negara tempat Gabriel di bunuh.
Rachel berjalan menelusuri tempat pemakaman umum di sini dan sampai pada makam Gabriel. Seakan dia bisa merasakan betapa sakitnya ketika Gabriel di bunuh. Seakan dia merasakan sakitnya keadaan Gabriel di dalam kubur ini.
Seakan ia ingin menggali kuburan ini dan menimbunnya lagi dengan dia dan Gabriel berada di dalamnya.
Rachel tidak keberatan dengan itu, tapi batinnya melarang lagi, dan Rachel masih mengingat ucapan Gabriel
mati tidak seindah yang kau bayangkan”
Kalau begitu kenapa dia mati? Kenapa dia mati padahal dia tahu itu tidak menyenangkan?
Rachel membuang nafasnya seakan ingin membuang pikirannya tadi. Sekarang Rachel hanya membayangkan Gabriel tidak mati. Gabriel hanya tertidur sebentar hingga masa abadinya datang dan bertemu dengan Rachel dan hidup bersama kembali dengan Rachel.
“Rachel?” Rachel menoleh kebelakang, itu salah satu teman SHS Gabriel dan Rachel sekaligus teman Gabriel di Juliard
“ya, Josh”
“kau disini? Kapan kau datang?”
“baru saja” Rachel tersenyum singkat dan memegang tas kopernya, seakan memberi penjelasan pada Josh bahwa dia baru datang dan langsung ke makam Gabriel “menurutmu, kabar Gabriel di sana bagaimana, ya? Bagaimana rasanya di kubur dan di kunci di peti mati, apakah dia bisa bernafas? Atau justru sulit bernafas?”
“Rachel—“
“rasanya aku ingin menggali kuburan ini. Aku penasaran bagaimana wajah Gabriel setelah di kubur selama tiga tahun. Apakah dia tetap tampan? Atau wajahnya berlumur tanah dan kulitnya berubah menjadi hitam? Atau kulitnya penuh luka karena cacing tanah dan bangsa binatang lainnya menyantap wajah Gabriel, ah kuharap wajahnya tetap seperti Gabriel tiga tahun yang lalu, tapi—“
“Rachel!”
“hm?!” Rachel hanya menggumam seakan apa yang diucapkannya tidak ada kesalahan. Cukup. Rachel tidak tahan menjadi orang idiot dan bertingkah seakan Gabriel masih utuh di bawah sana.
“bisa kupinjam bahumu?” tanpa balasan dari Josh, Rachel langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Josh. Tapi tak ada gunanya. Hanya Gabriel yang bisa memulihkan kondisinya. Bukan bahu orang lain.
“well.. terimakasih. Mungkin aku harus pergi”
“pergi? Kemana?”
“entah” Rachel meneruskan jalannya tanpa melihat raut wajah Joshyang bingung “jangan cemas, Josh. Aku baik-baik saja” ucapnya dan melanjutkan jalannya lagi ketempat yang tidak dikenalinya ini.
-
11th december 2012 1:58 am
Rachel tidak bisa tidur, maka dia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar dari hotel yang di sewanya. Mungkin dia bisa menemukan pembunuh Gabriel dan berharap bisa membunuhnya balik. Atau justru Rachel yang dibunuh?
Mungkin iya, dan Rachel tidak masalah dia dibunuh di tempat ini atau apa. Justru itu bagus karena dia akan dimakamkan di negara yang sama dengan Gabriel.
Badai salju datang lagi, sialnya Rachel lupa membawa jaket tebal. Ia hanya memakai kaus tipis dengan celana pendek. Seakan ingin menantang kematian. Rachel tidak akan bisa bertahan lama di jalanan ini. Karena, sekali lagi, Rachel mengidap Hipotermia.
Namun Rachel tetap memaksakan diri, ia tetap berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh salju. Tanpa mempedulikan penyakitnya. Tanpa mempedulikan pakaian yang dikenakannya. Bibir Rachel bergetar dan makin membiru. Ia tetap menahan suhu dingin disini meski langkahnya tersaruk-saruk dan tertahan. Rachel memeluk tubuhnya sendiri agar memberikan sedikit kehangatan pada tubuhnya. Rasanya Rachel ingin menangis, tapi ia menahannya. Ia tetap menahan suhu dingin di jalanan ini.
Hadapi kelemahanmu
Benar. Hadapi kelemahanmu. Maka Rachel akan menghadapi suhu dingin ini. Tapi dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, ia justru terjatuh ditumpukan salju. Dia telah kalah. Rachel kalah menghadapi kelemahannya. Rachel dikalahkan oleh penyakitnya sendiri. Dingin tetap menerjang tubuhnya membuat  badannya gemetar, tiba-tiba matanya kabur.
“Rachel,” suara lembut itu membuka mata Rachel perlahan. Suara yang selama ini ia rindukan, kini bersimpuh di depannya dengan senyuman yang mendamaikan raganya.
“Gabriel… dingin..”
“lihat aku, Rise, kau tidak akan kedinginan” Rachel mendengarkan perintah Gabriel, maka Rachel menatap Gabriel dan seketika rasa dingin yang menerjangnya tadi pergi entah kemana, kini yang ada di hadapannya bukan lagi salju ataupun langit yang gelap. Ia tidak lagi dikelilingi salju sialan itu, dihadapannya kini terpampang taman dengan berbagai bunga dan aroma yang menyegarkan paru-parunya. Seakan Gabriel merubah musim salju tadi dengan musim semi melalui tatapannya pada Rachel
“masih merasakan dingin, Rise?”
Rachel berdiri termangu. Apakah ini nyata? Di hadapannya adalah sosok Gabriel, benar-benar Gabriel. Ragu-ragu ia menyentuh pipi Gabriel. Rachel harap ini bukan sekedar mimpi seperti yang di alaminya. Tapi memang tidak! Dia berhasil menyentuh Gabriel! Dia tidak lagi merasakan dingin! Suasana disini sangat damai.
our eternity begins now” Gabriel berbisik dengan senyumnya, merengkuh tubuh Rachel, mengangkat tubuh Rachel ke atas di tengah padang bunga yang damai ini. Rachel telah menemukan kehidpuan kekalnya
our eternity begins now” Rachel balik berbisik dibalik matanya yang basah.

Keabadian. Ialah segalanya dari apapun di kehidupan ini.

--
 


BY THE WAYY SORRY FOR THE TYPO(S). cerita ini sering banget aku edit, awalnya ini nama2 castnya Justin dan Clarissa, tapi aku ubah soalnya yahh ngerasa justin gacocok aja gituu dan cerita ini juga sering diedit alurnya, maklum, ini dibikin pas smp jadi ga jelas gituh:( jadi maaf kalau ada kesalahan nama, ketidakmasuk akalan cerita/halah/, dan alur yang jadi acak-acakan hehe:(
DAANN HAHAHAHJ MAAF KALO MASIH ADA SALAH TANGGAL DAN BULANNYAA HAHAH sumpah diriku dahulu sangatlah bego bikin latar musim dingin tapi latar waktunya juli ALANGKAH BEGONYA QKQKWKKWWKK tapi udah di ubah kok itu, cuma kadang mataku suka error jd mungkin ada yg kelupaan huehe
Dan aku gaubah apapun dicerita ini lagi. Bodo amat mau jelek atau alurnya ganyambung.
Mistake make us perfect broh

1 komentar: