---
one two three one two
three DRINK!
Gadis
penyenang. Gadis tanpa rasa malu. Sang pemberi kesenangan.
Gadis
dengan gelar banyak yang tidak perlu kusebutkan, memindahkan isi bir dalam
gelas itu kedalam mulut murahannya. Seraya menghitung satu, dua, tiga dan
berteriak hingga seseorang yang mengerti jeritannya itu berlari dengan botol
bir yang lebih banyak lagi untuk gadis ini.
Ini
tidak menyakitkan. Ini tidak melukai, sungguh. Bahkan ini dapat memberinya dua
manfaat; materi dan nafsu setannya. Dua hal sialan ini dapat terpenuhi dengan
kegiatan rutinnya ini. Tidak menyakitkan, kan?
“where is your ear?! I said MORE!”
“tapi
maaf, miss. Kau belum membayar bir sebelumnya. Dan ini sudah bir yang ke enam
sembilan” sial. Dia selalu lupa—atau mungkin sengaja melupakan untuk membayar
anggur sialan ini
“dan
lalu?! Aku harus berhenti untuk meminumnnya? Then, eat my lips” tanpa menunggu reaksi orang di depannnya.
Langsung saja dia tekan wajahnya dengan wajah laki-laki yang bahkan tidak
dikenalinya itu. terus hingga bibir itu menyatu layaknya telah di beri pelekat.
Laki-laki itu tanpa pikir panjang memeluk gadis di depannya dan membawanya pada
tempat dimana mereka lebih leluasa melakukan apapun.
Sudah
kubilang. Dialah Gadis pemberi kesenangan.
Phone's blowin' up, ringin' a doorbell, I feel the love, feel the love
Empat jam berlalu. Dia terbangun
dengan tubuh polosnya. Beranjak dari tempatnya, memakai pakaiannya dan mencari
celana laki-laki itu. mengambil banyak lembaran uang dari dalam dompet yang
berada di celana laki-laki itu. dan menyisakannya untuk bayaran birnya. Bayaran
bir dengan uang pelayan bar itu sendiri.
Ia menundukkan dan menempelkan
wajahnya pada wajah laki-laki itu dengan memberi ucapan perpisahan yang
terakhir;
“thanks
for your body and money, honey”
Berjalan melenggang menyusuri jalan
pada dini hari memang tidak baik untuk gadis baik-baik. Sayang sekali, dia
bukan gadis yang baik-baik. Maka, dia berjalan sembari berfikir dimana tempat yang
dapat membuatnya bekerja
Seakan dewa Fortuna sangat setia menolongnya. Telepon genggamnya berbunyi
dan menampilkan banyak pesan dari rekan
kerjanya. Sekitar tiga belas orang meminta untuk didatangi. Orang yang ia butuhkan saat ini ialah laki-laki yang kaya, lajang serta rumah besar nan kosong karena
ia akan bekerja hingga pagi dan dia butuh rumah yang hanya berisi satu orang.
Gotcha
Dengan hitungan detik dia menemukan
laki-laki yang sesuai dengan kriterianya dan segera berjalan menuju rumah rekan
kerjanya kali ini.
Dia terus berjalan tanpa berfikir
baik buruknya yang dilakukannya ini. Terus bertahan demi hidupnya di hari esok.
Meskipun selama ini dia menjalani hidupna seolah tiada hari esok. Terus bertahan, tanpa melihat
kebelakang. Tanpa memikirkan apa yang dilakukannya. Dia menutup matanya erat.
Tidak akan membuka hanya untuk berfikir. Mata ini hanya terbuka untuk apapun yang memenuhi nafsunya. Hal yang membuatnya bertahan hidup.
Menderingkan pintu rumah laki-laki
ini, dia siap untuk menghadapi kesenangan selanjutnya. Dia akan berayun dari
tiap lampu gantung ke lampu gantung lainnya. menghampiri satu dan yang lainnya, karena inilah yang dibutuhkannya. Untuk keberlangsungan hidupnya
Here comes the shame, comes the shame
Pada akhirnya ia terbangun atas
berkat sinar matahari. Seperti biasanya dia kacau, seperti biasanya dia harus
berlari dari sini. Dia harus kabur dari tempat ini. Seperti biasanya rasa malu
datang atas tindakannya semalam. Namun, tidak seperti biasanya, dia tidak jadi
lari dari tempat ini. Dia tidak sadar diri.
Pada kedua kalinya ia terbangun atas
suasana ramai yang asing baginya saat ini. Dan kali ini dia benar-benar kacau;
dia berada di menara eksekusi. Menara untuk mengeksekusi orang seperti dia.
Tubuhnya digantung dengan kedua tangan yang diikat dan sebuah palu raksasa
berada diatas kepalanya. Siap untuk dijatuhkan dan menimpa orang yang dibawanya
“one,
two, three. Done”
Dan dia mati.
Dan kau harus tahu. Bahwa di tiap
malam bukanlah dia yang
mengendalikan tubuhnya. Sosok iblis telah berhasil memasuki tubuhnya, Succubus. Dan bagaimanapun. Hanya inilah cara agar dia terbebas dari
kelakuan iblis sialan itu. dia tenang, iblis itu telah pergi menghinggapi tubuh
gadis lain.
Dia bebas.
Kau juga harus tahu; apapun
perbuatanmu semuanya ada pembalasan terbaik. Apapun itu.
Dan inilah pembalasan terbaik untuk
gadis ini; mati. Dengan itu dia telah bebas
Dan lagi; seburuk apapun
perbuatanmu, kau akan selalu mendapat malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar