-
8th december 2012 1:58 am
Jam 1:50 am. Seharusnya Rachel tidur. Seharusnya dia tidak memikirkan
kenangan itu. Seharusnya dia tidak memikirkan cinta terakhirnya. Seharusnya dia tidur dan bertemu dengan Gabriel
di dalam mimpi seperti malam biasanya.
Tapi
tidak bisa.
Benaknya bersikeras untuk tetap terjaga
malam ini. Tidak seharusnya dia tidur di malam ini. Tidak. Dia hanya ingin
memandangi langit-langit kamar, membiarkan bayangan akan masa-masanya dengan Gabriel
terputar seperti seseorang mendapatkan kaset rekaman masa lalunya dan
memutarnya.
-
8th december 2009 1:58 am
“ha!
Terimakasih atas bantuanmu yang membuatku tidak bisa tidur, lagi. Gabriel.”
Seperti biasanya, Gabriel
selalu mengendap-endap kerumah Rachel, menyelinap ke kamarnya lewat jendela dan menghabiskan malam mereka
berdua. Sayang sekali waktunya tidak tepat, Rachel sudah tidur ketika Gabriel
membangunkannya dan sekarang rasa kantuknya menghilang.
“yaaaaa!
Terimakasih sekali. Dan kau harus tahu bahwa besok ujian al-ja-bar.
Terimakasih, pengganggu” Rachel mengeja kata aljabar dengan penuh
penekananseolah Gabriel anak balita yang tidak pernah merasakan sekolah
“calm
down Rise, aku janji ini terakhir kalinya aku mengganggumu.”
-
Benar. Itulah pertama kali dia
mengganggu Rachel, untuk selamanya.
Tanpa
sadar kedua matanya telah membentuk aliran sungai deras dan tidak bisa berhenti
mengalir. Inikah keinginan Gabriel? Membuat sisa hidupnya makin buruk setelah
masa-masa menyenangkan yang dia berikan untuk Rachel? Cukup adil, bukan?
Dibalik kebahagiaan yang berlebihan akan datang kesedihan yang berlarut. Adil.
Sangat adil.
Kalau begitu, kenapa Gabriel harus
menghabiskan masa-masa bahagianya dengan Rachel tanpa tersisa dan ketika masa
itu habis dia memberikan kesedihan? Kenapa Gabriel harus menghabiskannya? Kenapa?
Sampai kapanpun ini tidak akan adil. Bagi Rachel. Dan mungkin juga untuk Gabriel.
-
“mau
kunyanyikan sesuatu?”
“tentu saja, karena itulah tugasmu, Bizzle”
“ya..
ya.. karena mungkin ini terakhir kalinya aku memamerkan suara indah ku padamu.
Jadi, aku akan tetap berada disini bernyanyi sampai kau tidur”
“aku
tidak akan tidur. Selamat bernyanyi sampai suaramu yang indah itu habis, Tuan.”
Ini
yang disukai Rachel dari Gabriel sekaligus hal yang membuatnya kesal. Suaranya.
Suara merdu itu seakan ada sihir yang membuat hatinya tenang, bahkan
menghilangkan rasa kesalnya pada Gabriel.suara
merdu bak nyanyian gereja itu..
-
Rachel membenci apapun tentang
‘terakhir’ dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan Gabriel. Selamanya. Tanpa
kata akhir.
Rachel tahu, Gabriel akan selamanya
menjadi yang terakhir untuknya . dia juga tahu bahwa tidak ada yang
dibutuhkannya di dunia ini selain laki-laki itu. Rachel akan menanti akhir masa
hidupnya agar bisa bertemu dengan Gabriel.
Percayalah, Rachel tidak membutuhkan
lelaki lain selama lelaki itu bukan Gabriel Jefferson. Dia akan menjaga dirinya
hanya untuk Gabriel. Menjaga hingga pada masanya dia akan menemui Gabriel di
Surga.
-
9th december 2012 10:58 am
Rachel berjalan menyusuri jalan yang
basah bekas hujan dan sekarang salju mulai berhamburan turun ke bumi, memeluk
badannya sendiri. Harusnya hari ini dia menghabiskan waktunya dengan Gabriel di
musim salju, saling melempar bola salju atau membuat snowman, harusnya begitu. Harusnya Gabriel memarahinya karena dia
keluar rumah di saat badai salju yang menimbun jalan sekitar dan bisa saja
menerbangkan Rachel karena badannya yang semakin lama semakin kurus. Gabriel
memang marah, sampai sekarang walaupun dia tidak berada di sisi Rachel tetap
saja Rachel merasakan bahwa Gabriel marah sekarang, hal itu tergambar di
langit. Rachel tahu itu. Setiap harinya setelah Gabriel meninggalkannya ia
tetap merasakan Gabriel mengawasinya di atas langit.
Cuaca hari ini sangat dingin. Rachel
mengidap Hipotermia yang artinya dia sedang menantang kematian. Atau meminta
Tuhan mencabut nyawanya sekarang juga. Yang ada di otaknya hanyalah bagaimana
caranya dia bisa melihat Gabriel secara langsung. Bukan di mimpi ataupun
sekedar bayangan. Gabriel. Yang ada dalam otaknya tiga tahun belakangan ini, Gabriel.
-
9th december 2009 10:58 am
Rachel
berlari membelah antrian para penumpang pesawat. Tidak mempedulikan mereka yang
di tabraknya menggerutu. Yang ada di benaknya adalah beberapa menit lagi
pesawat Gabriel akan terbang meninggalkannya dan dia tidak bisa bertemu dengan Gabriel
untuk waktu yang lama.
“GABRIEL!!!!”
Rachel tetap berlari lalu menahan tangan Gabriel yang akan memasuki gerbang
yang akan mengantarkannya kedalam
pesawat.
“kupikir
kau tidak akan datang,Rise”
“kau
pikir aku gila?!” Rachel mendengus dan menghentakkan genggaman tangannya pada Gabriel
“pertama, kenapa kau tidak mengatakannya kemarin bahwa kau akan pergi? Kedua,
kenapa kau mendapatkan beasiswa Juliard itu sedangkan aku tidak? Ketiga, kenapa
kau harus meninggalkan pesan lewat surat? Kau kira ini tahun apa?! Dan keempat,jangan
tinggalkan a..aku”
“pertama,
aku ingin memberi kejutan padamu, kukira kau tidak akan menyusul kemari dan dua
tahun berikutnya aku akan berada di depan rumahmu membawamu ke altar. Kedua,
kau tidak ikut tes akhir waktu itu, dear, ketiga, karena aku ingin memberimu
kenangan selama aku di Juliard, setidaknya surat itu nantinya akan kau pajang
dikamarmu, dan terakhir, tunggu aku. aku akan datang ke rumahmu dengan bunga
bertebaran di halaman rumahmu beserta orang-orang yang mendatangi pesta
pernikahan kita. Pastikan kau tetap berada di rumah, Rachel Emily Kristeva”.
Tidak tahu apa yang harus ia katakan, Rachel memeluk Gabriel erat. Sangat erat,
seakan tidak mau membiarkannya pergi. Rachel bisa merasakan detak jantung Gabriel
yang kencang bak akan keluar dari tempatnya menembus kaus Gabriel. Mungkin
detak jantungnya juga begitu.
-
Dia selalu berada di rumah. Selalu. Dan
nyatanya, Gabriel tidak datang. Dia tidak akan datang.
Rachel masih menyimpan surat yang di
berikan Gabriel tiga tahun yang lalu. Surat itu tetap utuh. Tak ada sedikitpun
pertanda bahwa surat ini telah berumur tiga tahun. Seakan surat ini baru
kemarin Gabriel berikan. Seakan baru kemarin dia memeluk Gabriel. Seakan baru
kemarin ia berlarian ke bandara mengejar Gabriel.
Seakan baru kemarin ia menerima kabar Gabriel
tewas di bunuh manusia kehilangan otak di sana.
-
9th december 2012 12:58 am
Rachel duduk di lantai kamar Gabriel,
memakai baju Gabriel yang pernah dipakai Gabriel bersamanya. Memeluk baju itu
erat.
Anggap
saja ini Gabriel. Anggap dia sedang memeluk laki-laki itu.
Batinnya terus berseru untuk memeluk
baju itu, memeluknya seperti halnya dia memeluk Gabriel. Ini tidak sulit karena
aroma Gabriel yang tertinggal di baju itu, membuatnya dapat berpura-pura sedang
memeluk Gabriel. Memeluk tanpa di peluk. Setidaknya beginilah cara yang
dilakukannya ketika merindukan Gabriel. Sayang sekali Rachel tidak tahu apa
yang dilakukan Gabriel jika Gabriel merindukannya.
Atau Gabriel tidak merindukannya?
Apa dia telah menemukan wanita baru di
surga?
Tidak.
Rachel. Kau-lah yang terakhir bagi Gabriel.
Menurut batin Rachel memang begitu, tapi
bagaimana dia akan percaya? Selama ini Rachel tidak pernah mengikuti kata
batinnya. Dan, apa yang dilakukan Gabriel saat ini?
Dia
memperhatikanmu. Dia selalu memperhatikanmu dari alam sana. Dengan begitu dia
bisa mengobati rasa rindunya dan bersabar hingga waktunya datang.
Berarti
Gabriel menungguku mati?
Maka itulah yang akan dilakukan Rachel.
“Rise,” Rachel tersentak dan menjatuhkan
pisau yang diambilnya “kau tidak akan bunuh diri kan?”
“Gabriel..”
“jangan lakukan itu. Rachel. Jangan
pernah. Mati tidak sebagus yang kau bayangkan. Juga, kau bisa melihatku
sekarang bukan? Obatilah rasa rindumu itu” sontak Rachel berlari memeluk Gabriel.
Dan sekali lagi, hampa. Dia tidak memeluk Gabriel. Dia hanya memeluk bayangan
tak kasat mata.
“sampai jumpa”
Setidaknya ini sedikit mengobati rasa rindu Rachel pada Gabriel. Sedikit. Sangat
sedikit.
-
9th december 2012 06:58 pm
Ya. Gabriel berhasil menjadi cinta
terakhir Rachel.
Gabriel
juga berhasil membuat dirinya menjadi yang terakhir bagi Rachel. Seperti Gabriel
yang menjadikan Rachel milik terakhirnya.
Gabriel berhasil pula membuat Rachel
tidak ingin mencari pengganti lain.
Gabriel
berhasil juga menjadikan Rachel yang terakhir baginya. Begitu pula Rachel.
Selama ini Rachel tidak pernah
memikirkan ada kata terakhir antara dia dan Gabriel, apalagi memikirkan
hubungannya dengan Gabriel berakhir.
Kita
belum berakhir, Rise. Belum. Dan tidak akan pernah.
Itu… suara Gabriel.. Rachel yakin itu
suara Gabriel. Rachel berputar mengelilingi kamar Gabriel berharap dapat
melihat sosok Gabriel yang akan memeluknya erat.
Harapan
yang tidak akan pernah di kabulkan.
-
9th december 2009 08:58 pm
“ada
apa di rumahmu, Gabriel?
“kau
masih bertanya ‘ada apa’? tentu saja, pesta!”
“Gabriel”
Rachel memutar bola matanya, ini sudah yang kesekian kalinya Gabriel mengadakan
pesta di rumahnya ketika orang tuanya pergi. Tentu saja tidak ada
alcohol,heroin atu barang haram lainnya. Itu semua karena larangan tegas Rachel
dan ajaibnya Gabriel menuruti perintah wanita ini.
“tenangkan
dirimu. Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji ini terakhir kalinya aku
mengadakan pesta,Rise” sejurus kemudian Gabriel menarik tangan Rachel untuk
berdansa.
“aku
tidak bisa--”
“sekali
saja, Rise, Sekali ini saja” dan tatapan memohon itu berhasil mencairkan Rachel
-
9th december 2012 08:58 pm
Rachel benci apapun yang berhubungan
dengan ‘terakhir’ ini membuatnya frustasi. Kenapa dia tidak menyadari
sebelumnya? Seharusnya dia sadar itu kenangan terakhir yang bisa di berikan
oleh Gabriel dengan begitu dia akan ikut ke Juliard. Menghindari Gabriel dari
peristiwa pembunuhan itu.
Dan sekarang Rachel menginginkan momen
pesta itu kembali . ingin rasanya ia
menghentikan kata ‘terakhir’ ataupun ‘sekali saja’ keluar dari mulut laki-laki
itu. sekarang, yang dia tahu hanyalah dia ingin laki-laki itu kembali.
Cukup jauh jarak yang Rachel tempuh
dengan Gabriel. Rachel benci mengatakan ini, tapi dia merindukan Gabriel
selalu. Jauh di dalam hatinya. Selalu saja ada wajah Gabriel yang menghiasi
kehidupannya setelah Gabriel meninggalkannya walau Rachel akui, ia senang
seakan Gabriel masih berada di sisinya.
Walaupun kenyataan berkata tidak.
Gabriel sudah jauh di sana. Dia telah
menemukan kehidupan kekalnya. Sekarang hanya menunggu giliran Rachel.
Kapan
aku menemukan kehidupan abadiku? Kapan aku mati?
Sampai sekarang Gabriel tetap menjadi
penghuni hatinya. Dan Rachel hanya ingin Gabriel yang tetap berada di hatinya. Rachel
ingin dirinya tetap berada dalam hati Gabriel. Rachel ingin selalu bersama Gabriel.
Paling tidak, bisakah dia dan Gabriel
bersama, selamanya?
Kenyataannya. Sekarang raga Gabriel
tidak bersama Rachel. Rachel bisa merasakan adanya Gabriel di sekitarnya tapi
tetap saja, Gabriel tidak ada di sini. Namun dalam lamunan Rachel selalu saja
ada wajah Gabriel yang menghiasinya. Selalu lelaki itu.
Semua
tentangnya.
-
9th december 2009 10:58 pm
“mati
kau! Mati kita! Kau tidak tahu seberapa mematikan ayahku kalau tahu aku pulang
malam! Mati! Seharusnya kita pulang sebelum jam Sembilan, setidaknya ayah tidak
terlalu marah. Ini semua salahmu Gabriel, kau minum alcohol kan?! Awas saja
jika ayah mencium bau alcoholmu,” Rachel mengangkat tangannya lalu meremuk
kedua tangan itu seolah menggambarkan perkataannya “kau akan babak belur, kita
akan hancur”
“kau
tidak mati, Rise, hanya aku yang akan mati. aku tidak peduli ayahmu seperti
apa. aku ingin mengahbiskan waktu denganmu. aku lelaki penurut yang tidak akan
membantah apa perintahmu, Rise, jadi aku tidak minum. terakhir, ayo kita
selesaikan semuanya” lantas Gabriel
keluar dari mobil dan buru-buru membukakan pintu untuk Rachel. Sial, terkadang Gabriel
seakan mempunyai alter ego. Kadang dia bersikap manis semanisnya dan setelah
itu dia berubah menjadi ketus. Dia seakan pintar memainkan perilakunya dengan
baik. Rachel menerima tangan Gabriel dan Gabriel menggandeng Rachel seakan
mereka menuju tempat dimana mereka akan mengucapkan sumpah pernikahan. Tapi sayang
sekali itu hanya ada dalam impian mereka berdua. Fakta mengatakan bahwa mereka
harus menghadapi ayah Rachel yang mungkin akan berubah menjadi Hulk.
“Ayaaaahh!”
Rachel berusaha bersikap riang dan tersenyum tanpa dosa seraya memeluk ayahnya
“kenalkan ini Gabriel, dia—“
“pacarmu?!”
mendengar nada yang dikelurakan oleh ayah Rachel sontak menghilangkan senyum Gabriel.
Seperti biasanya, dia pintar memainkan perilakunya. Jadi senyum yang menghilang
tadi di gantikan dengan tingkah manisnya yang menyalami tangan ayah Rachel
layaknya menyalami tangan ayahnya sendiri.
“well,
ini jam sebelas dan tidak baik anak muda seperti kau berkeliaran di jam tidur,
pulanglah” takut ayahnya berubah menjadi Hulk, Rachel mendorong Gabriel untuk
pulang lalu masuk dalam rumah bersama ayahnya”
-
9th december 2012 10:58 pm
“kau
tidak mati, Rise, hanya aku yang akan mati”
Kosakata yang cukup meyakinkan. Tapi
pada dasarnya setiap manusia akan mati. Dan waktunya telah di tentukan. Dan
waktu menunjukan bahwa Gabriel harus duluan meninggalkan Rachel sendirian.
Membiarkan Rachel bertahan dengan kehampaan karena ketidakhadiran Gabriel.
Apakah hanya Rachel atau sepertinya hidup memang tidak adil?
-
9th december 2009 02:15 am
Gabriel
tidak benar-benar meninggalkan rumah Rachel. Gabriel sudah bertengger tepat di
jendela Rachel membiarkan Rachel sadar sendiri akan kehadirannya dan membuka
Jendela. Tapi, sepertinya Rachel tidak menyadari kehadiran Gabriel, apa dia
sudah tertidur?
Tentu saja Gabriel
tidak akan menyerah lalu kembali ke mobilnya begitu saja. Dia justru berjalan
mendekati jendela dan bernyanyi. Suara Gabriel memang ajaib, karena beberapa
detik setelahnya dia melihat siluet tubuh Rachel di balik jendela yang
melangkah ke tempat dia berdiri.
“astaga
Gabriel!” seketika rasa kantuk Rachel hilang dan buru-buru membuka pintu
jendelanya membiarkan Gabriel masuk. Bisa mati jika ayahnya sedang iseng keluar
dan menemukan sosok Gabriel di jendela kamarnya. “apa yang kau lakukan? Kau
tidak takut ada ayahku?”
“tidak”
“terserah,
sejak kapan kau disini?”
“sejak
aku menyalami ayahmu dan ayahmu mengusirku dari depan rumahnya jadi aku
menyelinap ke sini” ujar Gabriel santai
“kau—“
Gabriel tidak memberikan kesempatan Rachel menyelesaikan perkataannya lantas
menutup jendela kamar Rachel seraya menghembuskan nafasnya di kaca itu dan
menulis ‘good night!’ lalu melompat dari jendela menuju mobilnya.
-
10th december 2012 11:58 am
Rachel turun dari pesawat yang ditumpanginya.
Di sinilah dia berada, New York. Negara yang menerima Gabriel sebagai mahasiswa
di universitasnya, Juliard. Negara yang memisahkan jaraknya dengan Gabriel,
negara tempat Gabriel dimakamkan.
Negara tempat Gabriel di bunuh.
Rachel berjalan menelusuri tempat
pemakaman umum di sini dan sampai pada makam Gabriel. Seakan dia bisa merasakan
betapa sakitnya ketika Gabriel di bunuh. Seakan dia merasakan sakitnya keadaan Gabriel
di dalam kubur ini.
Seakan ia ingin menggali kuburan ini dan
menimbunnya lagi dengan dia dan Gabriel berada di dalamnya.
Rachel tidak keberatan dengan itu, tapi
batinnya melarang lagi, dan Rachel masih mengingat ucapan Gabriel
“mati
tidak seindah yang kau bayangkan”
Kalau begitu kenapa dia mati? Kenapa dia
mati padahal dia tahu itu tidak menyenangkan?
Rachel membuang nafasnya seakan ingin
membuang pikirannya tadi. Sekarang Rachel hanya membayangkan Gabriel tidak
mati. Gabriel hanya tertidur sebentar hingga masa abadinya datang dan bertemu
dengan Rachel dan hidup bersama kembali dengan Rachel.
“Rachel?” Rachel menoleh kebelakang, itu
salah satu teman SHS Gabriel dan Rachel sekaligus teman Gabriel di Juliard
“ya, Josh”
“kau disini? Kapan kau datang?”
“baru saja” Rachel tersenyum singkat dan
memegang tas kopernya, seakan memberi penjelasan pada Josh bahwa dia baru
datang dan langsung ke makam Gabriel “menurutmu, kabar Gabriel di sana
bagaimana, ya? Bagaimana rasanya di kubur dan di kunci di peti mati, apakah dia
bisa bernafas? Atau justru sulit bernafas?”
“Rachel—“
“rasanya aku ingin menggali kuburan ini.
Aku penasaran bagaimana wajah Gabriel setelah di kubur selama tiga tahun.
Apakah dia tetap tampan? Atau wajahnya berlumur tanah dan kulitnya berubah
menjadi hitam? Atau kulitnya penuh luka karena cacing tanah dan bangsa binatang
lainnya menyantap wajah Gabriel, ah kuharap wajahnya tetap seperti Gabriel tiga
tahun yang lalu, tapi—“
“Rachel!”
“hm?!” Rachel hanya menggumam seakan apa
yang diucapkannya tidak ada kesalahan. Cukup. Rachel tidak tahan menjadi orang
idiot dan bertingkah seakan Gabriel masih utuh di bawah sana.
“bisa kupinjam bahumu?” tanpa balasan
dari Josh, Rachel langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Josh. Tapi tak ada
gunanya. Hanya Gabriel yang bisa memulihkan kondisinya. Bukan bahu orang lain.
“well.. terimakasih. Mungkin aku harus
pergi”
“pergi? Kemana?”
“entah” Rachel meneruskan jalannya tanpa
melihat raut wajah Joshyang bingung “jangan cemas, Josh. Aku baik-baik saja”
ucapnya dan melanjutkan jalannya lagi ketempat yang tidak dikenalinya ini.
-
11th december 2012 1:58 am
Rachel tidak bisa tidur, maka dia
memutuskan untuk berjalan-jalan keluar dari hotel yang di sewanya. Mungkin dia
bisa menemukan pembunuh Gabriel dan berharap bisa membunuhnya balik. Atau justru Rachel yang dibunuh?
Mungkin iya, dan Rachel tidak masalah
dia dibunuh di tempat ini atau apa. Justru itu bagus karena dia akan dimakamkan
di negara yang sama dengan Gabriel.
Badai salju datang lagi, sialnya Rachel
lupa membawa jaket tebal. Ia hanya memakai kaus tipis dengan celana pendek.
Seakan ingin menantang kematian. Rachel tidak akan bisa bertahan lama di
jalanan ini. Karena, sekali lagi, Rachel mengidap Hipotermia.
Namun Rachel tetap memaksakan diri, ia
tetap berjalan menyusuri jalanan yang dipenuhi oleh salju. Tanpa mempedulikan
penyakitnya. Tanpa mempedulikan pakaian yang dikenakannya. Bibir Rachel
bergetar dan makin membiru. Ia tetap menahan suhu dingin disini meski
langkahnya tersaruk-saruk dan tertahan. Rachel memeluk tubuhnya sendiri agar memberikan
sedikit kehangatan pada tubuhnya. Rasanya Rachel ingin menangis, tapi ia
menahannya. Ia tetap menahan suhu dingin di jalanan ini.
Hadapi
kelemahanmu
Benar. Hadapi kelemahanmu. Maka Rachel
akan menghadapi suhu dingin ini. Tapi dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi,
ia justru terjatuh ditumpukan salju. Dia telah kalah. Rachel kalah menghadapi kelemahannya.
Rachel dikalahkan oleh penyakitnya sendiri. Dingin tetap menerjang tubuhnya
membuat badannya gemetar, tiba-tiba
matanya kabur.
“Rachel,” suara lembut itu membuka mata Rachel
perlahan. Suara yang selama ini ia rindukan, kini bersimpuh di depannya dengan
senyuman yang mendamaikan raganya.
“Gabriel… dingin..”
“lihat
aku, Rise, kau tidak akan kedinginan” Rachel mendengarkan perintah Gabriel,
maka Rachel menatap Gabriel dan seketika rasa dingin yang menerjangnya tadi pergi
entah kemana, kini yang ada di hadapannya bukan lagi salju ataupun langit yang
gelap. Ia tidak lagi dikelilingi salju sialan itu, dihadapannya kini terpampang
taman dengan berbagai bunga dan aroma yang menyegarkan paru-parunya. Seakan Gabriel
merubah musim salju tadi dengan musim semi melalui tatapannya pada Rachel
“masih
merasakan dingin, Rise?”
Rachel berdiri termangu. Apakah ini
nyata? Di hadapannya adalah sosok Gabriel, benar-benar Gabriel. Ragu-ragu ia
menyentuh pipi Gabriel. Rachel harap ini bukan sekedar mimpi seperti yang di
alaminya. Tapi memang tidak! Dia berhasil menyentuh Gabriel! Dia tidak lagi
merasakan dingin! Suasana disini sangat damai.
“our
eternity begins now” Gabriel berbisik dengan senyumnya, merengkuh tubuh Rachel,
mengangkat tubuh Rachel ke atas di tengah padang bunga yang damai ini. Rachel
telah menemukan kehidpuan kekalnya
“our
eternity begins now” Rachel balik berbisik dibalik matanya yang basah.
Keabadian.
Ialah segalanya dari apapun di kehidupan ini.
--
BY THE WAYY SORRY FOR THE TYPO(S). cerita ini sering banget aku edit, awalnya ini nama2 castnya Justin dan Clarissa, tapi aku ubah soalnya yahh ngerasa justin gacocok aja gituu dan cerita ini juga sering diedit alurnya, maklum, ini dibikin pas smp jadi ga jelas gituh:( jadi maaf kalau ada kesalahan nama, ketidakmasuk akalan cerita/halah/, dan alur yang jadi acak-acakan hehe:(
DAANN HAHAHAHJ MAAF KALO MASIH ADA SALAH TANGGAL DAN BULANNYAA HAHAH sumpah diriku dahulu sangatlah bego bikin latar musim dingin tapi latar waktunya juli ALANGKAH BEGONYA QKQKWKKWWKK tapi udah di ubah kok itu, cuma kadang mataku suka error jd mungkin ada yg kelupaan huehe
Dan aku gaubah apapun dicerita ini lagi. Bodo amat mau jelek atau alurnya ganyambung.
Mistake make us perfect broh
keren tull :v buek an den cerpen aaa ahaha
BalasHapus